Saat ini, tidak perlu menunggu tua untuk bisa terserang berbagai macam penyakit. Data WHO menunjukkan bahwa penderita diabetes yang berusia 18 tahun mencapai 8,5% pada tahun 2014. Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan tahun 2013 menunjukkan bahwa terdapat 12 juta penderita diabetes di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun. Ini adalah diabetes tipe dua yang muncul akibat gaya hidup.

Baca: Obesitas dan Komplikasi Kesehatannya 

Ya, gaya hidup menjadi salah satu alasan makin banyaknya anak muda dan dewasa usia produktif yang terkena penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang menyebabkan organ/jaringan tubuh memburuk dari waktu ke waktu. Hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker, dan tumor adalah contohnya. Karena itu, setiap ada tren baru makanan sehat, generasi milenial dan mereka yang masih berada pada usia produktif tanpa pikir panjang langsung mengadopsinya. Apalagi, jika media sosial ramai membicarakannya. 

Beberapa jenis makanan sehat yang sempat menjadi hits pada tahun 2019 antara lain infused water atau air rendaman buah dan rimpang, makanan bebas gluten (gluten-free), salad buah, dan chia seed. Bagi mereka yang ingin lebih serius hidup sehat, mengubah pola makan menjadi langkah selanjutnya. Misalnya, dengan mengadopsi diet keto, mencoba menjadi vegetarian, atau memilih makanan alami minim proses sesuai konsep clean eating.

Meskipun tujuannya baik, yang sulit dari pola makan seperti ini adalah konsistensi. Meskipun tidak berniat mengurangi berat badan, mengubah pola makan terasa seperti diet. Kekurangannya adalah tidak bertahan lama, apalagi jika bahan makanan yang digunakan jarang tersedia di pasar, tukang sayur, atau supermarket dekat rumah. Akhirnya, Anda kembali ke pola makan sebelumnya. Jadi bagaimana sebaiknya?

Baca: Gizi Seimbang, Samakah dengan 4 Sehat 5 Sempurna? 

 “Pola makan yang sehat itu harus sustainable (bertahan lama, berkelanjutan). Mengapa tidak kembali ke makanan lokal saja? Bahan lebih mudah didapat dan familiar di lidah,” menurut dr.Tan Shot Yen. Sebagai gambaran, dr. Tan Shot Yen memberikan alternatif komposisi makanan lokal untuk konsumsi harian:

1. Karbohidrat yang beragam. Ubi, singkong, talas bisa dijadikan pengganti nasi.

2. Sayur yang mudah diperoleh. Kuncinya, semakin sedikit proses masaknya, semakin baik. Dijadikan lalapan jika bisa, sayur bening juga sehat. Hindari mengolahnya dengan santan.

3. Lauk dengan bumbu alami. Hindari bumbu kemasan, utamakan bumbu “kupasan”.

4. Buah di setiap sesi makan. Hindari buah saja untuk sarapan. Usahakan makan buah dalam wujud aslinya agar kandungan nutrisinya tidak berkurang.

Nah, lebih sederhana, mudah didapat, dan tentu ramah di kantong. Sehat tidak harus mahal kan? Bahkan, makanan kemasan dan cepat saji lebih mahal jika dihitung-hitung. “Mahal “ pula dampaknya bagi kesehatan. Jadi, usahakan Anda memiliki pola makan sehat yang sustainable, bukan sekadara mengikuti tren. Mulai perlahan sesuai kemampuan, miliki motivasi sebagai pegangan. Badan sehat bukan lagi sekadar impian.

 

 



Tanya Skata