World Drugs Reports 2018 yang diterbitkan United Nations Office on Drugs and Crime menyebutkan sebanyak 275 juta penduduk di dunia pernah mengonsumsi narkoba, di antaranya adalah remaja. Sementara di Indonesia, BNN mengantongi angka penyalahgunaan narkoba tahun 2017 sebanyak 3.376.115 orang pada rentang usia 10-15 tahun. 

Tingginya angka penggunaan narkoba pada remaja dapat dikaitkan dengan karakteristik remaja yang gemar menantang bahaya, mencoba hal baru, mencari pengakuan, serta belum mampu berpikir secara jangka panjang. Banyak pengguna remaja yang awalnya tergoda untuk mencoba karena rasa penasaran, karena ajakan teman, atau karena ingin merasakan kesenangan sebagai pelarian dari masalah yang dihadapi. Sayangnya, mereka tidak menyadari risiko adiktif dari narkoba.

Tiga jenis narkoba, beda efeknya

Sebelum membahas efeknya, perlu diketahui perbedaan dari tiap jenis narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya lainnya):

1. Narkoba jenis stimulan menyebabkan tubuh terasa lebih segar, berenergi, tidak mudah mengantuk atau lelah. 

2. Narkoba jenis depresan akan menimbulkan efek tenang dan mengantuk

3. Narkoba, jenis halusinogen akan membuat efek halusinasi pada orang yang mengonsumsinya. 

Kecanduan hingga kerusakan otak

Narkoba mengandung zat kimia yang dapat berikatan dengan reseptor (penerima sinyal) yang ada di otak dan tubuh. Zat- zat kimia ini akan berikatan dengan neurotransmitter (pembawa sinyal) yang nantinya menimbulkan efek berbeda tergantung dengan jenis yang dikonsumsi. Mengonsumsi narkoba dengan terus menerus akan mengakibatkan efek toleransi pada tubuh seseorang. Maksudnya, seseorang yang mengalami kecanduan terhadap narkoba akan menginginkan zat dalam jumlah yang lebih besar. Bila jumlah narkoba tidak terpenuhi akan menimbulkan efek yang membuat tubuh sang pengguna menjadi tidak nyaman sehingga menginginkan jumlah yang lebih besar lagi. 

Selain mengakibatkan efek candu, narkoba juga dapat merusak sistem yang ada di neurotransmitter sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi kognitif (alam pikiran), afektif (alam perasaan, mood, dan emosi), dan aspek sosial. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani hidup dan mengambil keputusan yang benar. 

Mengonsumsi narkoba secara berulang juga dapat memicu perubahan sel saraf di dalam otak yang kemudian mengganggu komunikasi sel saraf. Khusus narkoba yang berjenis ekstasi dapat mengakibatkan dehidrasi.

Lebih jauh lagi, penyalahgunaan narkoba juga dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental.  Orang-orang yang menyalahgunakan narkoba dan zat adiktif sejenis sangat mungkin untuk mengalami depresi, gangguan jiwa berat, hingga tendensi untuk bunuh diri, dan kecenderungan melakukan tindak kekerasan, kejahatan, maupun pengerusakan. 

Mengingat adanya semua dampat buruk tersebut, sebisa mungkin hindarkan Ananda dari risiko berkenalan dengan narkoba dan beri informasi yang lengkap mengenai dampak buruk narkoba baginya.

 



Tanya Skata