“Jangan ke rumah Pak A dulu deh. Anaknya kan kerja di RS yang nanganin virus corona, ntar kita ketularan gimana?”

“Ibunya B meninggal mendadak lho, katanya sih pneumonia. Mending nggak usah layat ya, takutnya positif corona tapi nggak ketahuan..”

Komentar di atas bisa jadi sudah berseliweran di dunia nyata, seiring dengan semakin banyaknya jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien yang positif terinfeksi virus corona atau COVID-19. Masyarakat semakin paranoid, apalagi pemerintah menyarankan untuk social distancing (menghindari interaksi sosial) untuk sementara. Padahal, komentar seperti contoh di atas sudah termasuk memberikan stigma sosial.

Apa itu stigma sosial?

Stigma sosial dalam konteks kesehatan berarti memberikan hubungan antara etnis seseorang atau status kesehatan seseorang dengan penyakit tertentu. 

Pada awal merebaknya kasus di Wuhan, etnis Cina di sejumlah negara mengalami diskriminasi seperti dijauhi, tidak dapat mengakses layanan fasilitas tertentu, atau diberi label negatif. Di Indonesia, pasien yang pertama dinyatakan positif terinfeksi juga diberitakan dan diberi komentar tanpa mengindahkan perasaaan oleh warganet hingga sempat mengalami depresi. Bisa dibayangkan, jika ini terjadi pada orang terdekat Anda, atau bahkan Anda sendiri, tentu rasanya sangat tidak menyenangkan.

Mengapa stigma sosial bisa muncul?

Masyarakat cukup kaget dengan kecepatan penyebaran COVID-19 hingga terkadang tidak dapat sepenuhnya bersikap logis. Karena merupakan jenis virus baru, masih banyak faktor yang belum diketahui secara pasti tentang virus ini. Dan, sesuatu yang masih misterius memang menyebabkan ketakutan. Ketakutan terinfeksi membuat orang mengaitkan virus ini dengan sumber infeksi yang telah diketahui secara luas, seperti orang yang telah positif COVID-19.

Apa dampaknya?

Stigma sosial dari masyarakat pada mereka yang dianggap berhubungan dengan virus corona dapat berakibat negatif pada pencegahan menyebarnya COVID-19, yaitu:

1. Membuat mereka menyembunyikan keluhan, gejala, maupun status kesehatannya untuk menghindari diskriminasi.

2. Menjadi takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

3. Merasa patah semangat untuk tetap mengikuti anjuran hidup sehat.

Orang yang terinfeksi COVID-19 namun tidak mengisolasi diri –terlepas dari sadar atau tidaknya orang tersebut- akan membuat penyebaran virus ini makin tak terkendali. Stigma dan ketakutan pun mudah menular dan menghambat masyarakat mendapat respon yang tepat. Karena itu, hindari membuat pernyataan atau memberikan stigma pada orang tertentu.

Jika ternyata orang di lingkungan keluarga, tempat tinggal, maupun pekerjaan Anda dinyatakan terinfeksi virus corona atau berstatus PDP, bagaimana sebaiknya bersikap? 

Mempertimbangkan dengan matang apa yang akan disampaikan pada mereka, menggunakan pilihan bahasa yang tepat, serta menumbuhkan empati menjadi kuncinya. Berikut adalah sejumlah panduan berkomunikasi yang tepat untuk menghindari terbentuknya stigma sosial yang disarankan oleh WHO, UNICEF, dan IFRC (Federasi Palang Merah Internasional): 

1. Hindari mengaitkan daerah tertentu dengan virus corona.

2. Hindari menggunakan istilah “korban corona”, “dicurigai terkena corona”, “suspect corona”. Gunakan bahasa yang lebih halus, seperti:

        - orang yang mungkin/diduga memiliki COVID-19,

        - orang yang dirawat karena COVID-19,

        - orang yang baru pulih dari COVID-19, atau 

        - orang yang meninggal setelah tertular COVID-19.

3. Hindari menggunakan istilah “menulari”, “menyebarkan”, “mentransmisikan” karena menyiratkan penularan dilakukan secara sengaja.

 

Tidak hanya pilihan bahasa yang tepat, menghindari munculnya stigma sosial juga dapat dilakukan dengan cara:

1. Tidak meneruskan berita seputar COVID-19 tanpa mengecek/mengonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu. Selain melanggengkan stigma, hal ini juga dapat menimbulkan kepanikan (atau malah sikap abai) di masyarakat.

2. Sebaliknya, sebarkan berita atau informasi yang terbukti kebenarannya (fakta) kepada masyarakat untuk mendorong pencegahan penyebaran COVID-19.

Intinya, posisikan diri Anda sebagai pasien atau keluarga pasien. Banyaknya berita tragedi dan kriminal mungkin membuat hati menjadi mati. Maka, hidupkan kembali dengan empati. 

 



Tanya Skata