Survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 menunjukkan bahwa pengguna internet terbanyak adalah mereka yang berusia 15-19 tahun, disusul oleh usia 20-24 tahun. Dari data tersebut, 91% dari mereka yang berusia 16-24 menggunakan internet untuk mengakses media sosial. Tidak heran, remaja menjadi kelompok usia yang paling rentan terhadap kejahatan seksual di media sosial. Salah satunya dalam bentuk revenge porn.

Apa itu revenge porn?

Revenge porn adalah kegiatan menyebarkan konten seksual baik dalam bentuk foto maupun video tanpa seizin orang yang muncul di dalam foto dan video tersebut. Tujuannya bisa untuk balas dendam (revenge) atau menjelekkan orang tersebut. Beberapa contoh kasus yang terjadi adalah remaja yang melakukan sexting dengan pacarnya, kemudian setelah putus salah satu pihak sakit hati dan menyebarluaskan foto berbau seks mantan pacarnya.

Kebanyakan korban revenge porn adalah mereka yang berusia remaja hingga usia pertengahan 20an. Tentu saja, korbannya kebanyakan adalah wanita dengan usia paling muda 11 tahun. Penyebabnya tidak lain adalah ketidaktahuan pelaku sexting akan dampak jangka panjang dari foto atau video seks yang mereka kirim.

Baca: Remaja Terlibat Sexting, Harus Bagaimana?

Apa dampaknya bagi korban?

Meskipun terjadi di dunia maya, sebagian besar korban revenge porn merasakan dampak yang sama dengan yang dialami oleh korban kejahatan seksual secara langsung. Beberapa hal yang dialami atau dirasakan korban yang masih remaja adalah:

1. Depresi dan kecemasan

Mengetahui bahwa hal paling pribadi dari dirinya diketahui oleh banyak orang tanpa dapat ia kendalikan tidak hanya membuat korban merasa malu, sedih, cemas, marah pada pelaku, namun juga  menyalahkan diri sendiri sekaligus merasa tak berdaya. Solusi yang dirasa paling mudah dilakukan adalah menarik diri dari segala lingkungan sosial. Bagi remaja yang masih bersekolah, hal ini dapat membuat pendidikannya terbengkalai. 

2. Kehilangan harga diri dan kepercayaan diri

Remaja masih dalam proses membangun konsep diri dan harga diri. Revenge porn tidak hanya menghancurkan harga dirinya namun juga membuatnya memiliki konsep diri yang negatif. Hal ini akan membuatnya makin rentan terhadap perilaku berisiko lainnya seperti konsumsi alkohol dan narkoba. 

3. Hilangnya kepercayaan terhadap sosok pasangan di masa depan

Korban revenge porn merasakan kekecewaan luar biasa terhadap orang yang mereka anggap menyayangi mereka. Karena itulah, mereka bisa kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang dulu mereka percayai, termasuk terhadap laki-laki secara umum (jika korban adalah perempuan), yang akan mempengaruhi kehidupan bersama pasangan di masa depan.

4. Rentan terhadap pelecehan seksual di dunia nyata

Beberapa foto ataupun video revenge porn yang telah diunggah di situs pornografi maupun menjadi viral membuat korban mudah dikenali. Hal ini bisa membuat orang yang memiliki niat buruk terhadap korban berusaha mencari tahu korban dalam kehidupan nyata, seperti stalking akun media sosial korban dan internet, menguntit, hingga melakukan pelecehan seksual. 

5. Kehilangan pekerjaan dan kesempatan pendidikan

Bagi remaja yang telah memasuki dunia kerja, menjadi korban revenge porn dapat mempengaruhi karirnya dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Termasuk di dalamnya kesempatan dalam hal pendidikan seperti memperoleh beasiswa. Bukan tidak mungkin, orang tua korban juga akan terkena dampaknya dalam dunia pekerjaan, lingkungan sosial, dan keagamaan.

6. Data di dunia maya yang tidak akan hilang

Kasus pelecehan seksual akan hidup selamanya dalam ingatan korban, namun foto dan video korban revenge porn akan ada selamanya di dunia maya dan tidak mungkin dapat dihapus. Sejumlah korban berusaha menghapus foto-foto mereka yang ada di situs pornografi, namun hari-hari berikutnya selalu ada lagi yang tersebar. Korban yang sudah menjadi penyintas (survivor) pun masih dapat menemui fotonya di internet, meskipun mereka sudah menikah, bahkan memiliki anak. Pindah kota, berganti nama dan penampilan sering ditempuh korban untuk menghapus jejak masa lalu. 

7. Bunuh diri

Ya, hal terakhir yang bisa dipikirkan korban untuk mengakhiri musibah yang tak ada akhirnya ini adalah bunuh diri. Apalagi, jika korban sudah menempuh jalur hukum namun tidak mendapatkan respon positif. Data dari kampanye End Revenge Porn di AS menunjukkan bahwa 51% korban berpikir untuk melakukan bunuh diri.

Mengingat besarnya dampak revenge porn pada korban, termasuk remaja, orang tua perlu menyadari peran pentingnya untuk memberi pemahaman pada remaja mengenai seksualitas dan penggunaan gadget secara bertanggung jawab. 

 

 

Editor: Menur Adhiyasasti

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata