Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan, terdapat total 349.882 kasus HIV yang dilaporkan hingga Juni 2019. Dari jumlah tersebut, 33% penderita AIDS adalah perempuan. Sementara itu, menurut status pekerjaan, ibu rumah tangga menempati posisi kedua penderita AIDS terbanyak dengan jumlah 16.854 orang. Meskipun penyebab penularan terbanyak (70,2%) adalah melalui hubungan seksual, namun penularan melalui proses kehamilan dan persalinan tetap ada, yaitu sebesar 2,9%.

Transmisi dari ibu ke anak merupakan sumber utama penularan infeksi HIV pada anak dengan frekuensi mencapai 25-30%. Hal ini terjadi akibat terpaparnya janin terhadap darah ibu saat di dalam kandungan, terpaparnya janin terhadap cairan genital saat persalinan normal, dan melalui ASI. Itulah mengapa pemerintah saat ini telah mewajibkan calon pengantin untuk melakukan cek kesehatan pranikah sebagai salah satu syarat pernikahan. Pemerintah pun telah mengatur skrining HIV bagi ibu hamil melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI (Permenkes) No 21 Tahun 2013.

Baca: Calon Pasangan Positif HIV, Mungkinkah Tidak Tertular?

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh wanita yang divonis positif HIV namun tetap ingin hamil? Atau, bagaimana jika ibu hamil dinyatakan positif HIV?

Wanita yang terinfeksi HIV disarankan untuk selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual atau menunggu viral load (kadar virus HIV dalam darah) berada pada status tidak terdeteksi sebagai syarat amannya kehamilan. Viral load dapat ditekan jumlahnya jika wanita yang positif HIV mengonsumsi obat-obatan ARV (anti retroviral).

Kombinasi ARV yang tepat dan persalinan caesar terbukti dapat menurunkan risiko transmisi HIV dari ibu ke anak dan dapat mencegah komplikasi pada kehamilan secara signifikan. Jika tidak, rentan terjadi kelahiran prematur, ketuban pecah dini, berat bayi lahir rendah, anemia, janin tidak berkembang, kematian prenatal, dan endometriosis pasca persalinan. Apalagi, berkembangnya virus HIV pada fase kedua tidak memiliki gejala apapun. 

Baca: Kenali Gejala HIV

Karenanya, dokter akan menyarankan ibu hamil dengan HIV untuk mendapatkan terapi anti retroviral (ART). Sederhananya, ART yang terdiri dari kombinasi berbagai obat ini berfungsi untuk:

1. Mencegah replikasi/penggandaan virus HIV

2. Mencegah virus HIV masuk ke sel CD4, tempat pertahanan tubuh berada

3. Mencegah virus HIV yang telah masuk sel CD4 untuk menyelesaikan proses penggandaan sel.

Setiap ibu hamil dapat mengonsumsi lebih dari satu jenis obat. Beberapa obat-obatan yang termasuk ARV adalah lamivudine (3TC), zidovudine (ZDV), nevirapine (NVP), indinavir, dan nelfinavir. Penggunaan obat akan disesuaikan dengan usia kehamilan karena beberapa obat dapat menyebabkan cacat pada janin. 

Baca: Kisah Perjuangan Lilis, Ibu dengan HIV

Berdasarkan pedoman Depkes tahun 2005 dalam Seri Buku Kecil: HIV, Kehamilan, dan Kesehatan Perempuan yang diterbitkan oleh Yayasan Spiritia, skema pengobatan yang yang dapat dilakukan oleh ibu hamil adalah:

-Ibu hamil yang terinfeksi HIV dan sama sekali belum pernah berobat, harus segera memulai ART meskipun kehamilan berada pada trimester pertama. 

-Mereka yang pernah melakukan ART sebelum hamil dapat meneruskan konsumsi obat dengan konseling terlebih dahulu untuk mengetahui efek samping obat.

-Pada trimester pertama, ibu hamil sebaiknya menghindari evavirenz karena dapat menyebabkan cacat pada janin. Ganti dengan nevirapine untuk sementara waktu.

-Dokter dapat menawarkan kombinasi ARV baru (jika sebelum hamil telah memulai terapi) karena selain ada yang menyebabkan cacat janin, ada juga yang efek sampingnya terlalu berat mengingat ibu hamil biasanya mengalami mual muntah di awal kehamilan. 

-Pada minggu ke 28, ibu hamil dapat memulai terapi AZT yang efektif mengurangi potensi bayi tertular HIV hingga di bawah 8%. 

-Jika ibu hamil baru mengetahui positif HIV di akhir masa kehamilan, obat yang diberikan adalah AZT dan lamivudine pada minggu ke 36, dengan risiko terjadi resisten terhadap obat karena tidak dipakai dalam satu rangkaian ART (biasanya terdiri dari 3 jenis obat).

-Jika ibu hamil mengetahui dirinya terinfeksi sebelum persalinan, dapat digunakan nevirapine saja meskipun ada risiko resistensi seperti poin sebelumnya.

Meskipun memiliki sejumlah efek samping, ART terbukti mampu mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi. Jadi, tetap disarankan untuk melakukan terapi anti retroviral.

 

Editor: Menur Adhiyasasti



Tanya Skata