Sebagai orang tua, Anda tentu pernah menghadapi fase unik pada anak. Saat ia berusia 0-6 tahun, ingatkah rengekan anak saat ia minta menggunakan kostum princess padahal Anda hanya mengajaknya ke supermarket terdekat? Saat ia memaksa menggunakan topeng superhero ke acara keluarga? Atau saat anak mendadak tantrum dan menangis histeris saat tak mendapatkan mainan keinginannya di pusat perbelanjaan? Mengingat momen itu, mungkin Anda kini hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum karena bersiaplah wahai Ayah Ibu, akan ada fase unik lainnya menanti Anda di usia remaja. 

Fase usia dini (0-6 tahun) 

Usia dini ini memiliki fase egosentris, dimana anak belum mampu keluar dari sudut pandangnya sendiri. Ia sedang senang bereksplorasi dan membutuhkan keamanan dan kenyamanan dan konsistensi hubungan yang sehat dengan orang terdekatnya. 

Jangan kaget jika terjadi.. 

Tantrum 

Anda mungkin mengenal perilaku fisik seperti menghentakkan kaki, tangisan kencang, berguling di lantai atau melempar barang. Ini perilaku wajar dan bukan cerminan pemberontakan. Murni karena anak ingin menyuarakan sesuatu namun kapabilitas kata yang masih terbatas. Menghadapi tantrum, orangtua tentu harus tenang dan tidak terbawa suasana untuk cepat emosi. Berikan pengertian dan instruksi yang jelas, agar anak berhenti. Misalnya, “Kalau kamu teriak-teriak, Ayah dan Ibu nggak ngerti. Coba diam dulu bilang pelan-pelan, kamu mau apa?” Berikan dukungan agar anak bisa mengidentifikasi dan mengelola emosinya. 

Anak bertanya, kenapa dan mengapa? 

Pada usia 3-5 tahun, kemampuan bahasa anak mulai meningkat dan memiliki kemampuan membuat kalimat sempurna. Fenomena bertanya ini menandakan adanya proses awal berpikir dan menalar suatu hubungan kausalitas (sebab akibat) yang menandakan adanya proses awal menuju pola berpikir abstrak (membayang sesuatu terjadi). Di masa ini, orangtua diharapkan bisa menjawab dengan sistematis untuk membantu anak membuat pola pikir yang baik. Jadi, jangan malas menjawab ya. 

Fase kanak-kanak menengah (7-10 tahun) 

Di fase ini, anak mulai mengenal kemandirian dan memiliki naluri untuk menguasai banyak hal dan menyesuaikan diri dengan ragam situasi sosial. Ia pun mulai sensitif terhadap perbedaan yang ada pada lingkungan sosial yang lebih luas dari keluarga intinya. 

Anda akan mungkin sering mendengar..

Ia menjawab atau membandingkan 

Saat pergaulan meluas, anak mulai bertukar cerita dengan teman, maka sewajarnya ia menemukan perbedaan diantara mereka dan mulai membandingkan. Tak jarang, ia juga melakukan perbandingan aturan yang diterapkan oleh orang tua temannya yang berbeda dengannya. Di sini, Anda perlu menjelaskan bahwa tiap keluarga memiliki aturan masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Saling menghormati aturan masing-masing dan tak boleh merasa benar sendiri adalah hal yang perlu diingat anak. 

Bersikeras atau ngotot 

Jangan heran jika anak mulai menganggap pendapat guru atau temannya adalah hal yang benar atau mutlak. Di usia ini proses nalar anak sedang berkembang untuk mendapatkan pemahaman baru dan sosok sosial yang sering ditemuinya menjadi ladang sumber yang terpercaya untuknya. Anda perlu ajak anak untuk menguji pendapat atau omongan apakah sesuai dengan fakta. Bisa lewat buku, situs yang terpercaya, atau media cetak dan elektronik yang kredibel. 

Fase remaja (11-14 tahun) 

Pubertas. Satu kata yang jelas menggambarkan anak di usia ini. Beragam perubahan terjadi, baik secara fisik maupun mental. Masa peralihan menuju dewasa ini diwarnai dengan kebimbangan, pertanyaan akan kemampuan diri, ingin tampil beda. Pengaruh teman sebaya sangat berpengaruh, hingga menimbulkan sikap yang meragukan atau menantang sosok otoritas (orangtua/guru).

Anak mungkin akan..

Bersikap tertutup 

Jangan kaget jika anak sangat irit dalam berkata. Ia tak lagi mengumbar kalimat saat Anda bertanya bagaimana harinya. Sikap tertutup anak ini bisa dimaknai dua hal. Pertama, sebagai bagian dari tempramennya. Kedua, bisa jadi bagian dari proses mencerna banyak informasi baru yang ia temukan seiring dengan berkembangnya lingkup sosial. Komunikasi dengan orangtua sangat diperlukan di fase ini, untuk membiasakan anak membuka diri dan bercerita agar orangtua mampu mengatasi keraguan benar atau salah yang dialaminya. 

Memberontak/melanggar/menolak aturan 

Ini adalah ciri khas yang paling menonjol pada remaja. Di saat ia mencari jati diri dan mulai merasa mandiri serta dianggap mampu mengambil keputusan sendiri, sikap memberontak pun akan muncul. Ia mungkin akan mengambil keputusan yang belum dipikirkan matang, hanya karena menurutnya benar atau bisa dimaklumi. Misalnya, merokok. Anda perlu duduk bersama anak untuk mencari tahu dampak negatif dari merokok. Bisa juga memberikan contoh pengaruh negatif merokok pada hal yang disukainya. Jika anak suka berolahraga, katakan bahwa rokok akan mengganggu kelancaran pernafasan sehingga stamina akan terganggu dan ia akan mudah lelah. 

Fenomena tumbuh kembang ini adalah hal yang wajar sebagai tanda proses pematangan berpikir. Kunci agar proses perkembangan ini berbuah positif adalah semaksimal mungkin Anda hadir untuk memantau segala perkembangan yang terjadi, dan berkomunikasi secara dua arah dengan anak agar anak merasa nyaman melewati fase ini bersama Anda. 

 

 

 



Tanya Skata