Dalam mempersiapkan persalinan, sebaiknya calon ibu turut merencanakan jenis kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah bayi lahir. Alasannya, sejumlah alat kontrasepsi jangka panjang dapat digunakan segera setelah proses persalinan sehingga ibu tidak perlu repot membawa bayi ke dokter atau bidan untuk mendapatkan layanan KB.

Layanan KB Pasca Persalinan (KB-PP) dapat diberikan langsung setelah proses persalinan sampai dengan 42 hari setelahnya. Tujuannya adalah untuk mengatur jarak kelahiran anak, meningkatkan kesejahteraan keluarga, sekaligus meningkatkan angka harapan hidup ibu dan bayi. 

Sebelum persalinan, ibu hamil dapat berkonsultasi pada dokter dan bidan mengenai kelebihan dan efek samping setiap jeni KB agar lebih mudah menentukan pilihan. Jenis pilihan metode kontrasepsi jangka panjang terdiri dari kontrasepsi mantap (tubektomi atau vasektomi), AKDR/IUD, dan AKBK/implan. Sedangkan, jenis pilihan metode kontrasepsi jangka pendek terdiri dari suntikan, pil, dan kondom. 

Baca: Memilih Kontrasepsi, Efektivitas atau Harga?

Berikut adalah pilihan jenis kontrasepsi yang dapat digunakan pasca persalinan: 

a. Metode Operasi Wanita (MOW) atau tubektomi 

Tubektomi merupakan metode kontrasepsi mantap bagi pasangan yang ingin membatasi jumlah anak. Bagi ibu yang bersalin dengan Sectio Caesaria, tubektomi dapat dilakukan sesaat setelah bayi dikeluarkan. Bagi ibu yang bersalin secara normal, tubektomi dapat dilakukan dengan teknik laparoskopi (bedah di rongga perut dengan sayatan minimal). 

Baca: Serba-serbi Tubektomi yang Perlu Anda Tahu

Tubektomi dapat dilakukan maksimal 1 minggu pasca persalinan. Lewat dari waktu tersebut, tubektomi paling cepat dilakukan 4 minggu setelah persalinan. Tubektomi tidak akan mengganggu produksi ASI, sehingga dapat digunakan bagi ibu menyusui. 

b. Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi 

MOP merupakan metode kontrasepsi mantap yang ditujukan untuk pria bagi pasangan yang ingin membatasi jumlah anak. MOP dapat dilakukan kapan saja dan menjadi lebih efektif setelah 3 bulan pasca prosedur. 

c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/IUD 

IUD merupakan metode pilihan kontrasepsi jangka panjang yang efektif hingga 5-12 tahun (tergantung jenisnya). IUD dapat dipasang 10 menit setelah plasenta terlepas dari rahim atau maksimal 48 jam pasca persalinan. Lewat dari waktu tersebut, tubektomi paling cepat dilakukan 4 minggu setelah persalinan. 

IUD tidak mengganggu produksi ASI, sehingga dapat digunakan bagi ibu menyusui. Efek samping yang dapat terjadi adalah perubahan pola atau jumlah haid, nyeri perut, dan peningkatan cairan (sekret) vagina. 

d. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)/Implan 

Implan merupakan pilihan metode kontrasepsi hormonal yang efektif selama 3-5 tahun, tergantung jenis implan yang dipasang. Pemasangan implan disarankan 6 minggu pasca persalinan. Metode ini tidak menggangu produksi ASI, sehingga dapat digunakan bagi ibu menyusui. Efek samping yang dapat muncul adalah perubahan pola atau jumlah haid, peningkatan berat badan, nyeri kepala, mual, dan perubahan mood. 

e. KB Suntik

KB suntik merupakan metode kontrasepsi hormonal jangka pendek. KB suntik progestin 3 bulanan baru dapat diberikan di atas 6 minggu setelah persalinan dan aman digunakan bagi ibu menyusui. Sedangkan, KB suntik kombinasi 1 bulanan tidak dapat diberikan bagi ibu menyusui karena akan mengganggu produksi ASI. Efek samping yang dapat muncul adalah peningkatan berat badan, perubahan pola atau jumlah haid, nyeri kepala, dan perubahan mood. 

Baca: 8 Tips Menangani Efek Samping Suntik KB

f. Pil KB 

Pil KB merupakan metode kontrasepsi hormonal jangka pendek. Pil KB progestin (mini pil) dapat segera digunakan pada ibu pasca bersalin dan aman digunakan bagi ibu menyusui. Sedangkan, pil KB kombinasi tidak dapat diberikan pada ibu menyusui, karena akan mengganggu produksi ASI. Efek samping yang dapat muncul adalah peningkatan berat badan, gangguan pola atau jumlah haid, dan nyeri perut. 

Baca: ASI Terpengaruh Kontrasepsi, Ini Solusinya

g. Kondom 

Kondom merupakan metode kontrasepsi barrier (penghalang) jangka pendek yang digunakan pada pria. Kondom apabila digunakan secara baik dan benar akan sangat efektif sebagai alat kontrasepsi. 

Baca: Agar Bercinta Tetap Hot dengan Kondom

h. Metode Amenore Laktasi (MAL) 

MAL adalah metode kontrasepsi alamiah yang mengandalkan pemberian ASI secara ekslusif (minimal 8 kali sehari dengan jarak menyusui tidak lebih dari 4-6 jam), tanpa pemberian tambahan makanan ataupun minuman apapun. Tiga persyaratan yang wajib dipenuhi agar MAL efektif sekurang-kurangnya selama 6 bulan, yaitu usia bayi kurang dari 6 bulan, memberikan ASI ekslusif, dan ibu belum kembali menstruasi. Jika bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan, ibu dapat mempertimbangkan penggunaan metode kontrasepsi tambahan. Metode ini perlu dipertimbangkan pada ibu dengan HIV. 

 

 

Editor: Menur Adhiyasasti

 

 



Tanya Skata