IUD atau Intrauterine Device (dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim / AKDR), merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi jangka panjang yang cukup populer belakangan ini. IUD sendiri mempunyai dua jenis cara kerja yaitu hormonal (IUD Levonorgestrel) dan non-hormonal (IUD dengan lilitan tembaga). Kedua jenis IUD mempunyai angka keberhasilan yang tinggi, dimana pada tahun pertama penggunaan hanya 6 dari 1000 perempuan yang menggunakan IUD non-hormonal dan 2 dari 1000 perempuan yang menggunakan IUD hormonal mengalami kehamilan. Efektivitas masing-masing jenis IUD juga tetap mempunyai angka keberhasilan yang tinggi yaitu 20 dari 1000 perempuan dengan IUD non-hormonal akan hamil dalam kurun waktu 10 tahun penggunaan dan 5-8 dari 1000 perempuan dengan IUD hormonal akan hamil dalam kurun waktu 5 tahun penggunaan. Namun demikian, apabila dilihat, kedua jenis IUD tersebut tidak dapat memberikan angka keberhasilan 100%. Mengapa demikian? Apa hal yang menyebabkannya? Kita simak penjelasan singkat berikut!

Penyebab Tetap Terjadi Kehamilan Pasca Pemasangan IUD

Kemungkinan terjadinya kehamilan setelah pemasangan IUD memang sangat kecil namun bukanlah suatu hal yang mustahil. Beberapa mekanisme yang mungkin dapat menjelaskan fenomena tersebut, antara lain:

1. Pada beberapa kelompok perempuan (sekitar 2 - 10%), IUD dapat terlepas dari posisi yang seharusnya, baik secara parsial maupun seluruhnya. Beberapa perempuan bahkan tidak dapat menyadari ketika IUD miliknya terlepas. 

2. Pada beberapa kasus, kehamilan dapat terjadi akibat IUD yang dipasang belum bekerja. Terutama kasus seperti ini biasa terjadi pada penggunaan IUD hormonal yang membutuhkan 5-7 hari untuk bekerja dengan maksimal. Apabila selama periode waktu tersebut terjadi pembuahan sel telur oleh sel sperma, maka kehamilan akan terjadi. 

3. Kemungkinan ketiga adalah terjadinya kegagalan IUD dalam bekerja, terutama terjadi akibat habisnya masa kerja efektif IUD yang disarankan. IUD dengan lilitan tembaga direkomendasikan dapat bekerja maksimal hingga 10 tahun sejak pemasangan pertama. Sedangkan IUD hormonal biasanya berkisar antara 5-7 tahun.  

Gejala Kehamilan Pasca Pemasangan IUD

Apabila kehamilan terjadi, perempuan akan merasakan beberapa gejala tipikal dari kehamilan pada umumnya. Beberapa diantaranya adalah :

1. Melewati siklus menstruasi

2. Mual, dengan kemungkinan muntah

3. Payudara yang membesar dan terasa nyeri

4. Mudah lelah

5. Kram derajat sedang

6. Timbul bercak darah minimal

Namun, perlu diingat beberapa gejala diatas dapat menyerupai gejala-gejala yang ditimbulkan sebagai efek samping dari pemasangan IUD itu sendiri. 

Apa yang harus dilakukan?

Apabila muncul gejala-gejala yang menandakan kehamilan terjadi, beberapa langkah berikut dapat dilakukan :

1. Lakukan pemeriksaan kehamilan mandiri dirumah dengan menggunakan test-pack. Apabila hasilnya positif, segera konsultasi dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan untuk dilakukan pemeriksaan lanjut dan diberikan saran untuk tindakan selanjutnya. 

2. Apabila menemukan gejala seperti nyeri panggul kanan atau kiri yang mendadak hebat, dapat segera mengunjungi departemen kegawatdaruratan, karena bisa saja gejala tersebut menunjukan adanya kehamilan ektopik.

3. Penanganan utama dari tenaga medis bisa berupa penentuan kehamilan dengan menggunakan bantuan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dari USG dapat ditentukan lokasi kehamilan, apakah di dalam rahim atau di luar rahim (ektopik). 

4. Kemudian dengan juga menggunakan USG, kita bisa menentukan lokasi benang IUD yang disisakan ketika pemasangan. Dengan menarik benang tersebut, IUD dapat terlepas dari rahim dan dikeluarkan.

5. Apabila ada indikasi pengobatan lainnya seperti misalnya kehamilan ektopik, maka dilakukan terapi sesuai dengan indikasi. 

Bagaimana cara mencegah kehamilan pasca pemasangan IUD?

Berikut merupakan beberapa cara yang dapat Anda perhatikan agar dapat meminimalisir kejadian kehamilan pasca pemasangan IUD :

1. Tentukan pemilihan jenis IUD yang sesuai dengan kebutuhan Anda

2. Pastikan jenis IUD dan masa kerja efektifnya sebelum dilakukan pemasangan

3. Untuk penggunaan IUD hormonal, berikan jeda waktu sekitar 1 minggu untuk IUD dapat mulai bekerja maksimal. Selama periode jendela tersebut, gunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual

4. Segera laporkan kepada dokter atau tenaga medis yang kompeten apabila ditemukan IUD yang terlepas. Selain itu jangan ragu untuk melakukan konsultasi segera apabila anda merasakan gejala-gejala efek samping pemasangan IUD yang berlebihan.

IUD memang merupakan pilihan alat kontrasepsi yang patut dipertimbangkan, tapi perlu diingat tidak ada alat kontrasepsi yang efektif 100%. Apabila anda ingin melakukan pemasangan IUD, konsultasikan kepada dokter atau tenaga medis yang kompeten dalam hal tersebut.  

 



Tanya Skata