Istilah sexting mungkin kurang populer di kalangan kita para orang tua. Namun, kita pasti sudah sering mendengar tersebarnya foto tidak senonoh artis X atau video viral remaja yang berhubungan seks. Mungkin, korban bermaksud mengirimkan foto dan video tersebut untuk konsumsi pribadi pasangan masing-masing, sayangnya tersebar luas. Nah, mengirimkan pesan bermuatan seksual tersebut lah yang disebut dengan sexting, atau gabungan dari kata sex dan texting. Tidak hanya mengirim pesan seksual lewat handphone, sexting juga mencakup aktivitas menerima dan meneruskan pesan yang bermuatan seksual baik dalam bentuk tulisan, foto selfie, atau pesan bergambar lewat telepon seluler, komputer atau perangkat digital lain. 

Menambah kemesraan suami istri

Sebenarnya, bagi pasangan yang sudah menikah, melakukan sexting dengan pasangan dapat menambah kemesraan lho! Apalagi, jika waktu berkualitas dengan pasangan semakin sedikit karena anak yang masih kecil-kecil, atau hubungan semakin hambar karena rumah tangga menjadi tak ubahnya sebuah rutinitas. Menurut sejumlah studi yang disebutkan dalam situs NBC News, saling mengirim pesan yang “menggoda” –termasuk foto- membawa dampak positif pada kedekatan emosional dan seksual pada pasangan yang memiliki komitmen atau menikah.

Risiko tersebar luas

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa sexting terkirim dengan cara kerja yang sama seperti pesan dalam bentuk digital lainnya. Sekali mengirim, tak bisa dibatalkan. Meskipun ada fitur delete chat alias menghapus pesan di aplikasi WhatsApp, namun ada batas waktu pesan tersebut tidak lagi dapat dihapus. Jika sexting hanya dilakukan dengan pasangan, kita tetap harus berhati-hati karena konten tersebut bisa saja terbaca atau terlihat oleh orang lain, baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Telepon pintar dengan layar sentuh memperbesar risiko pesan terkirim tanpa sengaja, khususnya ke orang-orang yang sering kita kontak. Yang berbahaya, jika gawai tempat kita menyimpan pesan sexting dicuri orang atau akun kita diretas. Bukan tidak mungkin hal pribadi kita tersebar di dunia maya. 

Konsekuensi hukum

Kasus di atas baru menyangkut pesan dan foto pribadi. Tidak banyak yang menyadari bahwa mengirimkan atau sekedar meneruskan pesan tanpa seijin pemilik foto adalah pelanggaran privasi yang cukup serius. Di Australia, undang-undang tentang sexting sudah mulai diberlakukan. Anak-anak maupun dewasa yang mengirimkan gambar selfie telanjang atau berbau pornografi akan dipenjarakan selama 2 tahun atau terkena denda sebesar $10 ribu jika dinyatakan bersalah. 

Di Indonesia sendiri, pelanggaran sexting masuk dalam UU Pornografi pasal 4 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat gambar yang berhubungan dengan telanjang, mempertunjukkan alat kelamin, atau aktivitas seksual (baik yang normal maupun yang menyimpang). Pelaku bisa terkena jeratan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 250 juta rupiah. Cukup mengerikan, bukan? 

Karena itu, sebelum berani menekan tombol send, tanyakan dulu hal berikut pada diri sendiri:

Siapkah saya?

“Apakah saya mau melihar gambar yang saya kirimkan terpajang di halaman utama surat kabar atau menjadi trending topic di media sosial?” Jika jawabannya iya, maka kita harus siap dengan konsekuensinya, baik secara pribadi maupun secara hukum. Kita tidak akan tahu nasib gambar kita saat sudah berada tangan orang lain. Sebesar apapun kepercayaan kita pada orang tersebut, bukan jaminan ia tak menyebarkan foto pada yang lain. Sayangnya, orang bisa melakukan tindakan kejam yang tak kita sangka. Karenanya, kita harus selalu waspada. 

Keinginan pribadi atau paksaan? 

Memiliki, mengirimkan, atau mengambil foto telanjang (apalagi) dengan anak usia di bawah 18 tahun, adalah ilegal walaupun ada kesepakatan antar keduanya. Jika ada paksaan dari orang untuk mengirimkan foto pribadi yang tak senonoh, walaupun dari suami/istri sekalipun, maka itu adalah tanda hubungan yang tidak sehat dan kita berhak melaporkannya. 

Jadi, pertimbangkan kembali untuk melakukan sexting dengan pasangan. Jika memang banyak dampak positifnya bagi pernikahan, pastikan kita memiliki kesepakatan untuk segera menghapus pesan tersebut segera setelah terbaca. Jika tidak, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keharmonisan suami istri.

 

Artikel ini adalah bagian dari kerjasama dengan nova.id, situs wanita yang menyajikan berita seputar dunia wanita, busana, kecantikan, kuliner sedap, selebriti, kesehata, profil, keluarga. 



Tanya Skata