Dalam masyarakat kita, alat kontrasepsi selalu dianggap sebagai tanggung jawab wanita. Padahal, keterlibatan pria juga penting dalam perencanaan keluarga. Tahukah anda bahwa ternyata gagasan mengenai program KB pada pria sudah ada sejak tahun 1999? Namun, hingga saat ini partisipasi pria masih sangat sedikit. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, persentase penggunaan kontrasepsi pada pria hanya sebesar 1,3 % sedangkan pada wanita sebesar 98,7%. Selain itu, keikutsertaan laki-laki dalam program KB hanya sebesar 4,4 %. Cukup sedikit bukan? Diharapkan, dengan semakin jelas dan gencarnya informasi kontrasepsi bagi pria, akan terjadi peningkatan kesadaran serta partisipasi pria. Mari kita simak pembahasan singkat tentang jenis-jenis kontrasepsi pada pria berikut ini.

A. Kontrasepsi Modern

Kondom

Kondom merupakan kontrasepsi barrier atau penghalang, yang mencegah pertemuan sel sperma dengan sel telur.  Kontrasepsi jenis ini dapat diperoleh dengan mudah dengan harga terjangkau. Meskipun efektivitas kondom dalam mencegah kehamilan mencapai 85 persen, diperlukan penentuan ukuran yang pas serta cara pemakaian & pelepasan yang benar.  Kelebihan dari alat ini yaitu dapat membantu penurunan resiko penularan penyakit seks menular. Resiko kehamilan masih dapat terjadi sekitar 15%, yang berarti 15 dari 100 orang wanita yang pasangannya menggunakan kondom berisiko untuk hamil.

Vasektomi

Juga dapat disebut sebagai steril pada pria, merupakan kontrasepsi operatif permanen, dimana dilakukan pembedahan untuk memotong dan mengikat kedua ujung saluran yang berfungsi sebagai penyalur sperma dari buah zakar. Dengan demikian, sperma tidak akan bisa bercampur lagi dengan air mani. Pada metode ini, hubungan seks tetap dapat dilakukan karena tidak berhubungan dengan impotensi atau gangguan ereksi. Metode ini sebaiknya disertai dengan perencanaan dan persetujuan kedua belah pihak dari pasangan karena sifatnya yang permanen, sehingga tidak memungkinkan untuk memiliki anak lagi. Komplikasi yang mungkin terjadi yaitu perdarahan, infeksi, dan rasa tidak nyaman. Selain itu, diperlukan pemakaian metode kontrasepsi lain selama tiga bulan, mengingat adanya kemungkinan kecil dari keberadaan sisa-sisa sperma. Resiko terjadinya kehamilan dari metode ini yaitu 0.15%, dimana diperkirakan adanya kemungkinan kehamilan kurang dari 1 orang dari 100 wanita.

B. Kontrasepsi Tradisional

Pantang Berkala

Metode ini dilakukan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada saat wanita sedang dalam masa subur, yaitu pada saat terjadinya ovulasi (periode sel telur yang siap dibuahi sperma). Agar metode ini berhasil, wanita perlu mengetahui masa ovulasinya terlebih dahulu. Resiko kehamilan masih dapat terjadi dengan kemungkinan sekitar 24%, atau sekitar lebih dari 24 orang dari 100 wanita akan mengalami kehamilan.

Kontrasepsi tradisional tidak membutuhkan biaya namun tingkat keberhasilannya lebih rendah dibandingkan kontrasepsi modern. Vasektomi memiliki tingkat kegagalan sangat rendah namun sifatnya permanen. Karena itu, pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan. Baik kontrasepsi modern atau tradisional, semua kembali ke kenyamanan Anda dan pasangan.

 

 



Tanya Skata