Remaja yang mengalami obesitas memang harus segera “diselamatkan” oleh orang tua sebelum terserang berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes. GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan 4 masalah kesehatan yang paling banyak dialami remaja, yaitu anemia (kurang zat besi), stunting (kurang tinggi badan), kurus (kurang energi kronis), dan obesitas (kegemukan). Karena itu, mereka yang berat badannya berlebih disarankan untuk melakukan diet, baik dengan cara mengurangi porsi makan, mengatur ulang komposisi makanan, atau pantang makan makanan tertentu. 

Namun, bagaimana dengan remaja yang ukuran tubuhnya masih dalam kategori normal tetapi ingin melakukan diet?

Media sedikit banyak membentuk citra remaja ideal –khususnya remaja putri- dengan tubuh langsing, kulit putih, wajah cantik, dan rambut lurus tergerai. Hal ini membuat banyak remaja putri berusaha untuk memenuhi kriteria tersebut. Apalagi, remaja kini tidak dapat lepas dari media sosial. Kasus body shaming yang kerap dialami artis dan anak-anaknya yang beranjak remaja membuat tekanan untuk memiliki tubuh langsing semakin besar. Masalahnya, apakah diet boleh dilakukan oleh remaja? Jika boleh, apa pilihan diet yang cocok untuk masa pertumbuhan? Adakah batasan amannya?

Baca: Body Shaming Datang, Percaya Diri Hilang. Adakah Peran Kita?

Jika motivasi anak adalah untuk menaikkan rasa percaya dirinya, agar diterima oleh lingkungan pergaulannya, atau permintaan teman dekatnya, sementara menurut standar kesehatan badannya sudah ideal, sebaiknya ajak anak berdiskusi tentang:

(1) setiap orang diciptakan dengan kondisi tubuh berbeda-beda;

(2) anak berharga tanpa harus mendapatkan pengakuan orang lain; dan

(3) kesehatan lebih penting daripada penampilan.

Mengingat dua poin pertama membutuhkan proses agar remaja mampu menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihannya, maka Anda sebagai orang tua bisa menggunakan pendekatan kesehatan. 

Baca: Pentingnya Konsep Diri Remaja dalam Menangkal Perilaku Berisiko

Berikan informasi bahwa melakukan diet saat remaja merupakan hal yang berisiko, apalagi jika diet dilakukan dengan cara mengurangi salah satu komponen makanan harian, seperti pantang makan nasi atau tidak mau makan lauk yang mengandung lemak. Diet seperti ini populer disebut fad diet.

Semua orang (tak terkecuali remaja) membutuhkan kalori yang cukup untuk menjaga kondisi tubuh agar semua organ berfungsi dengan baik. Begitu pula dengan lemak. Diet bukan berarti menghilangkan asupan karbohidrat maupun lemak. Tahukah Anda, bahwa 30% kalori yang dibutuhkan tubuh datang dari lemak? Tak hanya itu, remaja masih membutuhkan lemak baik untuk pertumbuhan. Tidak ingin kan, pertumbuhan tinggi badan saat remaja tidak maksimal? Apalagi bagi remaja putri, diet ekstrim bisa mengganggu siklus menstruasi, lho!

Baca: Ketika Anak Terlambat Mendapat Menstruasi Pertama

Karena itu, motivasi anak remaja Anda untuk tidak melakukan diet. Tunjukkan tabel berat badan ideal berdasarkan usia untuk meyakinkan bahwa tubuhnya dalam kategori normal. Menghitung indeks massa tubuh juga bisa menjadi solusi.  

Jika ia ingin memiliki tubuh ideal, bantu ia untuk mengatur pola makannya dengan komposisi yang tepat, motivasi ia untuk berolahraga rutin, minum air putih 2 liter sehari, serta ingatkan untuk selalu memiliki waktu istirahat yang cukup. Hindari pula makanan yang digoreng berkali-kali, serta makanan dan minuman tinggi gula, Dengan kesehatan yang baik, remaja dapat melakukan aktivitas favoritnya, bergaul dengan teman-temannya, menjalani kegiatan belajar dengan baik. Tumbuh kembangnya pun tidak terhambat.

Kapan Anda harus waspada? 

Bisa jadi, remaja Anda menjalani diet secara diam-diam. Beberapa kondisi ini bisa Anda jadikan acuan untuk menilai apakah ia sedang menjalani diet tidak sehat atau malah mengalami gangguan pola makan:

• Remaja sudah pada berat badan normal, namun tetap mengurangi asupan makan

• Makan secara diam-diam, makan junk food berlebihan saat tak ada yang melihat, atau makan tak terkontrol

• Lemas dan kulit menjadi pucat dan tidak segar 

• Takut mengonsumsi makanan 

• Menggunakan pakaian longgar karena takut “gemuk” 

• Muntah ketika baru mengonsumsi makanan atau menggunakan obat pencahar

• Sering pusing, tak bersemangat hingga sulit beraktiitas. 

Jika tanda-tanda di atas mulai muncul, segera periksakan ke dokter.  Gangguan pola makan karena ingin memiliki ukuran tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya anoreksia dan bulimia jika tidak segera ditangani.

 

 

 



Tanya Skata