Ketika remaja perempuan mulai mengalami menstruasi, maka ia sudah dapat disebut sebagai wanita usia subur. Secara umum, kesuburan wanita mengacu pada kemampuannya untuk hamil dan melahirkan. Namun, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kesuburan wanita. Menstruasi bukanlah satu-satunya indikator kesuburan mengingat wanita yang mengalami infertilitas (kemandulan) juga masih mengalami menstruasi. Lantas, apa saja yang mempengaruhi kesuburan wanita dan bagaimana cara mengetahuinya?

Sebelumnya, kita perlu ingat bahwa untuk dapat hamil, seorang wanita membutuhkan peran dari sejumlah organ reproduksi, yaitu indung telur (ovarium), tuba falopi, rahim, serviks (leher rahim), dan vagina. Masalah pada salah satu organ tersebut sudah mampu mempengaruhi kesuburan wanita.

Semakin tua, sel telur makin berkurang

Dalam situs Extend Fertility, yang menyediakan layanan pembekuan sel telur untuk mereka yang berencana memiliki anak di usia non produktif, disebutkan bahwa wanita memiliki jumlah sel telur yang tetap sejak lahir. Saat wanita bertambah usia, jumlah cadangan sel telurnya pun berkurang karena setiap bulannya wanita kehilangan 1000 sel telur melalui proses menstruasi. Hal ini berkebalikan dengan pria yang memproduksi 100-200 juta sel sperma per hari. Sel telur yang tersisa akan menurun kualitasnya seiring dengan waktu yang turut  memperkecil kemungkinan suksesnya pembuahan yang terjadi. Karena itu, usia merupakan faktor yang sangat menentukan tingkat kesuburan wanita.  

Usia subur wanita berada pada rentang 20-35 tahun, dimana puncak kesuburan wanita berada pada usia pertengahan 20 tahunan. Pada usia 30 tahunan, sel telur mengalami penurunan kualitas dan jumlah. Dan, pada usia 35 tahun penurunan ini berlangsung dengan cepat dan mengakibatkan pembuahan makin sulit terjadi serta memperbesar kemungkinan terjadinya keguguran.

Terlalu gemuk dan terlalu kurus mampu pengaruhi ovulasi

Kesuburan wanita juga dipengaruhi oleh berat badan. Dalam kasus wanita overweight (kelebihan berat badan), penumpukan lemak di perut dapat mengakibatkan menurunnya kadar protein yang mengatur hormon seks (androgen dan estrogen). Hal ini  menyebabkan menstruasi tidak teratur yang dapat menurunkan tingkat kesuburan wanita.

Ketidakseimbangan hormon tersebut juga mampu memicu terjadinya anovulasi, yaitu kondisi dimana indung telur tidak melepaskan sel telur (ovulasi) sama sekali. Wanita dengan indeks massa tubuh di atas 27 berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami hal ini. 

Sebaliknya, pada wanita underweight, kurangnya cadangan lemak menyebabkan terganggunya pembentukan hormon. Alasannya, lemak adalah bahan baku pembuatan hormon. Akibat dari terganggunya produksi hormon adalah siklus menstruasi yang tidak teratur. Pada jangka panjang, hal ini bisa mempengaruhi tingkat kesuburan wanita.

Merokok merusak leher rahim

Sepintas, tidak ada hubungan antara merokok dan kesuburan wanita. Rokok dihisap melalui saluran pernafasan sementara rahim berada di sistem reproduksi. Namun, kandungan rokok ternyata mampu merusak serviks (leher rahim) dan tuba fallopi, serta memperbesar kemungkinan terjadinya keguguran dan kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan).

Infeksi menular seksual merusak tuba fallopi

Meskipun sejumlah infeksi menular seksual dapat disembuhkan, namun beberapa di antaranya (klamidia dan gonorea) mampu merusak tuba fallopi, yaitu saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim. Jika tuba fallopi tidak berfungsi dengan baik, kesuburan wanita dapat terpengaruh meskipun masih berada di rentang usia subur. 

Kelainan ovulasi 

Selain faktor usia dan perilaku di atas, kesuburan wanita juga dapat dipengaruhi oleh terjadinya kelainan ovulasi, yaitu kondisi dimana ovulasi tidak terjadi secara teratur atau bahkan tidak ada ovulasi sama sekali. Menurut situs kesehatan Mayo Clinic, hal ini terjadi pada 1 dari 4 pasangan yang mengalami ketidaksuburan.  Penyebabnya antara lain, poliycystic ovary syndrome, gangguan hormon karena stres, naik turun berat badan secara drastis, kemoterapi, dan kelebihan hormon prolaktin. 

Bagi pasangan yang berencana menikah, ada baiknya menjaga pola makan dan gaya hidup sehat, serta memeriksakan diri ke tenaga kesehatan jika ada keluhan seputar organ reproduksi, untuk lancarnya program kehamilan.

 

 



Tanya Skata