Tak bisa dipungkiri, masa remaja adalah masa yang penuh tantangan. Tantangan untuk mereka sendiri, juga orang tua. Mereka sedang mengalami banyak perubahan baik fisik maupun mental yang mempengaruhi sikap keseharian. Sebagai orang tua, Anda harus benar-benar memilah kata karena remaja seringkali menangkap kalimat secara harfiah. Memang sih, terkadang Anda lupa atau tak sadar saat kalimat kurang baik terlontar dari mulut terutama ketika remaja sedang bertindak agresif atau defensif. Sayangnya, di usia ini mereka menangkap tajam setiap kata yang terucap dari mulut Anda. Tentu, Anda tak mau berujung penyesalan saat remaja melakukan tindakan yang tidak diinginkan hanya karena Anda tidak peka dalam berkata bukan? Yuk, hindari memakai 8 kalimat berikut saat berbicara dengan remaja.

1. Ini rumah saya, kamu harus ikut aturan saya

Tempat tinggal Anda adalah milik bersama, termasuk anak-anak. Kalimat ini seolah mengisyaratkan bahwa rumah itu adalah milik Anda dan seolah anak tak punya hak berada di sana. Ya, mereka memang harus mengikuti aturan Anda sebagai orang tua. Namun, gunakan kalimat bersama, seperti ‘di rumah kita’ agar mereka punya rasa memiliki dan tanggung jawab di rumah yang kalian tempati bersama. 

2. Ayah/Ibu tak peduli apa yang kamu mau

Mengatakan kalimat ini pada remaja, sama seperti mengatakan bahwa mereka tidak penting dan tidak dibutuhkan. Kata-kata dalam kalimat ini akan menempel di ingatan, dan akan sulit menyatukan komunikasi dengan mereka di kemudian hari.

3. Lakukan sekarang juga! 

Kalimat perintah biasanya justru akan menimbulkan reaksi sebaliknya. Alih-alih memberikan perintah saat dalam kondisi emosi, baiknya saling diam sampai emosi mereda dan ajak mereka berbicara. Karena kalimat perintah hanya mengisyaratkan bahwa Anda tak peduli akan opini remaja. Mereka akan terbiasa hanya menuruti perintah dan akan mudah di-bully di lingkungan sosial. 

4. Apapun alasannya, Ayah/Ibu tak peduli

Remaja akan segera berhenti mendengarkan, dan jangan heran jika ia langsung meninggalkan Anda (saat Anda berbicara). Baiknya tanyakan mereka kenapa suatu hal terjadi, bukan sebaliknya. Ini berguna untuk mengantisipasi kesalahan yang sama di kemudian hari. 

5. Kamu belum cukup dewasa untuk mengambil keputusan! 

Percaya bahwa mereka mampu bertanggung jawab atas segala tindakan, adalah cara terbaik membesarkan anak untuk mandiri. Karena saat Anda meragukan atau menganggap mereka tidak mampu, mereka pun akan merasa tidak bertanggung jawab akan perbuatannya. 

6. Jangan bicara seperti itu sama Ayah/Ibu, kamu tak punya hak

Anda bertanggung jawab untuk mengontrol komunikasi yang baik dengan anak. Saat mereka emosi, jangan berkata mereka tak punya hak untuk berbicara, karena mereka punya. Yang tak boleh adalah nada bicara yang tinggi kepada Anda. Ini yang harus disampaikan, alih-alih mengatakan ia tak memiliki hak berbicara. 

7. Karena Ayah/Ibu bilang begitu

Ya, mungkin Anda memang punya hak prerogatif sebagai orangtua. Tapi saat remaja bertanya “kenapa?” Anda harus memiliki jawaban untuk itu. Kalau tidak, segala permintaan, pernyataan Anda menjadi tak berarti baginya. Berikan argumen yang positif dan berbobot, maka mereka akan mendengarkan Anda. 

8. Kan Ayah/Ibu sudah bilang.. 

Saat kalimat ini terlontar, yang sampai ke telinga remaja adalah Anda senang melihat mereka gagal. Maksud Anda mungkin ingin menjaga mereka dari melakukan kesalahan dan konsekuensi kesalahan. Tapi, tanpa kesalahan anak tak bisa belajar. Ia tak paham arti konsekuensi dan resiko yang sebenarnya. Ketika Anda ingin berkata, “kan sudah aku bilang..” coba tanya diri sendiri, Anda ingin menjadi benar atau menjadi bahagia? Jika memilih bahagia, biarkan remaja mengalami kesalahan untuk kemudian bisa belajar dari kesalahannya sehingga bisa bertindak lebih bijak. Karena, pengalaman adalah pembelajaran yang paling berharga. 

 

 

 



Tanya Skata