Perjuangan hidup penderita kanker tidaklah mudah. Apalagi, jika mereka masih belia. Baik orang tua maupun anak yang terkena kanker pasti merasa terpukul, namun semangat untuk sembuhlah yang akan menentukan keberhasilan mereka melawan kanker. Kisah seorang remaja bernama Hannah berikut ini mungkin bisa menjadi gambaran, bagaimana kanker malah menjadi buah semangat untuk berbagi kisah dan menjadi penolong untuk sesama penderita kanker. Dan, bahwa kanker tidak menghalanginya untuk tetap berdaya dan menjadi seperti remaja pada umumnya. Berikut ini kisah Hannah Scotlyn Soderstrom, saat berusia 14 tahun, seperti yang ia ceritakan melalui akun YouTube-nya.

Ketika itu di tahun 2016, sekitar awal bulan Oktober, untuk pertama kalinya aku merasa tidak enak badan. Rasanya, sangat lelah yang kemudian diikuti dengan demam. Kupikir, aktivitas yang padat di sekolah, plus latihan teater yang intens menjelang pertunjukan membuatku lelah. Perawat di sekolah pun mengatakan aku tidak apa-apa. Demamnya akan mereda jika aku banyak minum dan istirahat. Akupun masih beraktivitas, meski teman-temanku teaterku bilang aku sangat pucat. Tapi, karena peranku saat itu menjadi hantu dengan riasan pucat, aku tak terlalu khawatir. 

Setelah beberapa lama, lelah dan demam ini tak kunjung hilang hingga perawat di sekolah menyarankanku untuk tes darah. Kebetulan, penyakit mononukleusis sedang menyebar di sekolah, dengan gejala demam. Akhirnya, aku pun mengunjungi dokter untuk melakukan tes darah. 

Hasilnya? Aku mengidap Acute Lymphoblastic Leukimia. Ibuku tak berhenti menangis. Aku pun bingung walau akhirnya tahu bahwa ini penyakit serius. Dokter kemudian memberikan buku besar tentang leukemia yang perlu kami pelajari. Berawal dari situ, Ayahku mulai membaca dan menghafal isinya, dan akupun mulai menjalani proses pengobatan. 

Menjalani kemoterapi bagaikan roller coaster: ada saat dimana aku berada di atas bagaikan tak memiliki kanker, namun adakala aku di bawah dan rasanya hanya ingin menghentikan semua dan menyerah. Tapi aku tidak menyerah. Dukungan datang dari berbagai pihak seperti komunitas remaja pejuang kanker dan komunitas lain yang membuat aku sibuk sekaligus senang di tengah proses pengobatan. Suntikan demi suntikan aku jalani, hingga datang hari terakhir kemoterapi di awal tahun 2019. Aku sangat sangat bahagia.

Kini, Hannah sudah berusia 17 tahun. Pengalamannya dalam berjuang melawan leukemia membuat ia tergerak untuk mendirikan organisasi non-profit Even Mermaids Get Leukimia yang awalnya hanya berupa Facebook Fan Page. Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dukungan pada anak-anak di hari terakhir kemoterapi dengan cara mendanai kegiatan atau hobi yang belum sempat mereka lakukan selama pengobatan, misalnya bergabung dengan klub baseball atau sekedar mengikuti les gitar. Anak-anak penyintas kanker ini memiliki semangat yang mungkin meredup pada saat mereka melakukan proses pengobatan. Melalui Even Mermaids Get Leukimia, Hannah ingin memberi tahu bahwa kanker tidak merubah semuanya. Tak apa menjadi botak, tak apa menjadi lemah sesaat. Karena, mereka memiliki kesempatan untuk meraih mimpi yang tertunda.

 

 

 

 

 



Tanya Skata