Pernahkah Anda merasa putus asa karena balita tetap saja memanjat teralis jendela meskipun Anda sudah mengatakan bahayanya? Kakaknya yang usia remaja pun tidak kalah bikin pusing dengan kegemarannya menggunakan kata-kata (yang menurut Anda) kasar. Sudah diingatkan berulang kali, hingga Anda terpaksa mengancamnya dengan hukuman, tetap saja ia menganggap Anda lebay dan tidak mengerti anak muda.

Jika Anda mau berpikir sejenak, sebenarnya tingkah laku di atas dapat dijelaskan dengan memahami bahwa setiap anak mengalami sejumlah fase perkembangan. Perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional tersebut membawa pengaruh terhadap kemampuan komunikasi anak. 

Baca: Pahami 3 Fase Unik Perkembangan Anak Agar Tidak Lekas Emosi

Menurut Imelda Hutapea, M.Ed, penyusun modul Lingkar Belajar untuk Orang Tua,  kemampuan berkomunikasi anak merupakan hasil perkembangan yang melibatkan aspek:

1. Fisik (alat ucap, alat dengar, anggota tubuh)

2. Kognitif (kemampuan proses mental mencerna dan menalar) yang terwujud pada sikap dan perilaku.

Ibaratnya, seorang MC tentu akan tampil ceria di acara pesta ulang tahun anak dan tampil menggunakan bahasa formal di acara resmi pemerintahan. Begitu juga dengan Anda. Sebagai orang tua, sesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan kemampuan komunikasinya agar komunikasi menjadi efektif. Efektif berarti pesannya jelas dan menghasilkan dampak yang diharapkan.

Berikut ini adalah tahap perkembangan kemampuan komunikasi anak yang dapat Anda gunakan sebagai panduan untuk menyampaikan pesan dengan efektif.

Kemampuan Komunikasi Anak Usia Dini (0-6 tahun)

Pada usia ini, anak baru dapat berpikir konkrit. Ia belum mampu membedakan antara fantasi dan realita. Selain itu, anak juga baru mulai belajar teknis cara berbicara dan mengenal kosakata. Keterbatasan kemampuan komunikasinya membuat anak sering mengandalkan fisik/perilakunya dalam mengekspresikan diri.

Dengan keterbatasan tersebut, anak masih membutuhkan bimbingan untuk berbicara dengan baik, mengelola emosi, dan rutinitas untuk memberi struktur pada aktivitasnya agar ia merasa aman. 

Bagaimana cara kita berkomunikasi efektif dengan anak usia dini?

1. Gunakan kata-kata yang positif dan singkat, didukung dengan bahasa tubuh yang membantu mengkonkritkan pesan seperti mengangguk, mengembangkan tangan, tersenyum. Contoh: “Adek hebat, mau meminjamkan mainan yang adek suka.” 

2. Gunakan nada suara yang ramah.

3. Menggunakan lagu-lagu untuk pembiasaan rutinitas, seperti lagu Bangun Tidur.

4. Bermain peran dan narasikan yang sedang Anda lakukan. Misal, role play menyeberang jalan. Katakan, “Aku tengok kanan, terus tengok kiri. Kalau nggak ada mobil lewat, baru menyeberang!”

5. Mengadakan rutinitas membaca buku. Metode bercerita dan percakapan saat bermain jauh lebih efektif dalam menyampaikan pengajaran. Pilih buku yang dekat dengan keseharian anak, seperti tentang rutinitas, mengenal emosi, dan membangun rasa percaya diri.

Masa Kanak-kanak Menengah (7-10 tahun)

Anak usia sekolah mulai bisa berpikir logis dan mampu memahami kata tersirat. Mereka juga kritis, ingin tahu, bahkan terlihat sok tahu. Kemampuannya memahami sebab akibat membuatnya mulai dapat melakukan prediksi. Meskipun demikian, anak tetap membutuhkan dukungan untuk membahas dan mengelola emosi yang semakin beragam.

Bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan mereka?

1. Dalam keseharian, berikan kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan sendiri dengan memberi batasan. Contoh: “Boleh pergi bermain, pilih sampai jam berapa ASALKAN sebelum maghrib.”

2. Mendemonstrasikan sikap pro sosial dan peduli lingkungan seperti antri, membuang sampah pada tempatnya, membawa kantong belanja sendiri, berdonasi.

3. Mengenalkan tata cara bercakap-cakap (conversation rules) yaitu saling bergantian, tidak memotong dan tidak mendominasi pembicaraan.

4. Melibatkan anak dalam perencanaan kegiatan keluarga untuk melatih kemampuan memecahkan masalah. Misal: “Kita liburan naik apa ya, Kak? Pesawat mahal tapi cepat, kereta murah tapi lama.”

Masa Remaja (11-14 tahun)

Remaja sudah mampu berpikir abstrak dan logis, mampu membuat perencanaan atau cita-cita namun belum dapat menentukan prioritas. Sayangnya, pubertas membuat mereka sering uring-uringan dan meledak-ledak. Karenanya, mereka membutuhkan dukungan dalam bentuk hubungan yang aman dengan orang tua tanpa merasa dihakimi.

Bagaimana cara kita berkomunikasi efektif dengan remaja? Baca di sini.

 



Tanya Skata