Dua dekade lalu, saat orang tua dari generasi Z masih berusia remaja, hiburan berbentuk video dan film hanya bisa dinikmati melalui media yang terbatas seperti layar lebar dan televisi. Distribusinya pun masih menggunakan perangkat fisik seperti kepingan CD. Film yang beredar di bioskop telah melalui pemeriksaan Lembaga Sensor Film (LSF) sehingga orang tua dapat memberikan arahan film mana saja yang boleh dan tidak boleh ditonton oleh anak remajanya.

Berbeda dengan kondisi saat ini, film dapat diakses dengan mudah melalui smartphone dengan jaringan nirkabel, membuat para orang tua kesulitan mengontrol apa yang dilihat oleh anak-anak mereka. LSF masih ada, namun tidak semua film diproduksi secara resmi.

Video yang diunggah oleh pengguna YouTube misalnya, hanya bisa dilakukan pembatasan berdasarkan usia pemilik akun, yang pada banyak kasus banyak penonton di bawah umur menggunakan akun orang tuanya atau memalsukan usia.

Selain itu, orang tua juga perlu menyadari bahwa konten “terlarang” bagi anak di bawah umur tidak melulu soal adegan seks. Muatan kekerasan dan bahasa yang vulgar juga patut diwaspadai. 

Mengawasi remaja tanpa henti tentu saja tidak mungkin. Namun, setidaknya orang tua bisa menyamakan panduan menonton film dan video dengan remaja, sesuai dengan batasan usia, pemahaman, norma, dan nilai keluarga. Untuk film layar lebar dan acara televisi di Indonesia, Anda bisa menggunakan klasifikasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sensor Film Indonesia sebagai berikut:

- SU / A : Semua Umur / Anak

- BO / A : Bimbingan Orang Tua / Anak usia 4-7 tahun

- BO : Bimbingan Orang Tua (aman untuk anak 5-12 tahun)

- BO –R / R : Bimbingan Orang Tua sampai Remaja usia 13-16 tahun

- D : Dewasa (minimal 17 tahun)

Untuk film produksi AS, klasifikasi dikeluarkan oleh Classification and Rating Administration. Berikut adalah kategorinya:

- G (General Audience), untuk semua umur.

- PG (Parental Guidance Suggested), dengan bimbingan orang tua. 

- PG -13, untuk remaja 13 tahun ke atas karena terdapat adegan kekerasan berkepanjangan, konten seksual, narkoba, dan bahasa kasar.

- R (Restricted), untuk usia 17 tahun ke atas atau dewasa dengan alasan yang sama dengan PG-13 namun dalam kadar yang berbeda.

- NC -17 (No One 17), hanya untuk dewasa karena banyaknya konten seksual maupun kekerasan yang ada di dalamnya.

Mengingat akses remaja terhadap film melalui smartphone dan internet lebih besar daripada di bioskop, orang tua bisa mempelajari fitur Parental Control di aplikasi layanan streaming film dan serial TV sebelum memperbolehkan remaja mengunduhnya. 

YouTube

Orang tua bisa mengaktifkan Mode Terbatas atau Restricted Mode untuk mencegah munculnya konten yang dibatasi oleh YouTube, yaitu konten yang mengandung:

- Bahasa yang vulgar

- Kekerasan dan gambar yang mengganggu

- Berisi ketelanjangan dan bernuansa seksual

- Gambaran aktivitas yang berisiko atau berbahaya

Video yang dikenai pembatasan usia di atas tidak bisa ditonton oleh pengguna yang tidak login ke akun, login tapi berusia di bawah 18 tahun, atau mengaktifkan Mode Terbatas.

Iflix

Layanan streaming film ini memiliki kategori film yang dapat dipilih jika Anda mengaktifkan Parental Control yang dilindungi dengan PIN, yaitu Semua Umur (Little Kids), Anak-anak (Older Kids) atau 7 tahun ke atas, Remaja (Teens), dan Dewasa (Adults).

Netflix

Jika orang tua mengaktifkan fitur Parental Control di Netflix, maka film berkategori dewasa hanya dapat diakses dengan cara memasukkan PIN. Anda pun dapat “melindungi” judul film tertentu dengan PIN meskipun kategorinya masih dianggap aman untuk remaja. Batasan usia untuk film di Netflix yaitu semua usia, 7 tahun ke atas, 13 tahun ke atas (remaja), dan 16 tahun ke atas (dewasa).

Kapan orang tua dapat mulai menerapkan rating film pada anak?

Menurut Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog, orang tua dapat memperkenalkan mengenai rating dan aturannya sejak anak bisa diajak bicara. Usia 3 tahun sudah mengerti mana yang boleh dan mana yang tidak. Orang tua harus berkomitmen untuk mengajarkan dan menerapkan aturan ini meskipun kesannya “Ah, semua anak juga nonton (Avengers, misalnya)”.

Demikian pula ketika anak mulai berkenalan dengan YouTube atau layanan online lainnya, orang tua harus tegas untuk memberikan batasan dan aturan, termasuk mendampingi anak ketika menonton.

Orang tua hendaknya tahu selera anak, mengerti apa yang ditonton, menilai apakah sesuai untuk anak atau tidak, dan mengarahkan anak untuk dapat mengikuti aturan serta batasan yang sudah disepakati.

Nah, kini saatnya Anda diskusikan dengan remaja tentang perlu tidaknya menonton film sesuai usia. Andaikata Anda dan pasangan sudah memutuskan untuk mengaktifkan Parental Control pada smartphone Ananda pun, mereka tetap membutuhkan penjelasan tentang hal tersebut. Apalagi, semakin dewasa, anak-anak semakin fasih menggunakan teknologi (dan mungkin bisa mengelabui orang tuanya). Maka, upaya untuk saling percaya  lah yang lebih penting untuk dibangun.

Referensi:

 



Tanya Skata