“Cepet, Lei mumpung satpamnya nggak lihat!” 

Dengan jantung berdegup kencang, ditambah keringat dingin, Leia buru-buru mengambil dua buah lipstick di counter makeup. Dengan cepat ia masukkan ke dalam tasnya lalu berjalan pelan mengikuti Lani, sang teman yang sedari tadi menunggu sambil memberi instruksi. 

“Kok kamu tega, sih nyuruh aku mencuri?” ujarnya pada Lani. 

“Tenang aja, semua juga pernah kaya gitu kok. Lagian kamu juga mau kan aku suruh?” balasnya sambil menyeringai.

Sungguh, Leia bukan seorang pencuri.  Kalau bukan karena tekanan yang ia dapatkan, Leia tak mungkin senekat itu. Apa daya, ia mendapat peer pressure. Begitu istilahnya. 

Saat anak kecil, mungkin kita bisa dengan mudah memilihkan teman untuk mereka. Namun, ketika beranjak dewasa, mereka yang memilih dengan siapa mereka berteman dan dengan lingkungan pertemanan seperti apa untuk menghabiskan waktu bersama. Teman – grup/peers – adalah sekelompok orang berusia sebaya yang memiliki pengalaman dan kesukaan yang sama. Mereka saling mempengaruhi dalam pilihan maupun perbuatan, kebanyakan dalam ranah yang positif. Alamiah adanya kalau seseorang lebih mendengarkan dan belajar dari orang lain yang sebaya dengannya. Begitu juga dengan anak. 

Ketika anak sudah mulai mandiri, kelompok pertemanan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Bahkan, anak akan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama mereka ketimbang dengan orang tua atau keluarganya. Apalagi untuk anak yang tinggal jauh dari orangtua (berbeda kota misalnya), kelompok pertemanan pun terasa seperti keluarga, bukan sekedar kelompok bermain. Karena pengaruh yang besar itu, anak jadi terkadang ingin bersikap dan berperilaku sama seperti teman yang ia sukai. 

Sayangnya, pengaruh tersebut tidak selalu baik. Terkadang, anak terjebak dalam satu kelompok yang justru membawa mereka ke arah yang negatif. Seperti pada kasus Leia di atas. Leia hanyalah anak SMA yang baru menjalani usia remaja menuju dewasa. Ia bertemu dengan Lani, remaja gaul dan cukup populer di sekolahnya. Memiliki kegemaran yang sama, akhirnya membuat Leia senang bergaul dengan Lani, walaupun Lani memiliki sifat yang kurang baik. ‘Kadung nyambung’, menjadi alasan Leia untuk tetap berada di pertemanan itu walaupun ada tekanan yang harus Leia hadapi. “Masa gitu aja ga berani, sih?”, “Semua orang juga kaya gitu, kok!”, “Yah, seteguk dua teguk kan ga bikin mabuk,” adalah beberapa kalimat yang kerap Leia dengar saat bersama Lani dan kelompoknya. Inilah peer pressure, membuat kita merasa harus melakukan suatu hal, padahal kita tahu itu bertentangan dengan hati nurani. Ketika ini terjadi, bantu anak untuk:

Dengarkan isi hatinya. Jika ia merasa tak nyaman, walaupun teman-temannya bersikap sebaliknya, berarti ada yang salah dengan situasinya. Coba dengarkan isi hati dan jadi diri sendiri.

Selalu berencana. Pikirkan dan latih cara menolak, jika diajak melakukan sesuatu yang berbahaya. Datang ke pesta yang ada suguhan alkohol, misalnya. Bersikap bijak untuk menolak dari jauh hari. 

Belajar bilang tidak. Teman yang baik akan mengingatkan kita jika kita berbuat hal buruk. Jika tekanan berbuat buruk justru datang dari teman dekat, ajarkan anak untuk bisa berkata tidak secara sopan namun percaya diri. 

Cari bantuan. Jika tekanan terlalu berat dan ia tak bisa mengatasinya, jangan ragu untuk mencari bantuan orang tua. 

Agar anak bisa membangun pertemanan yang lebih sehat, ajak ia membaca artikel ini.

 

 

 

 



Tanya Skata