Ibu. Membaca, mendengar tentangnya saja sudah membuat kita berdegup. Bagaimana tidak, Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita. Betapa besar perjuangannya, letih dan keringatnya yang menjadikan kita saat ini. Ia, yang tak kenal lelah berpacu dengan waktu untuk terus memberikan yang terbaik. Ia, baik bekerja maupun di rumah yang tak pernah sedetik pun lupa pada kita, anak-anaknya, dengan curahan kasih sayangnya yang tak putus. Tak habis kata untuk mendeskripsikan kasih sayang Ibu pada kita, bahkan pada anak-anak kita. Di hari yang spesial ini, yuk sedikit bernostalgia kenangan yang Anda ingat tentang Ibu. 

“Yang saya ingat, ibu senang bercerita. Tiap malam, ia selalu membacakan kami buku cerita, yang menjadikan saya tertarik menjadi penulis. Inilah saya sekarang, seorang penulis karena ibu yang mengenalkan pada kata-kata,” -Sandra, 20 tahun. 

“Ibu saya senang berpetualang. Rasanya tiap minggu, tak pernah luput berekreasi. Bahkan ketika adik masih berusia dua bulan, ibu sudah mengajak kami camping wisata di Cibubur selama dua hari. Repot? Sudah pasti. Tapi entah mengapa ibu tak menghiraukannya. Lelahnya terbalas melihat pemandangan yang dinikmatinya. Walau kini usianya sudah tak muda, dan sudah memiliki cucu ia masih tetap gemar travelling. Mungkin itu yang membuatnya tetap awet muda walau sudah tak belia,” -Amel, 35 tahun. 

“Hmm, ibu saya sabar sekali. Lima anaknya perempuan, terbayang kan betapa ributnya rumah kami. Tapi beliau selalu sabar mendengarkan satu persatu cerita kami. Ketika pulang sekolah, ia selalu mengajak kami duduk bersama di meja makan dan bercerita tentang hari itu. Ayah dulu seorang pilot, jadi kita menghabiskan banyak waktu dengan ibu. Banyak sekali memori yang saya ingat tentangnya, tapi sabarnya yang paling melekat di ingatan,” -Dania, 31 tahun.

“Galak, hahaha! Ibu saya tegas sekali. Sangat disiplin. Saya ingat dulu tak boleh naik ke atas tempat tidur sebelum mandi, lalu harus belajar tiap sore sebelum maghrib. Dari TK saya sudah terbiasa mandi dan membersihkan tempat tidur sendiri. Dulu, sih rasanya kesal dan malas sekali. Tapi sekarang, saya mengerti kenapa ibu melakukan itu. Memang, benar kata orang-orang, kita baru sadar maksud nasehat atau tindakan orangtua untuk kita saat dewasa. Terutama saat kita sudah memiliki buah hati. Kini, disiplin itu menurun ke anak-anak saya. They’ll thank me later, just like I do to my mother,” -Fania, 40 tahun. 

“Modern dan selalu terbuka. Saya bisa bercerita apa saja pada ibu. Ia selalu berusaha mengikuti tren terkini supaya bisa terus keep up dengan saya. Hal sensitif pun saya ungkapkan pada ibu, masalah teman, hingga kesehatan seksual saya bisa cerita dengan bebas dengannya. Saya bersyukur sekali memiliki dia di hidup saya. Tak ada Hari Ibu buat saya, karena untuknya semua hari adalah spesial.” -Hazel, 25 tahun. 

Momen spesial seperti Hari Ibu, menjadikan memori tentangnya teringat kembali. Yang baik, yang buruk, yang menyenangkan, dan menyedihkan terpampang bagai melihat rangkaian cerita. Walau semua hari, layaknya spesial untuk ibu, namun tak ada salahnya ungkap terima kasih atas segala jasa dan kenangan manis yang diukir bersama. Selamat Hari Ibu, untuk para ibu dan Anda!  

 



Tanya Skata