Siapa tak sering geleng kepala melihat tingkah laku anak ‘zaman now’ yang menghabiskan banyak waktu dengan gagdetnya? Bahkan, ketika playdate dengan teman sebaya yang mereka lakukan adalah bermain game interaktif di layar gadgetnya. Biasanya, kita hanya memandang seraya berpikir, “Bagaimana mereka belasan tahun ke depan ya, ketika mereka menjadi orang tua?”

Begini Bu, masa depan sudah dimulai sekarang dari Anda. Ya, Anda orang tua yang lahir antara tahun 1980-2000. Anda adalah ibu milenial.

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, penduduk milenial di Indonesia mencapai 33,75% di tahun 2017 dan meningkat hingga sekarang dengan jumlah yang berimbang antar lelaki dan perempuan. Kebanyakan dari mereka, memiliki persepsi yang sama. Mereka membesarkan bayinya dengan cara yang natural, sebisa mungkin mengASIhi dan say no to susu formula, menggunakan produk organik, serta menjadi orang tua yang tidak lagi mengikat anak dengan batasan berlebih. Tak hanya itu, ibu milenial kian dilirik oleh bermacam perusahaan untuk meningkatkan penjualan produknya. Bagaimana tidak? Ibu milenial memiliki gaya hidup modern dan cukup berdampak di kehidupan sosial. Tak percaya? Ini faktanya!

Para ibu milenial itu cerdas 

Kebanyakan para milenial pernah mencicipi bangku kuliah dibandingkan generasi dewasa muda lain. Lebih dari itu, kebanyakan ibu milenial memiliki tingkat pendidikan yang sama bahkan di atas para ayah. Terbukti, ibu zaman now adalah ibu yang berpendidikan tinggi. 

Melek teknologi 

Tak bisa dipungkiri, generasi saat ini dipengaruhi oleh internet. Jadi tak heran, kalau para ibu pun menggunakannya terutama untuk media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, Pinterest, Youtube adalah sebagian besar aplikasi yang digunakan. Sebanyak 17 jam per minggu para ibu terkoneksi dengan aplikasi tersebut yang berarti empat jam lebih banyak dari kebanyakan ibu lain. Ini menurut data demografi yang dilakukan oleh Weber Shandwick. 

Memiliki dampak sosial yang besar 

Para milenial senang berbagi, terutama lewat media sosial. Tentu Anda sadar banyak ibu milenial yang sukses menjadi blogger atau vlogger dengan berbagi tips seputar hal yang disukainya, mulai dari tips kecantikan hingga berbagi resep MPASI. Tulisan mereka bisa mempengaruhi cara berpikir ibu-ibu lainnya. Sebanyak 90% dari mereka berbagi informasi seputar produk yang digunakan, perencanaan keuangan, asuransi, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan anak. Ibu milenial cukup populer, karena followers mereka jauh lebih banyak dari close friends yang mereka miliki. Cukup berpengaruh, kan? 

Me time, please.

Ibu milenial tak memiliki banyak waktu berkualitas untuk dirinya. Me time atau waktu berkualitas untuk diri sendiri menjadi topik hangat belakangan karena berbagai peran dalam keluarga, karir, lingkungan sosial rentan menimbulkan ibu yang tidak bahagia, stres, bahkan depresi. Karenanya, ibu milenial rela merogoh kocek untuk membayar pengasuh dan tenaga paruh waktu atau berbagi peran dengan suami agar mampu tetap memiliki waktu untuk melepas penat maupun berkarya. 

Efisien waktu dan tenaga

Padatnya kegiatan membuat ibu milenial sering terjebak di dalamnya. Tanpa meninggalkan etika berkomunikasi secara langsung, ibu milenial memilih untuk berkomunikasi dengan orangtuanya via whatsapp dan mengirimkan undangan ulang tahun anak secara online. Surat menyurat? Tentu sudah bukan zamannya. Ibu milenial ingin tetap memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga dan kerabat namun dengan efisiensi waktu dan tenaga. 

Canggih dalam berbisnis 

Efisiensi waktu dan tenaga sungguh dimanfaatkan oleh para milenial. Dengan kemudahan transaksi berbelanja secara online, ibu milenial tidak ragu memulai bisnis dari rumah secara online untuk menyokong kebutuhan rumah tangga maupun untuk menyalurkan hobi. Ibu milenial mampu menyediakan waktu melayani pelanggan melalui ponselnya sembari tetap menjalankan peran domestiknya. Ini membuat bisnis online yang dilakukan ibu milenial bisa menghasilkan, bahkan berkembang sangat pesat jika dijalani dengan serius. 

Nah, terbukti bukan, bahwa menjadi ibu bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkarya, menghasilkan, dan tetap mampu menjalankan peran utamanya? 

 



Tanya Skata