Tanpa orang tua sadari, konflik dengan anak seringkali menyebabkan emosi dan stres. Tak jarang, pelampiasan emosi orang tua berimbas pada pemilihan kalimat yang tidak tepat, yang membuat anak pun ikut-ikutan tersulut emosinya dengan cara melawan, membantah, membentak, hingga berbohong. Maksud orang tua tidak tersampaikan, maksud anak pun tidak tersampaikan. Yang ada hanya adu mulut tanpa penyelesaian masalah.

Sebagai contoh, Andi (14) tidak sengaja menjatuhkan gelas hingga pecah di depan sang Ayah. Ayah pun langsung bereaksi, “Aduh, kok bisa jatuh sih? Kamu tuh selalu nggak hati-hati. Mana ini kena karpet lagi, bisa-bisa kena kaki.” 

Karena merasa disalahkan, Andi pun membalas, "Mana mungkin aku sengaja? Apalagi milih pecahin di karpet!" kemudian berlalu tanpa membersihkan pecahan gelas sebagai wujud rasa kesal karena tersinggung.

Mungkin, Ayah yang kaget bermaksud menyuruh Andi lebih berhati-hati agar pecahan gelas tidak melukai kakinya. Namun, pesan yang ditangkap Andi, Ayahnya lebih peduli pada gelas, karpet, dan ketidakhati-hatiannya di masa lalu. Akibatnya, kasus gelas pecah yang sebenarnya bisa selesai dengan cara membersihkan pecahan kaca, baik sendiri ataupun bersama-sama, menjadi panjang. Andi tidak membersihkan pecahan, bisa saja Ayah menjadi naik pitam karena merasa tidak dihormati, dan mengancam untuk menghukum Andi kecuali ia mau membersihkan pecahan gelas. 

Baca: Hindari 8 Kalimat Ini Saat Berbicara dengan Remaja

Andai saja Ayah menggunakan teknik I-Message, tentu akhir ceritanya akan berbeda. I-Message merupakan teknik menyampaikan pesan menggunakan sudut pandang "saya" (I), bukan "kamu" (You) agar orang tua dapat menyatakan perilaku anak yang tidak sesuai harapan tanpa menyalahkan anak sehingga membuat anak tidak merasa "diserang". Menggunakan I-Message melatih orang tua dan anak untuk:

1. Membangun rasa empati dengan cara menyampaikan perasaan

I-Message melatih orang tua dan anak untuk peduli pada sisi humanis manusia yang terkait dengan emosi dan perasaan yang terlibat pada suatu peristiwa/konflik.

2. Mengerti maksud/tujuan pembicaraan

Saat terjadi konflik, banyak orang tua yang terjebak bicara panjang lebar tanpa mengerti apa yang mereka ingin capai dari pembicaraan tersebut. Akhirnya, yang terjadi hanya pelampiasan emosi semata. Yang anak tangkap hanya: "Ibuku lagi marah", bukan "Ibu ingin aku nggak bolos biar nggak ketinggalan pelajaran", misalnya.

3. Tahu perilaku yang diharapkan dari pihak yang berkonflik dengannya

Dengan I-Message, orang tua belajar untuk menyampaikan dengan jelas perilaku apa yang mereka harapkan dari anak. Begitu pula sebalikya. Konflik berujung pertengkaran bisa membuat pembicaraan tidak terarah sehingga anak maupun orang tua tidak paham apa yang seharusnya mereka lakukan agar tidak menimbulkan konflik lagi di kemudian hari.

4. Menyelesaikan konflik dengan baik

Konflik bisa diselesaikan dengan paksaan/ancaman, bisa juga dengan mengabaikan/mendiamkan masalah. Namun, kedua hal tersebut bukanlah cara menyelesaikan konflik dengan baik. Penggunaan I-Message bisa membuka ruang diskusi dan saling memahami sebelum bersama-sama mencari solusi yang bisa disepakati.

Baca: Cara Merespon Konflik dengan Remaja, Anda yang Mana?

Bagaimana cara menggunakan I-Message? 

Pada kasus di atas, alih-alih menyalahkan Andi, Ayah bisa menunjukkan rasa empati terlebih dahulu, kemudian menyatakan perasaannya. Contoh:

1. “Kamu nggak apa-apa?" (Andi merasa Ayah mengkuatirkan dirinya bukan gelas dan karpetnya)

2. "Ayah kuatir kamu terluka." (Ayah menyatakan perasaannya)

3. "Sebaiknya kamu diam di tempat dulu, biar Ayah lihat sebelah mana yang bersih dari pecahan gelas. Kamu bisa melangkah ke sana." (Ayah mengerti, tujuannya berbicara agar Andi bisa tidak terkena pecahan gelas)

4. "Ayah kuatir kalau tidak dibersihkan akan melukai Ibu dan adikmu, atau tamu di kemudian hari. Kamu bisa bersihkan sendiri, atau perlu dibantu?" (Ayah mengharapkan Andi memembersihkan pecahan gelas)

5. Setelah selesai membersihkan pecahan gelas, Ayah bisa bertanya pada Andi kronologi kejadiannya. Pada posisi ini, baik Andi dan Ayah sudah dalam kondisi tenang. Andi pun bisa menyatakan perasaannya atas peristiwa tadi. Kedua belah pihak bisa saling menawarkan solusi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Lega ya rasanya, akhir dari cerita gelas pecah tadi berakhir damai. Semua banyak bergantung pada kemampuan orang tua mengendalikan diri, bukan anak. Anak dan remaja masih belajar bagaimana cara menyatakan emosi dengan sehat, dan mereka belajar dari Anda. Karena itu, semakin konsisten orang tua menggunakan I-Message, semakin besar pula kesempatan anak belajar menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat dan damai.

 



Tanya Skata