“Semua yang Ayah lakukan ini untuk kebaikan kalian..”

Jika rasa sakit bisa dipindahkan, semua orang tua pasti ingin dirinyalah yang merasakan sakit, bukan anaknya. Ketika anaknya sedih, hati orang tua seolah menangis. Ibu mungkin terlihat lebih terpukul jika anaknya terkena musibah karena wanita lebih halus perasaannya. Kemudian ayah datang untuk menenangkan, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tanpa ada yang tahu, bahwa dalam hati sang kepala keluarga pun merasakan kegagalan atas segala kesedihan yang dialami istri dan anaknya. Perasaan gagal untuk membahagiakan keluarganya.

Tanpa disadari, keinginan seorang ayah untuk menghindarkan keluarganya dari kesedihan membuatnya menjadi pengambil segala keputusan dalam keluarga. Hal inilah yang menjadi sentral cerita dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) karya sutradara Angga Dwimas Sasongko. 

Baca: Peran Ayah Bagi Remaja, Dari Akademik Hingga Percaya Diri

Awan (Rachel Amanda) adalah anak bungsu yang selalu dilindungi oleh kakaknya, Angkasa (Rio Dewanto) dan Aurora (Sheila Dara). Sejak usia 6 tahun, Angkasa sudah diminta ayahnya (Oka Antara/Donny Damara) untuk menjaga adik-adiknya, khususnya si bungsu Awan, karena suatu alasan. Hingga Awan dewasa pun, Ayah masih meminta Angkasa untuk mengantar jemput Awan ke tempat kerja. Tiada kesulitan yang dihadapi Awan, kecuali mendapat bantuan orang tua dan kakak-kakaknya. Hidup sangat mudah bagi Awan, hingga akhirnya Awan mengalami kegagalan besarnya: dikeluarkan dari tempat kerjanya.

Tak ingin Awan terlarut dalam kesedihan, Ayah memanfaatkan posisi di tempat kerjanya untuk melobi biro arsitek tempat Awan bekerja hingga akhirnya Awan diterima kembali. Sayangnya, Awan mengetahuinya dan konflik pun mulai muncul. 

Sebagai orang tua, mungkin kita dapat memahami apa yang dilakukan oleh Ayah: tidak ingin anaknya bersedih, gagal, kecewa. Akibatnya, orang tua menjadi terlalu protektif. Pola asuh seperti ini dapat dikatakan sebagai helicopter parenting. Istilah helicopter parent pertama kali muncul dalam buku Parents & Teenagers (1969) karangan Dr.Haim Ginott untuk menggambarkan orang tua yang terlalu banyak membantu melakukan hal yang dapat dilakukan sendiri oleh anaknya karena merasa bertanggung jawab atas kegagalan dan kesuksesan sang anak. 

Pada anak-anak, helicopter parent terlalu banyak memberi tahu cara melakukan sesuatu, jarang memberi waktu anak untuk bermain sendiri. Saat remaja, orang tua seperti ini dengan terlibat cukup banyak dalam hidup anak, mulai dari mengerjakan tugas sekolah, menentukan jenis les, menentukan lingkup pertemanan, hingga menentukan jurusan kuliah dan tempat kerja.

Mengapa mereka bertindak demikian?

Dalam situs Parents.com disebutkan bahwa ada beberapa pemicu orang tua bertindak overprotektif. 

Pertama, ada ketakutan anak menerima konsekuensi atas usahanya, seperti nilai jelek, gagal dalam perlombaan, atau tidak lolos wawancara kerja. Apalagi jika orang tua masih bisa mencegah hal tersebut terjadi. 

Kedua, takut akan dunia luar yang “kejam”. Persaingan di dunia kerja, kondisi ekonomi, maraknya kekerasan seksual, dan bullying.

Baca: Fakta tentang Kekerasan Seksual pada Remaja

Ketiga, rasa bersalah atau tekanan karena melihat orang tua lain yang lebih perhatian terhadap anaknya.

Terakhir, masa kecil yang kurang kasih sayang dan perhatian, sehingga orang tua tidak ingin anaknya merasakan hal tersebut.

Dalam film NKCTHI, sikap Ayahnya yang ingin melindungi Awan dengan segala cara ternyata membawa hasil yang sebaliknya. Awan menyadari bahwa ternyata selama ini dirinya tidak pernah tahu rasanya memilih, tidak tahu apa yang diinginkannya, karena semua keputusan dalam hidupnya diambil oleh ayahnya. Tidak sekalipun Ayah bertanya apa yang dibutuhkan oleh anaknya. Kini, Awan ingin bebas memilih seperti kakak-kakaknya, mandiri, berani, sementara Ayah menganggap Awan mulai membangkang. Hal ini membuat hubungan Ayah dan Awan merenggang. 

Baca: Hindari 8 Kalimat Ini Saat Berbicara dengan Remaja

Dari sini, kita bisa belajar bahwa seorang pemimpin keluarga sekalipun tidak dapat menghindarkan anaknya dari kekecewaan, kegagalan, kesedihan. Karena, dari situlah mereka belajar untuk menjadi manusia yang tangguh, belajar bangkit, belajar mencari jalan keluar. Anak yang tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan akan menjadi orang yang tidak percaya akan kemampuannya sendiri. Kasih sayang orang tua tidak seharusnya berbentuk perlindungan dari kegagalan. Ayah maupun ibu bisa mendampingi mereka menghadapi kegagalan sehingga mereka tahu apa yang harus diperbuat kala orang tua sudah tidak bersama mereka lagi.

Film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Marchella FP ini layak dijadikan refleksi bagi orang tua (tidak hanya ayah), berapapun usia anak. Tidak perlu kecewa jika apa yang kita lakukan terwakili oleh Ayah Awan. Kita pun memerlukan kegagalan untuk dapat menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi anak-anak, bukan?

 

 

 

 



Tanya Skata