Tidak seperti wanita yang harus merasakan menstruasi, keputihan, maupun penggunaan metode KB, para pria terlihat lebih “bebas masalah” dengan organ reproduksinya. Padahal, sel sperma yang menjadi tokoh utama organ reproduksi pria pun perlu dijaga kualitasnya untuk menghasilkan keturunan yang sehat, bukan hanya untuk kebutuhan biologis.

Untuk itu, sejumlah pertanyaan tentang kesehatan berikut dapat memberikan gambaran pada pria usia subur (maupun pasangannya) agar dapat menjaga kesehatan dan kualitas sel sperma, terlebih lagi jika sedang berencana untuk memiliki keturunan. 

1. Apa indikator sperma sehat?

Sperma dikatakan sehat apabila sperma tersebut mampu membuahi sel telur. Ada beberapa indikator yang dipakai untuk menentukan kesehatan sperma, yaitu kualitas pergerakannya baik, bentuk kepalanya normal, skor DFI (DNA Fragmentation Index) nya di bawah 30%. DFI adalah skor yang digunakan untuk mengukur presentase sperma dengan kerusakan DNA. 

2. Apakah kualitas sperma dapat dilihat dengan mengamati air mani?

Kualitas sperma tidak bisa dilihat secara makroskopis (oleh mata langsung) kecuali hanya melihat jumlah dan warna cairan mani. Sedangkan untuk melihat bibit/sperma, harus melalui mikroskop dengan pembesaran minimal 10x45 atau 10x100.

Untuk mengetahui sperma yang sehat, seseorang harus menjalani tes khusus untuk mengetahui morfologi (bentuk sperma) dan kerusakan dari kepala dan ekor sperma.

3. Apa saja tes untuk mengetahui kualitas sperma?

Analisis sperma diperlukan untuk melihat tingkat kesuburan seorang pria, yang terdiri dari 2 bagian yaitu analisis cairan secara makroskopis dan analisis bibit/sperma secara mikroskopis. Untuk analisis cairan, komponen yang dilihat meliputi volume, warna, pH, kekentalan, dan liquofaksi (kecepatan mencair). Sementara itu, analisis bibit/sperma meliputi konsentrasi, presentase sperma yang bergerak, kecepatan, presentase sperma yang bergerak lurus, presentase sperma dengan bentuk kepala normal, dan jumlah sel darah putih.

4. Apakah yang mempengaruhi kualitas sperma?

Yang mempengaruhi kualitas sperma seorang pria antara lain makanan yang dikonsumsi, lingkungan kerja, kebiasaan, hormon, dan varikokel serta penyakit-penyakit sistemik lainnya.

5. Jika ternyata kualitas sperma kurang baik, apakah jenis pengobatan yang bisa mencegah infertilitas?

Sebelum menentukan treatment yang harus dilakukan, langkah pertama adalah mencari penyebab rendahnya kualitas sperma. Setelah ditemukan, pengobatan disesuaikan dengan penyebabnya.

6. Benarkah menyimpan ponsel di saku celana berpotensi menyebabkan infertilitas?

Ponsel dan alat elektronik sejenisnya yang berhubungan dengan sinyal atau gelombang tetap memiliki pengaruh negatif pada sperma, apalagi kalau disimpan dekat dengan testis yang merupakan penghasil sperma. Akan tetapi, sejauh mana pengaruhnya terhadap sperma serta menyebabkan infertilitas masih dalam penelitian.

7. Adakah hubungan antara rajin berolahraga dengan kualitas sperma?

Tentu saja ada. Rajin berolahraga membuat aliran darah ke testis menjadi lebih lancar. Jaringan testis pun mendapatkan nutrisi lebih banyak serta pasokan oksigen yang mencukupi. Hal ini akan meningkatkan kemampuan testis untuk membuat sperma yang sehat.

8. Jika sperma jarang dikeluarkan, apakah membahayakan kesehatan?

Sperma jarang dikeluarkan tidak ada hubungannya dengan kesehatan karena pada dasarnya sperma bukanlah pembawa penyakit. Sperma juga diproduksi secara steril dan disimpan di kelenjar epididimis sehingga tidak dapat terkontaminasi virus maupun bakteri.

 

Untuk konsultasi lebih lanjut seputar kesehatan reproduksi pria, Anda bisa menghubungi dr. Indra Gusti Mansur, DHES, Sp. And konsultan andrologi Klinik SamMarie Wijaya Jakarta setiap Kamis, pukul 15.00 hingga selesai. 

 



Tanya Skata