Saat mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan adalah laki-laki, para ayah tentu sudah membayangkan segudang aktivitas apa yang bisa dilakukan bersama. Mulai dari menemani ke bengkel, bermain bola, atau sekadar bermain game. Ya, beragam kegiatan ini mudah dilakukan bersama saat anak masih kecil. Namun, ketika dewasa dan mulai memiliki kesukaan yang (bisa jadi) berbeda dengan ayah, aktivitas bersama pun mulai berkurang. Yuk, kembalikan masa emas kedekatan dengan anak lelaki Anda, dengan cara-cara berikut ini! 

1. Bermain game tentang kegemaran anak

Saat anak masih kecil, Anda mungkin mengetahui dengan detil apa yang ia sukai seperti karakter kartun favorit, hewan, atau mobil-mobilan. Ketika anak laki-laki beranjak remaja, Anda masih bisa kok mengetahui kesukaannya. Caranya, Anda bisa melihat apa yang sering diaksesnya di YouTube, apa yang sering ia bicarakan dengan teman-temannya (atau sepupu-sepupunya saat kumpul keluarga), apa yang ia minta Anda belikan. Mengajaknya mengobrol juga bisa menjadi cara untuk menemukan hal favoritnya. Jika Anda sudah menemukannya (misalnya anak menyukai sepakbola), coba ajak anak bermain game seperti tebak klub sepakbola dengan menggunakan gestur atau bermain scrabble. Momen ini bisa sekaligus mengenal karakter anak lewat hal yang disenanginya atau sekedar bertukar kata dan mempererat komunikasi dengan remaja. Seru! 

2. Olahraga dan bertualang 

Di luar segudang aktivitas berbeda yang dilakukan ayah dan anak, coba cari tahu benang merah yang bisa menyatukan kesukaan Anda dan anak. Tidak instan, tentu. Anda perlu memperhatikan kegiatan anak, apa yang ia suka dan apa yang ia hindari. Cari celah agar Anda bisa menemukan kesukaannya yang sama dengan Anda. Misal, olahraga. Jika Anda suka bola, tapi anak memilih tenis, bagaimana jika mengambil jalan tengah berjalan santai bersama misalnya, atau berlari? Jika olahraga bukan pilihan, camping bisa menjadi opsi untuk mendekatkan anak dengan alam dan melatih survival. Dengan keluarga besar, Anda bisa ajak anak bermain paintball. Komunikasikan dengan anak, siapa tahu ia justru punya pilihan mengejutkan (dan menyenangkan) untuk dilakukan bersama. 

3. Ajari permainan "jadul"

Dengan gadget sebagai "mainan" wajib remaja laki-laki, pernahkah Anda terpikir untuk mengajaknya bermain permainan "jadul" yang dulu Anda mainkan saat remaja? Bukan tidak mungkin matanya berbinar karena merasa hal tersebut unik (hingga cukup menarik untuk diunggah di media sosialnya!) dan menyambut ajakan Anda. Manfaatnya, anak Anda tidak akan mati gaya saat tidak gadget tidak di tangan. Ia pun bisa berpikir lebih kreatif. Coba ajak bermain panco, kartu remi, atau bermain catur. Ular tangga? Siapa takut! 

4. Surprise, surprise!

Anda tak punya waktu karena sibuk bekerja, sementara anak pun disibukkan dengan urusan sekolah? Bayangan Anda tentu sulit menyamakan waktu dan berkegiatan bersama. Jangan menyerah, Ayah. Coba sesekali di saat kerjaan tak terlalu padat dan anak tidak dalam masa ujian. Berikan kejutan dengan menjemputnya di sekolah, lalu ajak nonton bersama. Bernostalgia dengan memakan es krim favoritnya di masa kecil, bisa juga menjadi pilihan. 

5. Bantu pertajam makna spiritual 

Memberikan pandangan dan fondasi yang kuat secara spiritual menjadi peran penting ayah untuk anak. Apapun agama atau kepercayaan Anda, ajarkan anak untuk mengenal makna hidup. Jika Anda tidak memilih suatu kepercayaan tertentu, bantu anak untuk mengenal perspektif hidup dengan cara Anda agar ia memahami arti hidup dan berbuat sebaiknya. Lakukan ini bersama. Ajak Anda ikut serta dalam kajian keagamaan atau aktivitas spiritual lain, bersama-sama. 

6. Miliki waktu hanya berdua, bersama

Sesibuk apapun Anda, selalu luangkan waktu yang berkualitas hanya dengan anak. Bagaimanapun, remaja lelaki butuh sosok ayah untuk memperkuat personalisasinya sebagai lelaki. Tak usah melakukan kegiatan apapun. Duduk bersama, bercengkrama. Tanyakan bagaimana harinya, bagaimana kehidupan sosialnya, serta apa yang disukainya. Biarkan ia bertanya tentang hari Anda juga. Malam hari adalah waktu yang tepat. Saat semua dalam keadaan santai, tak terburu-buru dan siap untuk istirahat. Namun, jika anak terlihat bosan, Anda bisa mengajaknya bertanding game di gadget atau game konsol. Semakin sering Anda melakukan ini, semakin mudah memperdalam kedekatan dengan remaja lelaki dan berkegiatan yang menyenangkan bersama.  

Nah, terlihat menyenangkan bukan? Jangan lupa, sesuaikan cara bonding Anda dengan karakter anak dan pilih waktu yang tepat. Jangan sampai pemilihan kondisi yang salah membuat anak malah berpikir Anda terlalu kepo. Semangat ya, Ayah!

 

Artikel ini adalah bagian dari kerjasama SKATA dengan Popmama, media online yang menyajikan konten worth-sharing yang trending dan relevan untuk millenial mama di Indonesia. 



Tanya Skata