Bagi wanita, penyakit apapun yang menyerang rahim merupakan penyakit yang harus diwaspadai, termasuk kista. Kemunculan kista sering tak disadari, bahkan bisa menghilang sebelum diketahui keberadaannya. Kista adalah tumor jinak yang terdiri dari jaringan yang membentuk dinding atau kantong berisi cairan baik darah, nanah, cairan bening, maupun jaringan lainnya. 

Salah satu kista yang paling umum terjadi pada wanita adalah kista pada ovarium (indung telur). Kista ovarium umum menyerang usia reproduktif, walau tak menutup kemungkinan juga terjadi pada wanita yang telah menopause. Yuk, berkenalan lebih lanjut dengan kista ini. 

Bagaimana kista ovarium bisa muncul?

Ada dua macam kista ovarium. Pertama, kista fungsional yang berasal dari pertumbuhan folikel atau cangkang sel telur normal dalam proses ovulasi setiap bulan. Terkadang folikel sel telur tidak menetas atau berovulasi, namun membesar menjadi kista folikel. Atau, bisa juga setelah folikel menetas tidak menjadi kecil namun tetap membesar berisi cairan yang menjadi kista corpus luteum atau lutein. Kista fungsional ini dapat hilang sendiri pada dua atau tiga lebih siklus berikutnya, sehingga tidak perlu dilakukan terapi, hanya evaluasi USG. 

Kista yang kedua adalah kista pathologis atau penyakit kista akibat pertumbuhan abnormal dari sel-sel ovarium, contohnya:

1. Kista endometriosis

Kista ini disebabkan oleh sel-sel dinding rahim yang tumbuh di ovarium sehingga terbentuk kista yang berisi cairan coklat seperti darah haid. 

2. Kista dermoid

Kista dermoid berisi jaringan-jaringan seperti rambut, gigi, dan cairan seperti mentega yang berasal dari tumbuhnya sel-sel embrionik. 

3. Kistadenoma

Kista ini berisi cairan bening (serous) atau kental seperti lendir (musinous) pada dinding ovarium. 

Apakah kista ovarium berbahaya? 

Kista fungsional tidak berbahaya dan bisa hilang sendirinya dalam satu hingga tiga siklus haid berikutnya. Lain halnya dengan kista pathologis yang tergantung dari jenis dan ukurannya. Sebagai contoh, kista endometriosis dapat menyebabkan perlekatan organ kandungan sehingga dapat mengganggu proses pembuahan dan terjadinya kehamilan. Berbeda lagi dengan kista dermoid yang bila berukuran besar dapat terjadi putaran tangkai sehingga menyebabkan nyeri perut.

Pada umumnya, kista berukuran kecil tidak menyebabkan gejala atau keluhan. Namun, kista endometriosis adalah perkecualian karena ukuran kecil pun bisa menyebabkan nyeri haid, meskipun di beberapa kasus ukuran besar pun belum tentu juga menyebabkan keluhan. 

Bisakah kista disembuhkan secara total?

Kista fungsional dapat hilang sendiri, namun bisa kembali di siklus berikutnya. Untuk kista pathologis umumnya bisa sembuh total setelah diangkat, kecuali pada kista endometriosis yang dapat tumbuh lagi. 

Bagaimana pengobatannya?

Kista fungsional tidak perlu diobati, cukup dengan evaluasi USG selama 1-3 atau lebih siklus mendatang. Sementara itu, pengobatan kista pathologis dilakukan berdasarkan ukurannya. Bila ukurannya di atas 5 cm, disarankan untuk operasi. Untuk kista endometriosis, selain operasi pasien bisa memilih terapi hormonal. 

Apakah kista berbahaya bagi kehamilan?

Berbahaya atau tidak tergantung ukuran dan jenis kista. Jika kista berukuran besar, atau di atas 8cm, dapat terjadi putaran tangkai atau torsio atau kista pecah yang bisa jadi berbahaya, tergantung kondisinya.

Jika wanita yang belum menikah terkena kista, masih bisakah hamil?

Untuk wanita yang belum menikah, jika ia memiliki kista endometriosis baiknya segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan. Alasannya, ada kemungkinan kista endometriosis membuat penderitanya sulit untuk hamil. 

 

Untuk konsultasi lebih lanjut, dr. Rino Bonti Tri Hadma Shanti, Sp.OG praktek setiap Senin-Jumat pukul 8.00-12.00 di Klinik SamMarie Wijaya.



Tanya Skata