Istilah superfood cukup populer beberapa tahun belakangan. Alpukat bertabur chia seed menggantikan nasi goreng untuk sarapan, susu almond mulai memikat mereka yang menganggap susu sapi banyak mengandung hormon tambahan. Ini belum termasuk salad yang hanya menggunakan minyak zaitun sebagai bumbunya, atau kudapan granola bars dan greek yogurt. Baik chia seed, almond, minyak zaitun, granola, atau yogurt kini dianggap sebagai superfood yang lebih berkhasiat untuk menjaga kesehatan dibandingkan makanan sehari-hari yang biasa dikonsumsi. Benarkah?

Hanya strategi pemasaran

Istilah superfood sebenarnya mengacu pada makanan (biasanya berasal dari tumbuhan walau ada pula yang berasal dari ikan dan susu) yang memiliki banyak nutrisi, vitamin, dan gizi. Blueberry, salmon, kale, dan acai adalah beberapa contoh dari makanan yang berlabel superfood. Menurut American Heart Association, tak ada syarat khusus untuk menentukan apakah makanan tersebut tergolong superfood atau tidak. 

“Rasanya istilah superfood hanya merupakan strategi pemasaran untuk makanan yang memiliki kebaikan gizi atau nutrisi,” ujar Despina Hyde, pakar diet di New York University Langone Medical Center. Meskipun demikian, makanan yang disebut sebagai superfood memiliki ragam nutrisi seperti antioksidan untuk mencegah pertumbuhan sel kanker, lemak baik untuk menjaga kesehatan hati, serat untuk mencegah diabetes dan permasalahan pencernaan, serta phytochemicals –zat kimia pada tumbuhan yang mengeluarkan warna atau aroma yang memiliki segudang manfaat kesehatan. 

Karena istilah superfood mulai muncul di negara barat, tidak heran jika makanan tersebut tergolong mahal karena merupakan makanan impor. Sebut saja blueberry, kale, chia seed, almond, dan quinoa. Padahal, superfood tidak harus impor lho. Indonesia juga kaya akan superfood yang mudah diperoleh, harganya terjangkau, dan alami karena tidak membutuhkan pengemasan dan pengawetan. Apa saja? 

1. Ubi ungu

Ubi ungu mengandung karbohidrat kompleks, serat makanan, vitamin B3, B6, vitamin C, asam folat, kalium, magnesium. Selain mampu mengurangi hipertensi, ubi ungu dapat mencegah kanker dan mengurangi peradangan. Konsumsi dengan cara dikukus atau direbus untuk mempertahankan serat dan nutrisi. Mengolahnya menjadi kue dapat mengurangi 60% nutrisinya.

2. Ketan hitam

Populer dijadikan campuran bubur kacang hijau, ketan hitam ternyata kaya nutrisi dengan kandungan zat besi, protein, serat, vitamin E, serta sejumlah mineral. Antosianinnya mampu memperkuat daya tahan tubuh, selain juga untuk menjaga kesehatan pencernaan, mencegah sakit jantung, anemia, sembelit, dan mampu melawan kanker. Olah dengan cara dikukus tanpa tambahan santan karena akan mempertinggi indeks glisemiknya.

3. Daun kelor

Daun berujung tumpul ini mengandung protein, zat besi, riboflavin, vitamin B6, C, dan A. Kaya akan antioksidan, daun kelor juga mampu meredakan peradangan, menurunkan kolesterol, memperkuat daya ingat, baik untuk wanita menyusui, wanita menopause, dan anak yang malnutrisi. Cara mengolahnya sangat mudah, yaitu dimasak menjadi sayur bening seperti bayam, dengan bumbu bawang merah dan temu kunci. Sebaiknya, olah segera maksimal 4 jam setelah dipetik.

4. Selada air

Di Jawa, selada air juga dikenal dengan nama jembak dan kerap dimasak bening maupun santan. Meskipun sederhana, kandungan nutrisinya cukup banyak seperti kalsium, fosfor, zat besi, natrium, kalium, seng, vitamin B dan C. Selada air tinggi antioksidan, mampun menurunkan tekanan darah, melindungi kesehatan jantung, tulang, dan mata.

5. Sukun

Pecinta gorengan pasti akrab dengan sukun. Ternyata, sukun kaya protein, serat, kalsium, kalium , zat besi, magnesium, seng, beta karoten, asam folat, dan vitamin  B, C, E. Sukun mampu menurunkan gula darah dan tekanan darah serta mencegah pertumbuhan sel kanker.  Sukun muda dapat diolah menjadi sayur, sukun tua dapat dikukus atau digoreng. 

Selain lima superfood lokal di atas, masih banyak lagi yang manfaatnya super bagi tubuh, seperti manggis, bawang putih, bawang merah, tauge, dan salak. Hanya saja, tidak banyak yang “mengiklankan”nya atau menjadikannya bagian dari gaya hidup. Karena itu, kita bisa mulai mengonsumsi makanan lokal yang tidak kalah bernutrisi dari makanan impor. Olah dengan cara yang benar agar manfaatnya maksimal bagi tubuh. 

 

 

 

 

 



Tanya Skata