Kata social distancing mendadak populer sejak pemerintah mengeluarkan imbauan pada masyarakat untuk membatasi aktivitas dan interaksi sosial, demi mencegah penyebaran virus corona. Social distancing sendiri dapat diartikan sebagai sebuah cara memutus rantai penyebaran virus dengan tidak melakukan kontak fisik dan sosial dengan orang lain. Kini, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) mengubah istilah social distancing dengan physical distancing. Alasannya, masyarakat memang perlu menjaga jarak (secara fisik) dengan orang lain, namun mereka tetap membutuhkan interaksi sosial sebagai dukungan moral yang diperlukan dalam situasi darurat seperti ini, dengan bantuan teknologi.

Mengapa physical distancing mendesak untuk dilakukan?

Penyebaran virus corona yang semakin cepat tak lagi bisa disepelekan. Jumlah masyarakat yang terinfeksi maupun yang mengeluhkan gejala bertambah, yang meninggal pun bertambah. Yang lebih memprihatinkan, tenaga medis mulai kewalahan menangani pasien yang jumlahnya meningkat secara berlipat. Satu per satu dari mereka dinyatakan positif, bahkan meninggal dunia. 

Pemerintah telah meliburkan sekolah dan mengimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah sebagai upaya memberi jarak (distance) pada interaksi sosial, tidak keluar rumah kecuali karena alasan mendesak, dengan jarak berdiri minimal 1 meter. Karena itu, cara pencegahan yang paling mudah dan bisa dilakukan setiap orang adalah dengan melakukan physical distancing

Saya tidak bersentuhan dengan orang lain, saya menggunakan masker, tapi saya beraktivitas seperti biasa. Apakah tetap berbahaya?

Ya. Virus corona dapat menempel pada benda, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari tergantung materialnya. Jika ada orang dengan virus corona di tubuhnya (tapi tidak mengetahuinya) dan percikan air liurnya terkena pada benda saat berbicara atau batuk, maka orang yang menyentuh benda tersebut pun memiliki kemungkinan tertular. Area publik, transportasi umum, atau benda yang disentuh banyak orang di kantor atau toko merupakan beberapa hal yang rentan menjadi sarana penyebaran virus. Lebih berbahaya lagi ketika Anda terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala karena imunitas yang baik, namun menularkannya pada keluarga Anda di rumah.

Baca: Jika Tetap Harus Bekerja

Bukankah virus corona ada obatnya? 

Hingga saat ini, WHO belum menyatakan bahwa choloroquine mampu mengobati COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru ini. Chloroquine yang biasa digunakan untuk pengobatan malaria ini merupakan bagian dari upaya untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan COVID-19. Dan, para ilmuwan di seluruh dunia sedang bekerja keras untuk menemukan obat yang efektif membunuh virus corona maupun vaksin yang dapat mencegah infeksi virus corona. Hingga ditemukan nanti, tugas Anda adalah melakukan physical distancing sebagai upaya pencegahan.

Jika saya menunjukkan gejala, saya bisa segera ke RS. Lebih cepat dirawat, lebih besar kemungkinan sembuhnya kan?

Rumah sakit memiliki daya tampung masing-masing, berikut ketersediaan tenaga kesehatan dan peralatannya. Jika semua orang sakit dalam waktu bersamaan, maka rumah sakit tidak dapat menangani semua pasien. Akibatnya, banyak pasien yang kondisinya memburuk bahkan meninggal karena tidak dapat ditangani, seperti yang terjadi di Italia saat ini. Tidak hanya berakibat buruk bagi pasien, lonjakan jumlah orang yang membutuhkan perawatan kesehatan juga membahayakan tenaga kesehatan. Selain harus bekerja tanpa henti, minimnya APD (alat perlindungan diri) seperti masker membuat mereka rentan terinfeksi saat merawat pasien. 

Baca: Ini Cara Isolasi Diri, Langkah Proteksi 14 Hari

Physical distancing diyakini dapat memperlambat laju penyebaran virus corona sehingga jumlah pasien yang perlu ditangani oleh fasilitas kesehatan di negeri ini sesuai dengan kemampuan dan kapasitas rumah sakit, dokter, dan perawat. Kondisi ini populer dengan sebutan flattening the curve atau melandaikan kurva.

Pada kurva, jika tidak ada physical distancing maupun intervensi pemerintah, maka garis akan melonjak tinggi dengan cepat berbentuk bukit yang curam, hingga melampaui garis batas kapasitas rumah sakit dan tenaga medis. Artinya, jumlah pasien yang berada di bawah garis lah yang kemungkinan akan dirawat. Sementara mereka yang di atas garis (yang jumlahnya jauh lebih banyak) akan kesulitan mendapatkan fasilitas sehingga kondisinya memburuk. Kematian adalah risiko terbesar. Meskipun garis melandai dengan cepat yang artinya kasus akan turun drastis dalam waktu singkat, namun dapat dipastikan korban tak tertolong akan lebih banyak.

 

Sebaliknya, jika masyarakat disiplin menahan diri untuk beraktivitas #dirumahaja, maka laju penyebaran virus akan melambat. Meskipun dibutuhkan waktu yang lebih lama bagi virus corona untuk mereda, setidaknya mereka yang membutuhkan perawatan dapat memperoleh apa yang mereka butuhkan. Dokter dan perawat pun dapat menangani pasien dalam kondisi fisik dan mental yang baik. 

Saya sudah melakukan physical distancing, namun masih banyak orang yang beraktivitas seperti biasa. Apa risikonya?

Jika masyarakat abai, pandemi ini berpotensi menjadi salah satu yang paling mematikan seperti flu spanyol yang pernah terjadi di tahun 1918 silam. Bukan tak mungkin, pemerintah akan melakukan lockdown atau mencegah keluar masuknya orang ke suatu wilayah terdampak seperti di Wuhan. Dengan memberlakukan lockdown, kota akan lumpuh, begitu juga kegiatan ekonomi.

Lalu apa yang bisa dilakukan? 

Sebisa mungkin tetap #dirumahaja. Keluar rumah hanya jika ada keperluan mendesak seperti membeli obat atau makanan. Lakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan banyaknya akibat yang bisa terjadi, maka jangan sepelekan physical distancing. Lakukan demi Anda, keluarga, kerabat dan orang lain. 

 

 

 

 



Tanya Skata