Pernahkah Anda mendapatkan pertanyaan tentang kondom dari anak? Jika pernah, pasti saat itu Anda sempat merasa panik dan bingung harus menjawab apa. Apalagi, jika anak terus mengajukan pertanyaan, seolah tidak puas dengan jawaban yang Anda berikan. 

Panik adalah reaksi yang wajar, meskipun sebaiknya orang tua mulai mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan anak terkait seks dan kesehatan reproduksi lebih dini dari usia pubertas. Dulu, pengetahuan tentang kondom mungkin mulai muncul saat anak SMA atau SMP. Kini, dengan semakin mudahnya akses terhadap kondom di apotek dan minimarket, didukung oleh iklan melalui media, anak yang belum puber bisa saja penasaran dengan istilah kondom. 

Lalu, segamblang apa orang tua bisa menjelaskan tentang kondom? Orang tua milenial memiliki karakter yang lebih terbuka dibandingkan generasi terdahulu. Namun, sebagai orang yang tumbuh besar di Indonesia dengan budaya ketimuran tentu saja menjelaskan tentang kondom membuat lidah sedikit kelu. Apalagi jika Anda belum menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan.

Nah, jika Anda beruntung belum “ditodong” pertanyaan tentang kondom oleh anak, tips dari psikolog Yayasan Kancil, Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog berikut ini dapat menjadi amunisi.

Untuk anak berusia di bawah 10 tahun

Biasanya, anak bertanya tentang kondom dalam situasi tidak sengaja melihat. Kasus yang sering terjadi adalah anak melihat kondom karena diletakkan di bagian kasir minimarket bersama dengan permen-permen. 

Jika anak bertanya (atau meminta karena dikira permen), maka jawaban yang bisa diberikan adalah, “Ini (obat) untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak.”

Cukup sampai di situ saja kemudian alihkan perhatian anak pada hal lain. Kalau perlu, sarankan pada karyawan toko untuk memindahkan display barang tersebut ke tempat yang lebih tepat dan di atas jangkauan anak-anak.

Jawaban serupa juga berlaku jika anak menemukan kondom di rumah.

Untuk anak berusia di atas 10 tahun

Anak pra remaja biasanya sudah mendapatkan pendidikan mengenai reproduksi dan seksualitas. Jawaban yang bisa diberikan adalah, “Ini adalah alat kontrasepsi. Kontrasepsi itu cara untuk mengatur kehamilan.”

Cukup sampai di situ. Bila anak bertanya lebih lanjut, sampaikan bahwa sekarang belum saatnya ia tahu lebih detil. Akan ada masanya nanti ia mendapat pejelasan tentang alat kontrasepsi, yaitu ketika remaja.

Untuk remaja

Usia remaja secara fisik sudah sama dengan orang dewasa, kemampuan berpikirnya pun mulai menyerupai orang dewasa. Artinya, ia sudah bisa bertanggung jawab terhadap tubuhnya dan segala tindakannya. Orang tua bisa menjelaskan lebih lengkap bahwa kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang digunakan orang dewasa yang sudah menikah ketika berhubungan seksual.

Penting ditekankan bahwa hubungan seksual (hubungan intim/hubungan badan) sebaiknya dilakukan setelah menikah. Diskusi mengenai hubungan seksual, akibatnya, dan syaratnya sebaiknya menyertakan pembahasan mengenai alat kontrasepsi. 

Hindari katakan hal ini!

Kadang, dalam keadaan terdesak orang tua secara tidak sadar mengatakan pada anak bahwa “Ini urusan orang dewasa” dengan nada yang tidak ramah. Seolah, orang tua mengatakan “jangan tanya-tanya” pada anak. Menurut Niyatii N Shah, seorang sexuality educator dalam situs The Health Site, hal ini akan mendorong anak untuk mencari tahu sendiri ketika ia sudah lebih dewasa. Sayangnya, kecenderungan anak zaman sekarang adalah menggunakan internet sebagi sumber informasi utama, yang tidak selalu memunculkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Rasa penasaran anak bisa saja menggiringnya untuk mengakses konten dewasa berbau pornografi. 

Orang tua perlu memahami bahwa pertanyaan anak yang belum memasuki usia puber biasanya dikarenakan ia baru pertama kali mendengar kata kondom sehingga ia bertanya sebatas ingin mengetahui artinya, bukan karena dorongan seksual.

Untuk anak yang sudah puber, hidari menyuruhnya untuk mencari artikel di internet atau memberikannya buku hanya karena Anda merasa canggung untuk mengatakannya secara langsung. Jika pun Anda memberinya buku untuk dibaca sendiri atau memberikan artikel infomatif, tetap beri penjelasan awal tentang topik yang ingin Anda sampaikan. Ingatlah, orang tua adalah guru terbaik. Jadi, tetap bekali diri dengan informasi yang memberdayakan. 

Ingin tahu pengalaman remaja ketika bertanya tentang seks ke orang tua? Kunjungi situs DokterGenZ