“Begitu mengetahui saya terjangkit HIV, hati rasanya hancur sekali. Sulit sekali menerimanya, apalagi dua anak saya masih dalam usia remaja. Masih panjang perjalanan mereka, akankah saya hadir untuk mereka? Apakah mereka perlu tahu? Bagaimana mengatakannya?” –tanpa nama, 41 tahun. 

Mengetahui bahwa Anda terjangkit penyakit HIV saja rasanya sudah berat, rasa dunia hancur dalam tatapan mata, apalagi harus mengatakannya pada anak? Beragam emosi bisa berkecamuk dalam hati. Sangat normal untuk merasa takut, gelisah, merasa bersalah, overwhelmed. Karenanya, di saat terpuruk ini, kehadiran teman, orang terdekat, atau konselor akan sangat membantu, terutama pasangan. Sebelum memulai berbicara pada anak, coba renungkan dan persiapkan agar Anda tak salah ucap dan anak bisa mengerti dengan baik. 

Perlukah saya mengatakan hal ini pada anak? 

Bisa jadi perlu. Menurut Christa Peterson, PsyD, seorang spesialis anak bersertifikasi di Seattle Children’s Hospital, menjelaskan pada anak akan penyakit Anda adalah yang terbaik. “Seringkali, lewat intuisi anak terasa jika ada sesuatu yang tidak beres pada orang tuanya”, ujar psikoterapis Bernard Douglas. Tak terkecuali pada remaja. Apalagi, mereka sudah cukup pintar untuk mengecek obat-obatan yang asing bagi mereka. Jika ini terjadi, tentu mereka akan merasa dibohongi. Pertanyaan pun akan muncul di benak mereka, merasa tak dianggap, dan berujung pada hilangnya kepercayaan pada orang tuanya. Anda tak ingin ini terjadi bukan? 

Siapkah saya? 

Tak perlu buru-buru mengatakan semua pada anak, saat Anda baru mengetahui status HIV. Bicarakan secara detil dengan tim medis, cari tahu apa opsi yang bisa diambil. Susun rencana pengobatan karena Anda tentu ingin anak mengerti kondisi dan cara pengobatan Anda. Siapkan diri untuk bisa bersikap tangguh dan yakinkan anak bahwa semua akan baik-baik saja (walaupun jika Anda tahu yang terjadi, justru sebaliknya). Aura positif yang Anda sebar untuk anak bisa menguatkan Anda juga dalam menghadapi kondisi sulit. 

Bagaimana cara mengatakannya?

Gunakan kalimat yang sesuai dengan usia anak, yang berarti sederhana untuk anak usia dini, dan lebih detil untuk para remaja. Anda bisa gunakan kalimat sederhana namun jelas, seperti “Sulit untuk Ayah/Ibu mengatakan ini padamu. Tapi Ayah/Ibu sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Dokter sudah melakukan beberapa tes dan Ayah/Ibu positif terjangkit virus Human Immunodeficiency atau biasa disebut HIV.” Jelaskan pada mereka, bahwa saat ini tak seperti zaman dulu (dimana HIV adalah penyakit mematikan yang ganas). Kini, banyak obat-obatan yang bisa membantu menolong penderita HIV untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih panjang dan sehat.

Atau, jika Anda terjangkit penyakit yang lebih serius, melibatkan AIDS misalnya, katakan, ”Ayah/Ibu memiliki penyakit lain yang sangat serius. Sangat serius berarti akan ada kondisi tidak menyenangkan yang akan Ayah/Ibu lalui bersama kamu, walaupun tak setiap hari akan terasa berat.” Buat mereka paham, bahwa kehadiran mereka sangat berarti untuk Anda, dan dukungan merekalah yang akan menguatkan Anda. Tenangkan dengan berkata, “Kita akan melalui ini semua bersama, Ayah/Ibu akan berusaha membuatnya mudah untuk kamu.” 

Lalu bagaimana selanjutnya? 

Tak mudah memang mengatakan jujur pada anak apa yang terjadi. Berkata jujur, akan jauh lebih mudah daripada menutupi apa yang terjadi. Ketika mereka sudah tahu, akan ada kemungkinan orang mulai tahu dan berbicara. Akan ada perasaan baru yang akan muncul saat anak mendengar komentar orang lain tentang penyakit Anda. Sebelum hal tersebut terjadi, lakukan langkah berikut : 

1. Berdamai dengan diri sendiri dulu. Terima dan jalani dengan ikhlas segala proses. 

2. Tumbuhkan komunikasi dan kedekatan dengan anak. 

3. Cari dukungan yang kuat, sebelum Anda memutuskan untuk bicara dengan anak atau kerabat dekat (termasuk kolega dan teman). Cari pula dukungan keluarga atau orang terdekat untuk anak. Tak mudah menerima informasi, ia juga butuh orang lain untuk bersandar. Mungkin tak di satu waktu, anak akan terus bertanya hingga merasa nyaman. Biarkan anak bertanya hingga ia puas.

4. Coba untuk relaks dan positif, tak semua bisa berjalan sesuai dengan harapan. Emosi anak mungkin akan bertentangan dengan apa yang Anda perkirakan. Tidak apa-apa, mereka juga butuh mencerna situasi yang terjadi. Dengan dukungan dan afirmasi positif, kelak mereka akan paham, mengerti, dan menerima. 

5. Terakhir, beri pelukan. Anak (dan Anda) sangat membutuhkannya. 

 



Tanya Skata