Dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia, berbohong normal dilakukan oleh seorang anak. Sebuah penelitian oleh Victoria Talwar pada tahun 2008 menunjukkan bahwa anak-anak usia 3-8 tahun sudah dapat berbohong dan hal tersebut terjadi tanpa diajarkan. 

Pada saat perkembangan emosional dan kognitif berlangsung, seorang anak hingga remaja seringkali melakukan tindakan yang tidak disukai ataupun tidak disetujui oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Berbohong adalah suatu cara untuk menghindari masalah ketika seorang remaja melakukan suatu “kesalahan”. Usia 7 tahun ke atas, anak sudah mampu berbohong dengan cara “lebih baik”, yaitu dengan mengarang cerita dan menceritakan kebohongan tersebut secara biasa saja, seolah-olah hal tersebut benar adanya. 

Saat anak beranjak remaja, orang tua tentu penasaran apakah anak mereka berbohong mengenai suatu hal atau tidak. Apalagi, ketika perilaku remaja mereka tidak seperti biasanya. Wajar saja, pada remaja kebohongan yang tidak terungkap dapat berakibat fatal apalagi jika kebohongan tersebut menyangkut perilaku berisiko. Bertanya langsung terkadang membuat orang tua kuatir remaja merasa diinterogasi dan malah semakin tertutup. Pada titik ini, orang tua mulai berpikir mungkin tidak ya, kebohongan remaja mereka dideteksi?

Meskipun mendeteksi kebohongan dan membaca bahasa tubuh merupakan ilmu yang cukup kompleks, jawabannya mungkin saja. Selain dengan cara melihat perubahan kebiasaan dan perilaku anak, kebohongan anak dapat dideteksi melalui sejumlah bahasa tubuh berikut ini, seperti yang dijelaskan dalam situs Science of People:

1. Ketidakcocokan antara perkataan dan bahasa tubuh

Saat remaja menyatakan mereka marah tetapi wajahnya menunjukkan rasa takut, bisa jadi remaja sebenarnya takut namun memaksakan diri untuk terlihat tidak takut. Jeda antara perkataan dan bahasa tubuh juga bisa menjadi indikator adanya kebohongan.

2. Ekspresi lega ketika berganti topik

Ada kalanya remaja memiliki banyak hal yang dianggap sebagai privasi dalam topik tertentu, seperti hubungan asmara. Ketika orang tua bertanya tentang hal ini –dan remaja tidak ingin menceritakan dengan detil- maka wajar jika mereka berusaha menutupi sejumlah hal dengan kebohongan. Begitu Anda mengganti topik pembicaraan dan mereka terlihat lega, bisa jadi mereka telah melakukan kebohongan. Bisa juga, mereka yang berusaha untuk mengganti topik pembicaraan.

3. Menghindari kontak mata

Anak kecil mungkin menghindari kontak mata dengan orang dewasa saat mereka melakukan kebohongan, namun anak yang lebih besar bisa menjaga kontak mata agar konsisten di satu titik. Hanya saja, orang tua dapat melihat mata mereka membesar saat melakukannya atau mempengaruhi ekspresi wajah hingga terlihat  tidak seperti biasanya.

4. Menunjukkan ekspresi mikro

Ekspresi mikro (microexpression) muncul hanya seperlima belas atau seperdua puluh lima detik, karena itu Anda harus jeli. Ekspresi ini muncul saat anak berusaha menyembunyikan dengan sadar tentang perasaannya. Bentuk ekspresi mikro ini antara lain naiknya alis dan jatuhnya rahang saat kaget, mulut terbuka dan bibir tegang saat takut, dan pandangan mata ke bawah saat anak sedih.

5. Petunjuk verbal

Jika remaja menjawab pertanyaan sulit dengan kalimat yang sangat umum, mungkin mereka menyembunyikan sesuatu. Misal, “Kakak pernah nyoba rokok nggak?” dan jawabannya, “Ah, Mama, rokok kan bahaya buat kesehatan.” Jawaban seperti ini bisa mengindikasikan kebohongan karena mereka tidak menjawab langsung “ya” atau “tidak”. Anak bisa menambahkan kalimat-kalimat lain saat terjadi keheningan setelah jawaban tersebut terucap Anda percaya ia tidak merokok.

6. Nada suara meninggi

Nada suara yang meninggi bisa mengindikasikan rasa takut dan cemas, juga merasa terdesak dengan pertanyaan yang Anda utarakan.

7. Mengulang pertanyaan

Mengulang pertanyaan dilakukan untuk mengulur waktu sehingga anak bisa menyusun kalimat untuk menutupi kebohongannya.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika Ananda menunjukkan tanda-tanda di atas? 

Menurut Eileen Kennedy-Moore, Ph.D, psikolog klinis di Princeton, hindari menuduh anak melakukan kebohongan dan memaksa mereka untuk mengaku. Hal ini malah mendorong anak untuk kembali berbohong. Sebaliknya, saat Anda akan bertanya sesuatu yang penting, katakan dengan lembut, “Ibu/Ayah menghargai kejujuranmu.” Penegasan tersebut membuat anak paham bahwa kejujuran merupakan nilai penting dalam keluarganya dan membuatnya cenderung menjaga kejujuran.

Jangan lupa, selalu contohkan kejujuran sejak dini. Hindari kebohongan sekecil apapun, seperti menjanjikan permen jika anak berhenti menangis (namun ternyata tidak diberi permen), karena saat remaja ia bisa menganggap berbohong adalah hal yang wajar.

 

Editor: Menur Adhiyasasti

 



Tanya Skata