Saat anak beranjak remaja, cara bicara yang sebelumnya biasa Anda gunakan mendadak tidak mempan. Entah tidak didengarkan, tidak dipatuhi, atau malah membuat anak menjadi defensif. Apa sebabnya?

Mungkin Anda secara tidak sadar masih menganggap mereka anak-anak. Padahal, kemampuannya dalam berbagai aspek sudah banyak berkembang. Mereka sudah mampu berpikir abstrak dan logis, mampu membuat rencana dan cita-cita. 

Baca: Tahap Kemampuan Komunikasi Anak, Orang Tua Wajib Tahu 

Sayangnya, pubertas membuat mereka sering uring-uringan. Fungsi eksekutif otaknya (kemampuan fokus pada sejumlah hal sesuai prioritas yang ia susun) pun belum berkembang sempurna. Karenanya, mereka membutuhkan dukungan dalam bentuk hubungan yang aman dengan orang tua tanpa merasa dihakimi.

Adele Faber dalam buku How to Talk So Teens Will Listen and Listen So Teens Will Talk mengungkapkan bahwa orang tua tidak bisa membuat remaja berhenti mengikuti tren, melindungi mereka dari berbagai tantangan zaman, atau menyelesaikan seluruh permasalahan mereka. Namun, orang tua dapat menciptakan iklim yang kondusif di rumah agar remaja merasa bebas dan aman untuk mengungkapkan perasaan mereka, sekaligus lebih terbuka untuk mengerti perasaan Anda, melihat dari sudut pandang Anda, dan mematuhi larangan yang Anda berikan.   

Salah satu bentuk menciptakan iklim kondusif tersebut adalah dengan cara menyesuaikan cara komunikasi Anda dengan kemampuan komunikasi remaja agar terjadi komunikasi efektif. Efektif berarti pesannya jelas dan menghasilkan dampak yang diharapkan. 

Beberapa prinsip komunikasi efektif dari Modul Komunikasi Efektif Keluarga oleh Imelda Hutapea, M.Ed berikut ini dapat dilakukan agar komunikasi Anda dan remaja lebih efektif.

1. Tunjukkan sikap yang mendemonstrasikan kebebasan

Anda tahu, remaja tidak suka diperintah. Untuk menyarankan mereka melakukan sesuatu, Anda bisa menggunakan kata-kata yang menyiratkan kebebasan untuk membuat keputusan. Contohnya, “Ayah tidak bisa mengawasi kamu setiap saat, tapi Ayah percaya kamu bisa menolak kalau temanmu mengajak melakukan hal buruk.” Kalimat ini membuat anak merasa dipercaya daripada serangkaian perintah untuk jangan ini dan jangan itu.

2. Tetap tenang saat anak bersikap emosional 

Saat anak marah, menangis, dan menunjukkan ekspresi emosi yang negatif, jangan terbawa emosi. Usahakan untuk tetap tenang dan berempati, karena sebenarnya mereka sedang kewalahan menghadapi situasi sulit tersebut. Contohnya, remaja Anda sedang menangis karena putus dengan pacarnya yang sebenarnya tidak Anda sukai. Tahan diri untuk mengatakan, “Udah keliatan kok, kalau dia bukan laki-laki baik. Bener kan?”. Sebaliknya, berempatilah terlebih dahulu dengan mengakui apa yang dia rasakan seperti, “Kamu pasti sedih. Ibu juga pernah ngerasain…”

Dengan berempati, anak cenderung lebih membuka diri untuk bercerita. Hindari menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan, seberapa penasaran pun Anda. Saat anak sedang dikuasai oleh emosinya, ia tidak dapat berpikir jernih. Tunggu saat yang tepat, saat suasana hatinya sudah kembali baik dan ia bersedia untuk bercerita.

3. Menunjukkan ketertarikan pada hal yang menjadi minat mereka

Misalnya, Anda kuatir kegemaran remaja pada K-Pop membuatnya lupa belajar dan boros. Daripada mengomel bahwa hal tersebut tidak membawa manfaat (yang jelas tidak akan disetujuinya), lebih baik Anda bertanya pada remaja tentang seluk beluk K-Pop, siapa artis favoritnya, apa kelebihannya dibanding musik lain, dan efek positif yang ia rasakan dari K-Pop. Anak senang lho ketika kita bertanya tentang kegemaran atau keahliannya. Asalkan, Anda bertanya dengan tulus ya, bukan bermaksud mendebat. Dengan mengetahui alasan anak, Anda bisa lebih cerdik mencari celah untuk menasehatinya, memberi alternatif kegiatan, atau malah…ikut menjadi fans K-Pop!

Baca: Ngefans Itu Wajar, Ini Batasannya!

4. Menghargai privasi anak 

Remaja yang mendadak berubah jadi penuh rahasia tentu membuat Anda penasaran, kan? Untuk mengetahui apa yang mereka “sembunyikan” (meskipun mungkin mereka tidak bermaksud demikian) hindari melanggar batas privasinya, seperti memeriksa buku harian dan smartphone mereka, menguping, atau mengorek cerita dari orang lain. 

Baca: Intip Diam-diam Aktivitas Anak, Bolehkah?

Contohnya, jika Anda penasaran dengan pacarnya, tawarkan anak untuk mengadakan kumpul-kumpul dengan teman-teman dekatnya di rumah. Kalimat seperti, “Temen kamu yang suka anterin pulang diajak aja sekalian, Kak” bisa digunakan untuk menyiratkan bahwa Anda ingin mengenal lebih dekat (dan terbuka) dengan pacarnya.

Tidak semua tips komunikasi efektif di atas langsung membuahkan hasil. Anda hanya perlu melakukan semuanya dengan tulus dan konsisten, lalu lihat hasilnya. Siap?

 



Tanya Skata