Munculnya gaya hidup minim sampah turut memengaruhi pilihan produk pembalut wanita masa kini. Pembalut yang terbuat dari kain mulai banyak muncul di pasaran sebagai alternatif dari pembalut sekali pakai yang tidak ramah lingkungan. Sebagian pembalut kain diproduksi oleh industri rumah tangga dan industri kecil, namun peminatnya cukup banyak. Hal ini terbukti dari semakin beragamnya pilihan yang dijual secara online maupun di toko penyedia produk ramah lingkungan. Menstrual cup pun mulai masuk ke Indonesia meskipun masih banyak wanita yang belum cukup berani menggunakannya.

Memang, seberapa mahalkah “biaya” pembalut sekali pakai bagi lingkungan?

Dikutip dari Sustaination.id, tidak kurang dari 26 ton pembalut sekali pakai dibuang setiap hari di Indonesia. Mungkin Anda berpikir bahwa pembalut sebanyak itu terkonsentrasi di TPA atau Tempat Pembuangan Akhir, sayangnya masih banyak yang membuang pembalut di bantaran sungai, di sungai, dan akhirnya berakhir di laut. Hewan-hewan laut pun rentan mengonsumsi material yang terburai dari pembalut sekali pakai. Ini belum termasuk kotornya laut juga pantai dari sampah yang terbawa ombak.

Bukankah pembalut sekali pakai terbuat dari kapas yang dapat hancur bila terkena air?

Tidak sesederhana itu prosesnya. Memang benar pembalut sekali pakai terbuat dari kapas (cotton) dan selulosa dari pulp kayu, namun jangan lupakan lapisan dasar pembalut yang terbuat dari plastik berperekat. Komponen terakhir inilah yang membuat pembalut sekali pakai membahayakan lingkungan karena baru dapat terurai dalam waktu 200-800 tahun! Waktu ini jauh melampaui botol plastik –yang sedang gencar dikurangi penggunaannya- yang “hanya” membutuhkan 70-450 tahun untuk bisa terurai.

Baca: Waspada Bahaya Sampah Plastik

Fakta ini cukup memprihatinkan. Jika rata-rata wanita menggunakan sekitar 30 pembalut/tampon/pantyliners setiap bulan, berarti per tahun terbuang sekitar 360 pembalut. Jika seseorang mengalami menarche (menstruasi pertama) pada usia 14 tahun dan rata-rata usia menopause adalah 51 tahun, maka jumlah pembalut yang mungkin digunakan oleh seorang wanita saja mencapai 37 tahun x 360 pembalut, yaitu 13.320 pembalut. Ini belum termasuk pantyliners jika terjadi keputihan maupun pembalut nifas pasca melahirkan. 

Jumlah sebanyak itu terus bertambah seiring dengan bertambahnya populasi wanita, sementara bumi ini tidak bertambah luasnya. Angka harapan hidup rata-rata sekitar 60 tahun, namun pembalut sekali pakai baru hancur minimal 200 tahun. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi pada generasi anak cucu kita kelak? 

Mengapa masih banyak yang bertahan dengan pembalut sekali pakai?

Mungkin saja, belum banyak wanita yang mengetahui “mahalnya” biaya pembalut sekali pakai bagi lingkungan. Saat tukang sampah mengangkut limbah rumah tangga, kita menganggap urusan persampahan sudah beres. Padahal, sampah tersebut akan selalu berakhir di suatu tempat. Karena tempat ini jauh dari tempat tinggal kita, maka kita tidak dapat secara langsung merasakan efeknya. 

Mungkin juga, tidak banyak yang tahu pula bahwa sebuah pembalut sekali pakai ternyata kandungan plastiknya setara dengan 4 buah kantong plastik! Kantong plastik saja masih bisa didaur ulang, pembalut tidak. 

Baca: Fakta Tentang Plastik, Dari Laut Hingga Perut

Namun, mengetahui dampak lingkungan penggunaan pembalut konvensional tidak serta merta membuat wanita langsung beralih ke pembalut kain atau menstrual cup. Hal yang sudah biasa dilakukan bertahun-tahun tidak mudah diubah dalam satu waktu. Apalagi, menggunakan pembalut kain membutuhkan waktu ekstra untuk mencuci. Meskipun demikian, pembalut kain mampu dipakai hingga 2-7 tahun tergantung materialnya. Bayangkan berapa banyak pembalut sekali pakai yang dapat dikurangi dan berapa rupiah penghematannya. Ingin lebih hemat lagi? Menstrual cup mampu digunakan hingga 10 tahun. 

Jangan lupa, terdapat bahan kimia berbahaya juga dalam pembalut sekali pakai.

Harga mahal tidak hanya dibayarkan oleh lingkungan, namun juga kesehatan kita. Agar nampak bersih, higienis, dan memiliki daya serap tinggi, pembalut sekali pakai juga mengandung klorin dan dioksin untuk membuat warna pembalut menjadi putih, phthalates agar permukaan pembalut halus, serta pestisida yang digunakan untuk memelihara tanaman kapas. Inilah mengapa sebagian wanita mengalami iritasi saat memakai pembalut sekali pakai. Zat kimia ini menurut WHO juga dapat menyebabkan kanker rahim, kanker serviks, masalah imun, infertilitas, serta gangguan tiroid.

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, namun bisa jika kita berusaha. Apalagi, jika kita sudah merasakan perbedaan kenyamanan saat menggunakan pembalut sekali pakai dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan, pasti enggan kembali ke pembalut sekali pakai. Berani mencoba?

 

 



Tanya Skata