Saat Anda mengalami gejala seperti sakit kepala, sariawan, kelelahan, radang tenggorokan, hilang nafsu makan, diare, nyeri otot, membengkaknya kelenjar getah bening, dan berkeringat, ada kemungkinan virus HIV sedang menginfeksi tubuh Anda. Apalagi jika Anda melakukan hubungan seks tanpa pelindung, memiliki lebih dari satu pasangan, dan menggunakan narkoba jarum suntik. Karena itu, tidak ada salahnya Anda melakukan VCT atau voluntary counseling and testing atau konseling dan tes HIV sukarela.

Baca: Kenali Gejala HIV

World Health Organisation (WHO) telah menetapkan bahwa pemeriksaan HIV bersifat personal (sadar diri), rahasia, terarah, akurat dan terhubung dengan pengobatan yang tepat. Jika terinfeksi HIV dan memiliki risiko tinggi, penderita dianjurkan untuk mendapatkan pemeriksaan HIV dan dapat dilakukan konsultasi dan konseling terlebih dahulu pada tenaga kesehatan yang ahli. 

Beberapa jenis tes yang mungkin dilakukan antara lain:

Tes Antibodi

Tes ini bertujuan dalam mendeteksi antibodi HIV-1 dan HIV-2 yang dihasilkan oleh tubuh penderita untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12 minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan dilakukan.

Tes Antigen

Dilakukan untuk mendeteksi p24, yaitu suatu protein yang menjadi bagian dari virus HIV. Diperlukan waktu 2-6 minggu setelah pasien terinfeksi.

Bila skrining menunjukkan pasien terinfeksi oleh HIV, maka penderita perlu menjalani tes lanjutan untuk memastikan hasil skrining, membantu petugas kesehatan mengetahui tahap infeksi, serta menentukan metode pengobatan yang tepat. Pemeriksaan selanjutnya:

Hitung Sel CD4

CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang merupakan target dari HIV. Semakin sedikit jumlah CD4 menunjukkan kemungkinan penderita mengalami AIDS. Jumlah normal CD4 berada dalam 500-1400 sel per milimeter kubik darah. Pada infeksi HIV yang akhirnya berkembang menjadi AIDS, jumlah tersebut berada di bawah 200 sel per milimeter kubik darah.

Pemeriksaan Viral Load (HIV RNA)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menghitung RNA, yaitu merupakan bagian dari virus HIV yang fungsinya adalah untuk bereplikasi atau memperbanyak diri. Jumlah RNA yang lebih dari 100.000 per mililiter darah menandakan infeksi HIV akut. Namun, jika jumlahnya di bawah 10.000 per mililiter darah menunjukkan bahwa replikasi dari virus tidak teralu cepat.

 

 

Editor: Menur Adhiyasasti



Tanya Skata