Memiliki bayi mungil tentu menjadi impian setiap pasangan muda. Kabar kehamilan disambut dengan suka cita, dengan persiapan yang matang agar buah hati kelak lahir sehat. Namun, bagi sebagian ayah baru, membayangkan bertambahnya satu anggota keluarga lagi kadang menimbulkan kekuatiran, baik secara mental maupun finansial.

Baca: Ketakutan Ayah Baru

Meskipun ketakutan tersebut bisa saja tidak terbukti, namun ketika ayah baru mulai menjalani hari bersama sang buah hati, bukan tidak mungkin munculnya tantangan untuk beradaptasi semakin menguatkan ketakutan tadi. Kemungkinan terburuknya, ayah baru bisa mengalami baby blues

Berbeda dengan baby blues pada ibu yang disebabkan karena faktor hormonal, penyebab baby blues pada ayah baru adalah kurang siapnya mereka dalam menghadapi kelahiran anak.

Menurut Kalmselor Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog dari KALM, menjadi seorang ayah bukan dimulai ketika bayi lahir, namun saat istri memberi tahu kehamilannya. Masa mengandung ini, pada dasarnya diberikan untuk pasangan belajar dan latihan. Belajar menjadi orangtua dan latihan mempersiapkan diri menjadi ayah dan ibu baru. Ketika masa belajar dan latihan ini tidak dimanfaatkan dengan efektif dan maksimal, maka baby blues hingga depresi pasca melahirkan bisa terjadi. 

Secara singkat, baby blues dalah perasaan sedih, takut, tidak bersemangat, uring-uringan yang disebabkan oleh hadirnya bayi dalam kehidupan suami istri. Karena itu, sebaiknya calon ayah mempersiapkan diri sejak dini agar ketakutan yang sempat hinggap di pikiran tidak berujung baby blues. Berikut ini saran Kalmselor Wenny untuk para ayah:

1. Siapkan dana

Mulai siapkan dana untuk pengasuhan anak. Ayah dan ibu bisa berdiskusi tentang kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi, bagaimana cara pemenuhannya, pihak mana yang mampu berkontribusi, sedini mungkin. Tuntaskan pembicaraan finansial tersebut sebelum bayi lahir. 

2. Membangun kebiasaan baru

Saat berstatus ayah baru, pastinya akan ada kebiasaan dari anggota keluarga baru yang hadir. Sebelum “tugas” tersebut menjadi nyata, mulailah berlatih untuk meluangkan waktu tersebut seakan-akan sang buah hati sudah lahir. Misalnya, membangun kebiasaan untuk mencium istri dan calon buah hati sejak dalam kandungan, mengajak janin berbicara, atau memberikan pijatan ringan kepada istri yang mengandung. Kebiasaan ini sebaiknya dibangun agar ketika nanti sang bayi lahir, maka waktu yang biasanya diluangkan dengan istri dan anak sudah menjadi kebiasaan. Hal ini meminimalisir keterkejutan karena adanya perubahan yang mungkin akan terjadi dalam satu waktu ketika sang buah hati lahir.

3. Menemani istri kontrol ke dokter

Hal ini membantu membangun support dan connection antara ayah, ibu, dan anak. Perasaan sayang, bersemangat, dan penantian akan saling terjalin. Kebiasaan ini akan juga menjadi masa latihan karena setelah sang buah hati lahir, maka akan ada masanya menemani istri kontrol ke dokter atau membawa anak pemeriksaan kesehatan dan imunisasi ke dokter sehingga latihan ini akan membuat kita terbiasa meluangkan waktu untuk menjalin kelekatan bersama anak dan istri.

4. Berdiskusi

Diskusi dan komunikasi dengan pasangan merupakan poin kunci yang sangat penting dilakukan. Hal-hal yang harus dibicarakan adalah seputar pembagian waktu mengasuh anak, me time, dan pekerjaan rumah tangga. Hal ini penting untuk dibicarakan untuk mempersiapkan diri dengan perubahan yang akan terjadi dan kesiapan menjadi orangtua baru.

5. Latihan

Selain latihan kebiasaan, latihan dalam mengurus bayi juga perlu lho. Ayah bisa belajar bersama ibu bagaimana cara menggendong bayi, bagaimana mengganti popok, bagaimana cara memandikan. Latihan sebelum melahirkan ini penting dilakukan agar nantinya ayah baru sudah mengetahui peran baru yang akan dilakukan. Latihan ini biasa dilakukan selama masa mengandung dan dilakukan bersama dengan istri atau dengan bertanya kepada kerabat yang sudah lebih dahulu memiliki bayi. Latihan sebaiknya dilakukan dengan praktik langsung, misalnya dengan digunakan pada boneka atau mencoba merawat bayi kerabat.

6. Terapkan hasil diskusi

Sejak istri mengandung, ayah baru sebaiknya mulai menerapkan hasil diskusi di poin 4. Diharapkan, ayah sudah nyaman dengan ritme baru ketika bayi lahir. 

Namun, jika ayah baru (maupun ibu) merasakan gejala baby blues tersebut semakin tidak terkontrol, jangan ragu untuk mencari bantuan orang terdekat, bisa orang tua atau teman. Jika perlu, carilah bantuan konselor profesional untuk berkonsultasi secara langsung atau melalui aplikasi online seperti KALM.

 



Tanya Skata