Meskipun dianggap tidak praktis bagi sebagian kalangan, popularitas pembalut kain (washable pads) kian meningkat. Hal ini tak lepas dari semakin banyaknya orang yang tertarik menjalankan zero waste alias gaya hidup minim sampah. Dibandingkan dengan pembalut sekali pakai, pembalut kain membutuhkan lebih banyak tenaga untuk mencuci dan harga awal yang lebih tinggi. Namun, tidak ada sampah yang tidak dapat terurai yang mencemari lingkungan dari proses menstruasi penggunanya. Tentu saja hal ini menimbulkan kepuasan hati karena berhasil menjaga lingkungan dari kerusakan.

Menggunakan pembalut kain sebetulnya mudah, hanya saja membutuhkan pembiasaan. Wajar kiranya jika pada awal-awal penggunaan rasanya ribet harus mencuci setiap kali ganti pembalut. Apalagi jika harus beraktivitas di luar rumah yang tidak memungkinkan kita untuk langsung mencuci pembalut setelah dipakai. Belum lagi perasaan takut tembus sehingga kita bolak-balik mengecek kondisi pembalut maupun bagian belakang pakaian.

Nah, agar proses transisi dari pembalut sekali pakai ke pembalut kain terasa lebih mudah, ikuti tips berikut ini!

1. Jangan gunakan celana dalam yang terlalu longgar

Pembalut kain tidak menggunakan perekat, melainkan sebuah kancing agar pembalut dapat terpasang di celana dalam. Karenanya, penggunaan celana dalam yang terlalu longgar berpotensi membuat pembalut bergeser. Gunakan celana dalam yang masih memiliki karet pinggang yang berfungsi baik, namun juga tidak terlalu ketat.

2. Cuci pembalut segera jika memungkinkan

Noda darah dapat menimbulkan noda yang susah dihilangkan pada pembalut kain jika tidak segera dicuci. Saat berganti pembalut, sebaiknya cuci langsung pembalut dengan deterjen khusus bayi, sabun batang, atau cairan lerak untuk menghilangkan noda. Pemilihan deterjen yang aman bertujuan untuk membuat material pembalut lebih awet serta mengurangi potensi tertinggalnya residu deterjen yang membahayakan vagina. 

Merendamnya juga bisa menjadi pilihan untuk menghilangkan noda, namun usahakan untuk setidaknya membilasnya terlebih dahulu agar noda darah dan deterjen tidak menimbulkan bau tak sedap.

Untuk menghindari noda membandel, memilih pembalut berwarna gelap atau bermotif juga bisa menjadi solusi. Dengan berbagai merk yang ada di pasaran, memilih motif pembalut bisa menjadi hal yang menyenangkan, layaknya membeli pakaian.

3. Keringkan langsung atau gunakan mesin cuci

Setelah dicuci bersih, jemur langsung di bawah panas matahari untuk memastikan lapisan dalam pembalut kering sempurna. Bagian dalam pembalut terdiri dari beberapa lapis kain, termasuk yang bersifat anti air pada bagian dasar. Pengeringan yang tidak sempurnya dapat menimbulkan jamur kain serta bau tak sedap. Menggunakan pengering mesin cuci juga bisa mempercepat proses pengeringan.

Baca: Yuk, Kelola Sampah Bersama Keluarga

4. Bawa wet bag untuk menaruh pembalut kotor

Jika tidak berada di rumah, pembalut juga dapat disimpan sementara ke dalam wet bag, yaitu sejenis kantung kedap air sehingga noda darah maupun air (jika sempat membilas) tidak membasahi isi tas. Kantung plastic ziplock juga aman dari kebocoran, namun gunakan berulang kali agar tidak menimbulkan sampah plastik. 

5. Sedia stok pembalut lebih banyak

Pada saat menstruasi sedang deras-derasnya (sehingga lebih sering ganti pembalut) dan cuaca sedang tidak bersahabat, mengeringkan pembalut kain tentu menjadi masalah tersendiri. Karena itu, memiliki cadangan pembalut dalam jumlah banyak bisa menjadi solusi. Berapa banyak jumlah pembalut kain yang sebaiknya dimiliki? Pada tiga hari pertama menstruasi, sebaiknya ganti pembalut kain setiap 3-4 jam, sama ketika menggunakan pembalut sekali pakai.  Artinya, dalam satu hari dibutuhkan sekitar 6-7 pembalut kain. Jika membutuhkan 1-2 hari untuk mencuci jemur pembalut hingga kering, berarti 12-14 pembalut bisa menjadi jumlah minimal yang perlu dimiliki.

Baca: Mahalnya "Biaya" Pembalut Sekali Pakai Bagi Lingkungan

Memang terasa berat di kantong pada awalnya, namun jika dikalikan dengan jumlah pembalut sekali pakai yang digunakan selama ini, tentu jauh lebih murah. Memiliki pembalut kain dalam jumlah banyak juga mampu memperpanjang umur pembalut mengingat kain pelapis di bagian dalamnya juga mampu berkurang daya serapnya seiring dengan usia pemakaian. Ada merk yang tahan hingga 5 tahun pemakaian, ada juga yang hanya 2 tahun. Jadi, tetap rawat dengan baik pembalut kain. 

6. Lebih sering ganti pada saat menstruasi deras

Karena tidak mengandung material yang sama dengan pembalut sekali pakai, sudah tentu daya tahan pembalut kain terhadap kebocoran pun lebih rendah. Solusinya adalah dengan mengganti pembalut lebih sering. Berapa jumlah pastinya dapat diamati pada awal masa penggunaan mengingat karakter menstruasi berbeda-beda tiap orangnya. 

Baca: Dapatkah Menstruasi Menyebabkan Anemia?

Setelah 2-3 kali menstruasi menggunakan pembalut kain, kembali ke pembalut sekali pakai akan terasa “berbeda”. Bisa jadi terasa lebih lembab/pengap, bisa juga timbul iritasi pada area genital. Bagi yang selama ini selalu merasa wajar jika timbul rasa gatal saat memakai pembalut sekali pakai, mungkin perpindahan ke pembalut kain akan menyadarkan kita betapa kain yang minim bahan kimia ternyata lebih ramah di kulit.

 

 

 



Tanya Skata