Hingga 18 April 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI telah menemukan 554 berita hoax seputar COVID-19 yang beredar di masyarakat. Berita tersebut dimuat dalam 1.209 konten dalam sejumlah platform digital, dengan Facebook sebagai platform yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan berita hoax.

Masih banyaknya hal-hal tentang virus corona yang belum diketahui secara pasti kebenarannya membuat orang mudah percaya dengan informasi apapun terkait penemuan terbaru tentang virus corona maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat di masa pandemi ini. Tidak hanya menimbulkan keresahan, berita hoax tersebut juga dapat membahayakan kesehatan jika informasi “medis” yang disampaikan ternyata hanya rekaan atau dugaan belaka.

Bagaimana cara membedakan berita fakta dan hoax yang beredar di media sosial? Berikut adalah tips dari Dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI dengan penjelasan tambahan dari berbagai sumber. 

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Cara paling sederhana untuk mengetahui benar tidaknya berita hoax adalah dengan melihat judulnya. Judul yang provokatif dan bombastis biasanya bertujuan untuk menarik perhatian, membangkitkan emosi pembaca, hingga tanpa membaca hingga selesai orang sudah “gatal” untuk menyebarkan pada orang lain. Beberapa contoh judul provokatif adalah: 

• Dari Ratusan Ribu Tahanan Tidak Ada Satupun Aktivits Islam yang Dibebaskan di Tengah Wabah COVID-19

• Setya Novanto Dibebaskan Karena COVID-19

• Corona Jihad: Seorang Pedagang Sengaja Meludahi Bungkus Makanan

Mirip dengan judul provokatif, terdapat pula judul yang sifatnya bombastis seperti:

• Virus Corona Dapat Menular Melalui Tatapan Mata

• Obat COVID-19 Telah Ditemukan dan Siap Disebarkan ke Seluruh Indonesia

Pada broadcast message di WhatsApp, berita yang disebarluaskan umumnya biasanya tidak mencantumkan link atau tautan sumber berita. Selain judul provokatif, salah satu cara mengidentifikasi berita hoax adalah format penulisan. Banyak berita hoax yang menggunakan huruf kapital berlebih (tidak sesuai kaidah penulisan berita), begitu juga dengan kalimat cetak tebal. 

2. Cermati alamat situs

Bagi sebagian orang, judul demikian sangat mudah diidentifikasi sebagai berita hoax. Namun, bagi mereka yang jarang mengakses berita, judul provokatif tidak terlihat berbeda dengan judul berita pada umumnya. Karena itu, selain judul, indikator lain yang dapat digunakan adalah alamat situs berupa tautan aktif  yang dicantumkan di akhir berita atau di dalam berita hoax tersebut.

Jika tautan yang dituju tidak dapat dibuka, berarti berita tersebut adalah berita hoax. Jangan terkecoh dengan tautan yang mencantumkan situs berita internasional atau nasional yang kredibel. Pastikan URL atau alamat situsnya memang benar, mengingat ada yang menggunakan nama situs berita namun masih menggunakan domain blog (bukan .com).

3. Periksa fakta

Saat menerima sebuah berita, cari tahu siapa sumbernya, apakah dari institusi resmi atau bukan. Jika hanya narasi saja, Anda patut curiga. Pada kasus pseudoscience, dimana berita yang tersebar mengutip pendapat ilmuwan atau menggunakan penjelasan ilmiah yang meyakinkan, Anda mungkin kesulitan menduga kebenarannya. Solusinya, periksa fakta dengan mengetikkan judul berita tersebut di Google ataupun menggunakan kata kuncinya. Misal, Anda bisa mencari “virus corona menular melalui udara”. Saat daftar berita bertopik sama muncul, pilih situs yang kredibel. Memeriksa fakta di mesin pencari juga bisa diterapkan pada berita hoax non-medis.

4. Rujuk beritanya di website covid19.go.id

Salah satu situs resmi pemerintah yang bisa dijadikan rujukan berita seputar COVID-19 adalah covid19.go.id. Selain memuat kebijakan pemerintah seputar COVID-19 dan perkembangan jumlah kasusnya, covid19.go.id juga memiliki menu HOAKS BUSTER di bagian kanan atas. Anda bisa mengecek kebenaran berita-berita yang beredar di bagian ini. 

5. Cek informasi terpercaya dari Kementrian Kesehatan

Selain covid19.go.id, Kementerian Kesehatan juga bisa Anda jadikan rujukan untuk memeriksa kebenaran berita hoax, baik informasi medis maupun sosial. Dalam situs ini, Anda bisa mengunduh materi edukasi berbentuk PDF yang bisa Anda sebarluaskan kepada khalayak luas sebagai modal informasi untuk mencegah hoax. Agar tidak tertinggal informasi terbaru, Anda bisa mengikuti akun Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan di Instagram, Facebook, Twitter, maupun YouTube.

6. Cek keaslian foto

Selain berdasarkan narasi, banyak pula berita hoax yang berbentuk berita foto. Untuk mengecek keasliannya, gunakan Google Images/Google Gambar. Caranya, unduh foto lalu simpan. Kemudian, masuk ke Google, pilih “Gambar” di bagian kanan atas. Setelah masuk ke Google Gambar, klik gambar kamera di kolom pencarian, pilih Upload gambar. Setelah anda mengunggah gambar dari komputer atau ponsel yang telah Anda simpan sebelumnya, klik Telusuri gambar.  Google akan menampilkan hasil pencarian berupa foto yang sama dan situs mana saja yang telah memuat foto tersebut. Cara seperti ini bisa membantu mengidentifikasi foto yang telah diedit atau disalahgunakan untuk berita yang salah.

7. Bergabung dengan grup diskusi anti-hoax

Terdapat beberapa Facebook Group dan Fanpage anti-hoax yang bisa Anda ikuti yaitu Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax dan Indonesian Hoax Busters. Selain bisa mengetahui berita hoax terbaru (sehingga Anda bisa mengingatkan kerabat agar tidak menyebarkannya), Anda juga bisa menanyakan kebenaran berita yang meragukan di grup tersebut. 

Nah, kini Anda bisa berhenti menduga-duga, langsung percaya, atau malah bantu menyebar berita hoax. Periksa dulu kebenarannya, lalu beritahukan pada kerabat bahwa berita tersebut benar atau salah. Dengan tindakan seperti ini, Anda sudah berkontribusi terhadap kesehatan mental masyarakat dalam menghadapi pandemi virus corona.

 

 



Tanya Skata