Maraknya penggunaan masker kain membuat banyak orang tertarik mencoba membuat masker kain sendiri. Media sosial menyediakan banyak tutorial membuat masker kain yang bisa Anda tiru. Tidak hanya perorangan, sejumlah industri berskala besar maupun skala rumah tangga mulai giat memproduksi masker kain. Sayangnya, masih banyak yang membuat masker kain tanpa memperhatikan sejumlah hal sehingga mengurangi efektivitasnya. 

Berikut ini adalah kesalahan dalam pembuatan masker kain yang sering dijumpai pada produk yang dijual di pasaran. 

1. Menggunakan warna polos 

Panduan pembuatan masker kain yang dikeluarkan oleh Johns Hopkins Medicine di AS menyatakan bahwa warna polos harus dihindari, khususnya warna biru polos dan putih polos karena menyerupai masker bedah sekali pakai. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan pada pengguna, khususnya jika bentuk, ukuran, serta jenis kain sangat mirip dengan masker bedah. Di Indonesia, dimana masker bedah dominan berwarna hijau, Anda juga bisa menghindari untuk membeli atau membuat masker dengan kain berwarna hijau. Jadi, sebaiknya masker kain dibuat dari kain bermotif.

Baca: 5 Syarat Masker Kain yang Bisa Cegah Tularkan Virus

2. Warna sisi luar dan dalam masker sama

Ya, masih banyak masker yang memiliki warna atau motif sama di bagian luar dan dalam. Hal ini tidak disarankan karena pengguna bisa saja salah menggunakan sisi luar untuk bagian dalam dan sebaliknya. Jika masker masih bersih, hal ini tidak menjadi masalah. Namun, jika masker telah digunakan lalu terpaksa dilepas untuk kepentingan makan maupun ibadah, kemudian dipakai kembali, sisi luar masker yang penuh virus pun akan berpindah ke wajah. Hal ini sangat berbahaya. Jadi, sebaiknya pilih atau buat masker dengan motif berbeda antara luar dan dalam sehingga Anda tidak perlu mengamati tepi jahitan terlebih dahulu untuk menentukan sisi yang benar.

Namun, jika Anda tidak memiliki kain berwarna beda, beri simbol atau penanda pada bagian luar masker sehingga tidak salah pakai. Beberapa masker yang memiliki jahitan menonjol di bagian tengah juga memudahkan untuk mengetahui sisi luar atau dalam meskipun memiliki warna yang sama.

3. Ukuran terlalu kecil

Orang biasanya mencari harga termurah saat membeli barang, termasuk saat membeli masker kain. Tanpa disadari, ternyata masker tersebut murah karena ukurannya terlalu kecil sehingga kurang maksimal melindungi dari virus. Hal ini sering dijumpai pada masker yang bentuknya menyerupai masker bedah. Ukuran masker bedah kurang lebih 17,5 x 9,5 cm dengan lipatan (pleats) agar masker dapat ditarik menjangkau dagu. Jika tidak menggunakan lipatan, buat atau beli yang berukuran lebih besar. 

4. Kain terlalu tipis

Salah satu syarat masker kain menurut standar pemerintah adalah terdiri dari 3 lapis. Sayangnya, masih banyak yang membuat masker dari selembar kain tipis sehingga fungsi perlindungan tidak maksimal. Sebenarnya, tebal tipis kain bukan patokan yang utama, melainkan kerapatan struktur serat kainnya. Syal rajut memang tebal, tapi jalinan benangnya sangat longgar sehingga tidak ideal dijadikan masker. Karena agak sulit mengetahui jenis kerapatan kain, pilih masker dengan kain berlapis. 

Baca: 13 Pertanyaan Wajib tentang Masker Kain

Agar tidak salah membeli masker, sebaiknya ikuti tips berikut:

1. Jangan tergoda harga murah. Pastikan masker kain dibuat dengan standar yang berlaku. Jika membeli online, lihat foto asli dan spesifikasi. Jangan ragu tanya penjual untuk info lebih detil. Apabila membeli di marketplace, cek testimoni pembeli.

2. Jika membeli langsung, teliti terlebih dahulu kondisi masker, baik bahan, ketebalan, jahitan, dan ukuran.

Ingin lebih “pas”? Anda bisa membuat sendiri dengan kain perca maupun sapu tangan lebar lho! Yang penting, ikuti panduan sesuai standar ya. Agar Anda aman terlindungi meskipun memakai masker buatan sendiri. 

 

 



Tanya Skata