BTS, Blackpink, Kpop, pemeran drama korea, menjadi deretan atas yang dikagumi remaja zaman now. Siapa yang tak kenal Jungkook, Jenny, sampai Lee Min Hoo. Jangankan remaja, kita pun mungkin juga salah satu pengagum berat mereka. Segala gerak gerik mereka, bisa menjadi jeritan remaja. Ya, Korea memang sedang menjadi hits. Sama seperti zaman dulu, kita mengagumi The King of Pop, Michael Jackson atau merdunya suara Whitney Houston dan Mariah Carey. Bisa jadi, kita juga salah satu penggemar berat Sheila On 7, Naif, atau sederet artis lainnya hingga rela berpanas-panasan antri menunggu konser mereka, atau “bela-belain” mengejar ke belakang panggung hanya untuk sekadar foto bersama. Yah, tak berbeda dengan remaja kita sekarang ini. Tak apa, sih jika remaja kita mengidolakan artis ternama, asalkan..

Masih dalam batas normal

Seperti apa batas normal? Layaknya kita menyukai sesuatu tanpa berlebihan. Remaja suka mendengarkan musik dari BTS, misalnya. Sebatas menyukai musik, dan menyukai performa mereka itu masih dalam tahapan normal. Datang ke konser mereka? Pun tak mengapa. Ketika kehadiran idola tak menganggu aktivitas sehari-hari atau malah justru memotivasi untuk melakukan hal positif, maka punya idola tak jadi masalah. 

Tahu batasan 

Saat remaja mulai stalking media sosial idola, lalu penasaran berlebih tentang kehidupan pribadi mereka, saatnya waspada. Apalagi jika remaja menghabiskan hampir seluruh waktu berkutat dengan update terbaru sang idola. Menurut survey yang dilakukan kumparan.com, 56 persen fans K-pop menghabiskan waktu satu hingga lima jam di media sosial untuk mencari tahu informasi tentang idola mereka. Bahkan sebanyak 28 persen fans menghabiskan 6 jam lebih di dunia maya untuk melihat aktivitas sang idola. Tak tanggung-tanggung, kebanyakan dari mereka memiliki akun media sosial lebih dari satu guna memantau gerak-gerik sang idola.

Wah, jika ini sudah terjadi, saatnya memberi batasan pada remaja sebelum menjadi semakin parah. Terapkan batas waktu penggunaan gadget dan arahkan untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat (yang tak berhubungan dengan sang idola, tentunya). 

Baca : Gadget untuk Remaja, Ada Aturannya 

Pahami bahwa mereka juga seperti kita

Ya, jelaskan pada remaja bahwa para artis idola itu juga sama seperti kita. Mereka melakukan keseharian seperti kita, dan memiliki hari buruk yang juga sama seperti kita. Mengerti hal ini membuat remaja terhindar dari menjadi netizen yang nyinyir terhadap apa yang idola mereka lakukan. Apalagi sampai rela menyakiti diri bahkan hingga bunuh diri demi mencari perhatian sang idola. Sungguh disayangkan jika sampai ini terjadi.

Kecanduan atau fanatisme terhadap idola punya kesamaan dengan kecanduan narkoba lho, hanya saja berbeda objek. Jika kita sudah sangat candu dengan idola, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan pikiran pun menjadi tak karuan maka hal ini sudah tidak rasional dan bisa dikatakan mengalami gangguan kejiwaan. Tentunya, kita tak ingin hal ini terjadi pada remaja kita. 

Jadi, komunikasikan dengan remaja bahwa punya idola boleh saja selama mereka hadir hanya untuk mewarnai hari bukan menguasai diri. Arahkan mereka untuk memiliki idola yang memberikan dampak positif dalam keseharian dan menunjang mereka untuk menjadi orang yang lebih baik. 

Bingung cara berkomunikasi dengan remaja? Unduh e-book gratis 1001 Cara Bicara Orangtua dengan Remaja di sini. Ada jurnalnya juga lho!