Pernah mendengar istilah makanan ultra proses? Jika belum, Anda mungkin sudah tahu apa itu makanan proses (processed food). Apalagi, di saat anjuran untuk berada #dirumahaja sudah berjalan sebulan lebih, lemari dapur Anda mungkin mulai banyak dipenuhi oleh stok makanan jenis ini. Tidak salah memang, mengingat makanan yang biasanya dengan mudah dibeli mendadak sulit didapat. Jika ada pun, Anda takut kehigienisannya kurang terjamin. 

Samakah makanan proses dengan makanan ultra proses?

Sebenarnya, hampir setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat saat ini telah mengalami pemrosesan terlebih dahulu. Dalam situs kesehatan Mayo Clinic disebutkan bahwa makanan yang diproses tapi masih memiliki bentuk aslinya disebut sebagai minimally processed food atau makanan yang diproses secara minimal. Contohnya adalah sayuran beku, daging beku, roti yang diproduksi di toko, susu dan yogurt. Makanan dan minuman tersebut diproses sebagai cara untuk memperpanjang masa konsumsinya, baik dengan cara mengalengkan, membekukan, atau mengeringkan.

Sebaliknya, hampir semua makanan ultra proses sudah tidak memiliki bentuk aslinya lagi. Misalnya, ayam sudah diolah menjadi nugget. Kentang sudah berubah menjadi potato chips. Stroberi sudah berubah menjadi krim di dalam biskuit. 

Selain bentuknya, yang membuat makanan minim proses menjadi makanan ultra proses adalah penambahan sejumlah zat yang sudah tidak Anda kenali. Ada yang menyebutkan minimal lima zat tambahan untuk dapat disebut makanan ultra proses. 

Mungkin Anda masih mengetahui gula, garam, dan minyak. Namun, apakah Anda tahu lemak nabati terhidrogenasi, asam sitrat, ataupun lesitin kedelai? Nah, bahan-bahan tambahan seperti inilah yang membuat suatu makanan dikatakan ultra proses. Zat-zat tersebut mudah ditemui dalam minuman manis kemasan, snack bercita rasa gurih yang diproduksi di pabrik, atau sup dan mi instan. 

Apa tujuan penambahan zat-zat tersebut?

Tujuan awalnya adalah untuk mengawetkan makanan agar bisa dikonsumsi lebih lama, seperti pada makanan minim proses. Jika melihat dari sejarahnya, makanan proses mulai diproduksi untuk keperluan militer di AS, yaitu dalam bentuk makanan kaleng. Di awal abad ke-20, meningkatnya daya beli masyarakat membuka celah pasar untuk meningkatkan “kualitas” makanan proses, seiring dengan ditemukanannya pemanis buatan, zat pewarna makanan, dan pengawet seperti sodium benzoat. Kemudian, makanan ultra proses ini mulai dipasarkan secara luas khususnya menyasar kalangan menengah ke atas dan ibu bekerja dan sehingga membutuhkan makanan yang cepat proses penyajiannya.

Baca: Rencanakan Menu Harian, Hindari Timbun Makanan Instan

Kini, makanan ultra proses telah menjadi suatu komoditas yang menyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2018, industri makanan dan minuman mampu tumbuh 7,91%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 5,17%. Pada masyarakat urban, tingginya konsumsi makanan dan minuman ultra proses ini berhubungan dengan gaya hidup serba cepat. Sementara itu, masyarakat menengah ke bawah pun turut menjadi konsumen makanan industri ini karena pengetahuan akan gizi makanan yang terbatas sehingga murah-enak-praktis menjadi nilai lebih suatu makanan.

Lalu, apa bahayanya makanan ultra proses?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa makanan ultra proses dapat menyebabkan obesitas, kanker, dan penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, sakit jantung. 

Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok pakar nutrisi di Paris pada tahun 2018 menujukkan bahwa kenaikan konsumsi makanan ultra proses sebanyak 10% saja dapat meningkatkan risiko kanker secara umum maupun kanker payudara sebanyak 10%. Penelitian ini dilakukan selama 5 tahun pada lebih dari 100 ribu responden berusia di atas 18 tahun.

Kadar gula yang sangat tinggi dalam makanan ultra proses pun meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, bahkan gigi berlubang. Pada anak, konsumsi makanan ultra proses yang terlalu banyak dapat menyebabkan gangguan gizi mengingat pemrosesan makanan industri seperti pemanasan suhu tinggi dapat menghilangkan nutrisi. 

Jangan lupakan lemak trans (trans fat). Lemak trans adalah minyak sayur yang ditambahkan hidrogen untuk meningkatkan rasa dan membuat makanan lebih awet. Penggunaannya banyak ditemui pada biskuit, keripik kentang, keripik jagung, margarin, bahkan krimer pada kopi. Terlalu banyak mengonsumsi minyak trans dapat menyebabkan plak pada pembuluh darah dan berakibat pada penyakit jantung koroner dan stroke.

Baca: Berkenalan dengan Superfood Lokal

Kini, keputusan kembali kepada Anda. Konsumsi makanan ultra proses memang enak dan praktis, namun apakah Anda rela 5 atau 10 tahun lagi tidak bisa makan enak karena terkena diabetes, atau bahkan tidak dapat membiayai kuliah anak karena terkena stroke? 

Mengingat kesehatan adalah aset yang sangat berharga, khususnya di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, gunakan momentum meningkatkan imunitas sebagai cara untuk memilah kembali makanan apa saja yang layak diterima oleh tubuh Anda. 

 

 

 



Tanya Skata