Angka obesitas pada pria di usia reproduktif semakin meningkat pada beberapa tahun terakhir ini. Obesitas alias kegemukan adalah penumpukkan lemak yang berlebihan dan tidak normal hingga berdampak pada kesehatan seseorang. Obesitas dinilai melalui indeks massa tubuh (IMT). Pria dengan IMT di atas 30 dikatakan mengalami obesitas. Kelebihan berat badan, baik overweight hingga obesitas memiliki beragam efek negatif yang terjadi yaitu masalah kesehatan pada umumnya, serta dapat mempengaruhi fertilitas laki-laki. 

Baca: Apakah Obesitas Suatu Penyakit atau Kecacatan Kesehatan? 

Jika calon suami obesitas, adakah pengaruhnya pada pernikahan kelak?

Obesitas mungkin terdengar sepele, namun hal ini cukup berpengaruh pada kesehatan seseorang dan dapat berdampak pada pernikahan kelak. Pasangan suami istri setelah menikah pada umumnya menginginkan keturunan. Calon suami yang obesitas tentu memiliki pengaruh terhadap pernikahan, yaitu kesehatan diri sendiri, terhadap istri, dan juga risiko dalam memiliki keturunan. 

Impotensi

Obesitas pada awalnya tidak memiliki gejala, terutama pada anak muda. Namun saat usia bertambah, mulai muncul berbagai gejala. Tidak hanya pada perempuan, laki-laki obesitas juga memiliki dampak negatif pada proses fertilisasi dan kesehatan embrio dalam kehamilan. Obesitas pada laki-laki dapat menyebabkan disfungsi ereksi (impotensi) karena kolestrol tinggi, hipertensi, dan diabetes dapat menyebabkan aliran darah tidak baik sehingga terjadi masalah ereksi. Selain itu, kadar lemak yang tinggi juga mempengaruhi keseimbangan hormon baik pada laki-laki maupun perempuan, sehingga dapat menyebabkan turunnya libido. 

Baca: Inilah Jenis Penyakit yang Kerap Menyerang Kaum Adam

Infertilitas

Tingkat kesuburan laki-laki dapat dinilai melalui kualitas dan kuantitas sperma. Obesitas menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang dapat mempengaruhi produksi sperma. Pada laki-laki obesitas, terjadi peningkatan suhu pada area skrotum yang dapat menyebabkan terganggunya produksi sperma. Selain itu, peningkatan kadar lemak tubuh menyebabkan gangguan hormonal yang dapat menyebabkan buruknya kualitas sperma sehingga dapat mempengaruhi perkembangan awal janin.

Diabetes, hipertensi, hingga osteoartritis

Obesitas juga mempengaruhi kesehatan pada umumnya, sama halnya pada perempuan. Berat badan berlebih dan kadar lemak tinggi dalam tubuh berkaitan dengan diabetes, tekanan darah tinggi, kolestrol tinggi, dan gangguan tidur yaitu obstructive sleep apnea

Obesitas menyebabkan resistensi hormon insulin, yaitu hormon yang mengatur kadar gula darah dalam tubuh, sehingga tidak dapat meregulasi kadar gula dengan baik, dan dapat memicu terjadinya diabetes mellitus. Pada saat usia lanjut nanti, obesitas meningkatkan risiko terjadinya stroke, penyakit jantung koroner, serta kanker karena tingginya lemak dalam tubuh menyebabkan meningkatnya respon-respon inflamasi tubuh yang berdampak pada berbagai organ tubuh. 

Baca: Seberapa Besar Gen Ayah Berpengaruh Pada Anak?

Di masa tua nanti, osteoartritis (radang sendi) juga dapat menyerang pria obesitas. Penyebabnya adalah karena beban berat badan yang terlalu besar pada persendian. Hal ini turut berpengaruh terhadap masa depan dari pernikahan, mengingat kesehatan seorang anggota keluarga pasti berdampak pada kebahagiaan keluarga.

Pencegahan hal-hal buruk yang disebabkan obesitas ini dapat melalui perubahan gaya hidup untuk mengurangi berat badan. Diet sehat rendah kalori serta berolahraga rutin sangat dianjurkan untuk obesitas. Hal-hal ini terbukti membantu untuk meningkatkan kualitas hidup dari orang dengan obesitas.

 

Editor: Menur Adhiyasasti