Penyakit kanker tidak hanya membutuhkan waktu lama untuk bisa menimbulkan gejala, tapi juga membutuhkan waktu lama pula untuk pengobatannya. Padahal, obat-obatan dan tindakan yang digunakan untuk menghilangkan sel kanker tergolong mahal dan digunakan secara berkelanjutan hingga pasien dinyatakan bebas dari kanker. Sebagai gambaran, biaya sekali kemoterapi berkisar antara 4-6 juta rupiah, sementara harga PET scan untuk mengetahui kondisi sel kanker sebesar 11-16 juta rupiah. 

Karena itulah, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan menjadi tumpuan harapan pasien untuk menanggung biaya pengobatan kanker. Dengan iuran mulai dari Rp 42.000 per bulan untuk kelas III, pasien dengan kanker dapat mendapatkan bantuan biaya pengobatan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Ini yang membuat BPJS menghabiskan Rp 13,3 triliun untuk pengobatan kanker pada 2014-2018. Biaya ini menempati urutan ketiga terbesar (17%) setelah pengobatan sakit jantung dan gagal ginjal.

Baca: Sebelum Ketakutan Tentang Kanker Serviks, Ketahui Dulu 7 Pertanyaan Penting Ini! 

Pada pasien dengan penyakit kanker, BPJS menanggung biaya kemoterapi standar dan atau radioterapi. Kemoterapi adalah penggunaan obat kimia untuk memperlambat pembelahan sel kanker, baik yang disuntikkan lewat infus maupun lewat obat-obatan yang bisa diminum. Sementara itu, radioterapi menggunakan radiasi dari energi radioaktif (terapi sinar-X) untuk menghancurkan jaringan kanker. BPJS juga menanggung biaya obat-obatan yang diperlukan pasien sesuai dengan Formularium Nasional (daftar penyediaan jenis dan harga obat untuk acuan layanan jaminan kesehatan nasional).

Syarat administrasi

Untuk mendapatkan penanganan kanker (pengobatan rawat jalan) dengan BPJS, berikut ini adalah syarat administrasi yang diperlukan:

1. Surat rujukan asli dan 1 lembar fotokopi

2. Kartu peserta BPJS asli dan 1 lembar fotokopi

3. KTP asli dan 1 lembar fotokopi untuk pasien baru

4. Kartu berobat dan 1 lembar fotokopi untuk pasien lama

5. Tambahan fotokopi jadwal/protokol kemoterapi dan atau radioterapi 

Deteksi dini kanker serviks dengan BPJS

Mengingat besarnya biaya pengobatan penyakit kanker serta besarnya risiko kesehatan yang harus ditanggung pasien, BPJS juga menanggung biaya deteksi dini khusus untuk kanker serviks. Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dapat dilakukan gratis di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat I atau klinik yang bekerja sama dengan BPJS dengan menyertakan surat rujukan. 

Baca: Ingin Menjalani Tes Pap Smear? Ini Yang Perlu Anda Ketahui!

Jenis rumah sakit sesuai kondisi pasien

Jika pemeriksaan menunjukkan adanya sel kanker, maka pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat II (rumah sakit tipe B/C) yang sudah bisa menangani kanker. Jika rumah sakit tersebut tidak dapat menangani kanker sesuai kebutuhan pasien, maka pasien dirujuk ke faskes tingkat III atau rumah sakit tipe A. Jika RS tipe ternyata tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan pasien, barulah pasien dirujuk ke RS nasional seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais. 

Mengingat jumlah pasien penderita kanker sangat banyak sementara rumah sakit yang memiliki fasilitas penangan kanker dan tenaga kesehatan yang berkompeten hanya sedikit, pasien dan keluarganya harus siap untuk mengantri. Daftar tunggu untuk konsultasi bisa berlangsung beberapa hari, sementara untuk kemoterapi dan radioterapi bisa beberapa bulan.

Pertimbangkan biaya lain

BPJS memang menanggung biaya pengobatan pasien kanker, namun Anda juga harus mempertimbangkan biaya lain seperti transportasi dan akomodasi anggota keluarga yang mendampingi pasien. Jika pengobatan harus dilakukan di rumah sakit yang berada di luar kota atau luar pulau, tentu saja biaya akomodasi membengkak. 

Karena itu, banyak organisasi nirlaba yang menyediakan rumah singgah bagi pasien kanker dan anggota keluarganya, seperti Rumah Kita dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Rumah Singgah Peduli dari Komunitas Peduli Generasi, dan Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Ada beberapa rumah singgah yang juga menawarkan bantuan pengobatan, ambulans, serta guru untuk pasien usia sekolah.

Semoga informasi ini bisa membuat siapapun yang terkena kanker sedikit bernafas lega. Setidaknya, biaya pengobatan bisa ditekan meskipun harus menunggu.  

 



Tanya Skata