Siapapun yang memiliki anak remaja pasti tahu betapa susahnya memahami mereka. Wajar saja, remaja mengalami proses perubahan dimana perilaku dan pola pikir yang awalnya kekanakan menjadi lebih dewasa. Perilaku adalah semua aktivitas remaja baik yang dapat maupun tidak dapat diamati, sementara pola pikir adalah cara menilai dan memberikan kesimpulan terhadap sesuatu berdasarkan sudut pandang tertentu. Anak-anak berpikir secara konkrit, remaja berpikir lebih abstrak, dan orang dewasa berpikir lebih filosofis, berpikir jauh ke depan, serta dapat melihat dari berbagai sudut pandang. Perilaku dan pola pikir inilah yang akan membentuk karakter seorang remaja.

Perilaku dan pola pikir anak mendadak berubah saat remaja akibat faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah lingkungan, pergaulan, serta role model sementara faktor internal terkait dengan perkembangan otak dan hormon. Seringkali masyarakat menyalahkan faktor hormonal sebagai penyebab perubahan perilaku dan pola pikir remaja. Banyak orang tua yang belum memahami bahwa perubahan perilaku dan pola pikir remaja sebenarnya disebabkan oleh perkembangan otaknya. 

Otak manusia senantiasa berkembang untuk beradaptasi. Saat remaja, bagian otak yang berfungsi dalam pengambilan keputusan belum berkembang sempurna. Bagian tersebut adalah lobus frontal (pre frontal cortex) yang terletak tepat di belakang dahi. Selain berfungsi dalam pengambilan keputusan, lobus frontal juga mengatur perencanaan, spontanitas, konsekuensi, pemecahan masalah, empati, serta perilaku sosial dan seksual. Karena otak berkembang dari belakang ke depan, maka lobus frontal menjadi bagian otak yang terakhir berkembang sempurna, yaitu ketika seseorang berusia 25 tahun. Padahal, usia dewasa menurut undang-undang maupun yang berlaku umum dalam masyarakat adalah usia 18 tahun.  

Perkembangan lobus frontal pada remaja ternyata kalah cepat dengan sistem limbik, yaitu bagian otak yang mengatur emosi, motivasi, dan perilaku. Jika diibaratkan sebagai manusia, sistem limbik memiliki karakter emosional dan berani mengambil risiko. Sementara, lobus frontal ibarat orang yang tenang, logis, fokus. Itulah mengapa remaja cenderung impulsif, tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatannya, dan suka hal menantang.  

Satu lagi, otak remaja memiliki bagian bernama striatum yang mengatur tentang penghargaan (reward system). Dibandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa, striatum pada otak remaja merespon penghargaan lebih cepat dan lebih akurat. Misalnya, saat remaja menerima uang, striatumnya menunjukkan aktivitas tinggi. Pada percobaan yang dilakukan oleh Professor Adrianna Galvan dari University of California, striatum remaja ternyata membuat mereka lebih berani mengambil risiko dibandingkan orang dewasa. Selain itu, remaja memiliki tingkat kegembiraan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, meskipun mereka menerima uang dengan jumlah yang sama. 

Striatum tidak hanya merespon penghargaan berupa uang, namun juga makanan, pujian, dan respon positif dari lingkungan sekitar. Sayangnya, remaja dengan striatum yang kuat memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku berisiko dan menikmatinya. 

Lantas, bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi perilaku dan pola pikir remaja mengingat hal tersebut tidak dapat diubah hingga otak mereka berkembang sempurna?

Prof.Adriana Galvan menyarankan orang tua untuk mendorong anak mengambil risiko dalam hal yang “aman”, misal tampil di panggung pentas seni sekolah, mengikuti lomba di bidang yang ia minati, atau mengajak anak olahraga yang memacu adrenalin seperti wall climbing dan flying fox. Dengan demikian, Anda tidak perlu melarang remaja, namun mengalihkan kebutuhannya akan tantangan ke hal yang positif. 

 

 

 



Tanya Skata