Dewasa ini, semakin banyak remaja yang terlibat dalam aktivitas seksual yang ditandai dengan maraknya seks bebas, meningkatnya akses terhadap konten pornografi, pelecehan seksual oleh remaja, hingga kehamilan tak diingikan. Penyebabnya beragam, mulai dari pengaruh lingkungan pergaulan, trauma masa kecil, hingga pengaruh media sosial dan teknologi. Namun, ada satu faktor yang memegang peranan penting dalam rentannya pertahanan diri remaja terhadap perilaku seksual, yaitu kedekatan dengan ayah.

Rentan terjadi di keluarga single parent

Jika dilihat dari beberapa kasus maraknya perilaku seks pada remaja, kebanyakan dari mereka adalah anak yang kurang perhatian dari keluarga, khususnya perhatian dari Ayah. Sebagai contoh, 1 dari 5 murid perempuan di sebuah SMA di Tennessee, Amerika Serikat mengalami kehamilan di luar nikah. Ternyata, salah satu penyebabnya adalah hilangnya peran ayah dalam pengasuhan karena 1 dari 4 keluarga di Tennessee adalah keluarga single parent dengan ibu sebagai satu-satunya orang tua.

Remaja putri haus akan perhatian pria

Dalam Psychology Today, dijelaskan bahwa anak yang “tidak memiliki” ayah (atau tidak dekat dengan ayahnya) lebih rentan memiliki masalah kesehatan seksual seperti berhubungan seks sebelum usia 16 tahun, menjadi orang tua saat remaja, dan mengidap penyakit menular seksual. Bagi remaja putri, hilangnya sosok ayah mampu membuat mereka haus akan perhatian pria karena ketidakhadiran ayah membuat mereka merasa “ditolak”. Karenanya, remaja putri yang kehilangan sosok ayah rentan untuk dimanfaatkan oleh pria dewasa.

Pendapat bahwa semua laki-laki pada akhirnya pergi

Bayangkan jika seorang anak tidak pernah mendengar ayahnya memuji hasil karya yang dibuatnya. Atau, seorang ayah tidak pernah datang saat anaknya harus tampil di acara sekolah, sementara ayah dari teman-temannya selalu ada di deretan kursi depan. Ketidakhadiran Ayah akan merusak cara berpikir anak. "Saat anak selalu menemukan ayahnya 'tidak ada' di saat-saat penting dalam hidupnya, maka akan terjadi pergeseran pemikiran pada dirinya. Bagi mereka, semua laki-laki pada akhirnya akan meninggalkannya," ujar Sarah. Dengan pemikiran tersebut, remaja putri cenderung untuk terburu-buru mencari pria dan terlibat dalam perilaku seks lebih dini, sebelum pria-pria tersebut pergi meninggalkan mereka.

Ayah sibuk bekerja

Sederet penelitian telah menerangkan, bahwa ayah yang menganggap kebutuhan jasmani anak-anak mereka lebih penting dibanding kebutuhan rohani, menghasilkan anak-anak yang tidak percaya diri dan merasa tidak aman. Sesuai dengan sebuah jurnal yang dibuat oleh Vicky Phares di University of South Florida tahun 2005, menunjukkan bahwa anak-anak remaja dengan kondisi ekonomi menengah ke atas, yang punya masalah di sekolah baik secara akademik maupun pergaulan, memiliki Ayah yang lebih sering berada di luar rumah demi menafkahi keluarga. "Seperti ada yang hilang di dalam dirinya, meski kedua orangtuanya ada," tutur Vicky.

Misfungsi Organ Reproduksi

Bukti penelitian lain juga dibuktikan Bruce J. Ellis, psikolog dari University of Arizona, yang melakukan tes terhadap dua kakak beradik perempuan yang dibesarkan oleh orang tua yang bercerai. Si Kakak dibesarkan oleh ibunya, sedang si Adik oleh ayahnya. "Kakaknya hanya sesekali dikunjungi ayahnya. Si Kakak mengalami keterlambatan datangnya siklus menstruasi dibanding si Adik," jelas Ellis. Ternyata ada hormon yang memengaruhi anak secara seksual sekaligus psikis ketika adanya pendampingan ayah di masa pubertasnya. 

Dari sejumlah hasil penelitian di atas, tentu Anda berharap Ananda mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya, tidak hanya dalam bentuk materi. Karenanya, lihat kembali kedekatan Anda dan pasangan dengan anak. Pastikan mereka mendapatkan waktu berkualitas dengan orang tuanya, sebagai benteng pertahanan dari perilaku berisiko seperti seks bebas.

 



Tanya Skata