Dalam layanan kesehatan ramah remaja, mengobati penyakit bukanlah tujuan utamanya. Remaja, dengan berbagai perubahan fisik dan psikis yang mengiringi transisi mereka menuju dewasa, membutuhkan informasi yang akurat, tempat untuk bertanya, maupun sosok terpercaya untuk berkonsultasi masalah kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi dan seksual. Jika orang tua merasa masih ada yang mengganjal untuk menjelaskan sendiri topik tersebut pada anak, rekomendasikan anak untuk mengunjungi layanan kesehatan ramah remaja.

 

Baca: Layanan Kesehatan Ramah Remaja, Seperti Apa?

 

Berikut ini sejumlah layanan yang dapat diperoleh di klinik ramah remaja:

 

1. Pemeriksaan kesehatan reproduksi

Pemeriksaan ini merupakan layanan yang paling membedakan klinik ramah remaja dengan klinik umum. Di sini, remaja tidak hanya bisa bertanya tentang menstruasi, namun juga pertanyaan menyangkut masalah seks tanpa merasa kuatir akan dihakimi. Orang tua tidak perlu risau, tenaga kesehatan tentu saja tidak akan mengarahkan remaja untuk melakukan seks bebas. Namun, tenaga kesehatan juga harus mampu membuat remaja nyaman berkonsultasi dan jujur mengenai permasalahannya agar dapat menangani permasalahan kesehatan reproduksi remaja secara tuntas, serta mempromosikan gaya hidup yang minim risiko termasuk melakukan pencegahan kehamilan pada remaja.

 

Baca: Butuh Konsultasi Seputar Kesehatan Remaja? Ke Dokter Ramah Remaja Saja!

 

2. Pemeriksaan kesehatan umum

Di dalam pelayanan kesehatan umum, remaja tidak hanya dapat memeriksakan diri saat sakit, namun juga berkonsultasi masalah gizi, tumbuh kembang, serta pola makan.

 

3. Konseling 

Biasanya, hampir setiap klinik ramah remaja menyediakan layanan konseling mengingat remaja banyak yang sebetulnya tidak memiliki masalah kesehatan spesifik, namun lebih pada masalah psikologis. Hubungan dengan orang tua, masalah pergaulan, sekolah, pacar, termasuk masalah seperti konsumsi alkohol, narkoba, seksualitas, dan pubertas dapat membuat remaja semakin bingung jika tidak mengkonsultasikannya pada sosok yang tepat. Karenanya, konselor di klinik ramah remaja dilatih untuk paham dengan pilihan remaja dan tidak diskriminatif.

 

4. Tes infeksi menular seksual (IMS)

Jika hasil konsultasi pada tenaga kesehatan mengarah pada kemungkinan terkenanya infeksi menular seksual, maka remaja dapat sekaligus melakukan tes IMS di klinik ramah remaja tanpa harus takut diperlakukan berbeda oleh petugas kesehatan karena belum menikah. Bahkan, di beberapa puskesmas yang memiliki PKPR tersedia pintu khusus bagi remaja yang ingin berkonsultasi agar mereka tidak merasa malu.

 

Baca: Hati-hati, Remaja Laki-laki Pun Rentan Terkena IMS!

 

5. VCT (voluntary counselling and testing)

VCT adalah konseling dan tes HIV secara sukarela. VCT diawali dengan konseling, dimana tenaga kesehatan akan memberi informasi dasar tentang HIV/AIDS dan meminta pasien untuk bercerita dengan jujur mengenai kegiatannya yang dicurigai menjadi cara penularan HIV, seperti aktivitas seks, penggunaan narkoba suntik, transfusi darah, maupun tato. Setelah itu, barulah tes HIV dilakukan. Jika ternyata negatif, tenaga kesehatan tetap akan menekankan pentingnya mengurangi perilaku berisiko. Jika positif, konseling pasca tes dilakukan untuk memberi informasi pengobatan serta dukungan emosional.

 

6. Penyuluhan dan pelatihan konselor sebaya

Sebagian layanan kesehatan ramah remaja juga menggunakan sistem “jemput bola”, mengingat masih enggannya remaja untuk mengunjungi klinik. Penyuluhan ke sekolah-sekolah oleh tenaga kesehatan yang berusia muda menjadi salah satu aktivitas yang rutin dilakukan PKPR, termasuk juga merekrut remaja untuk menjadi konselor sebaya. Di klinik yang dimiliki oleh swasta atau LSM, konselor sebaya biasanya merupakan relawan remaja yang juga diberi pelatihan untuk dapat menjelaskan masalah kesehatan reproduksi kepada sesama remaja. Melalui berbagai event, diharapkan remaja semakin banyak tahu informasi terpercaya tentang pubertas, kesehatan reproduksi dan seksual, serta tidak ragu mengunjungi layanan kesehatan ramah remaja jika memiliki keluhan.

 

Selain layanan yang disebutkan di atas, PKPR juga melayani:

• Skrining status TT (Tetanus Toksoid) pada remaja

• Pencegahan dan penanggulangan NAPZA

• Deteksi dan penanganan kekerasan terhadap remaja

• Deteksi dan penanganan tuberkulosis dan kecacingan

 

Hadirnya layanan kesehatan ramah remaja ini tentunya tidak hanya memudahkan remaja dalam menjalani fase pubertas dengan baik, namun juga menjadi support system bagi orang tua dalam mendampingi dan membimbing remaja agar kelak menjadi manusia dewasa yang sehat jiwa dan raga.

 

Untuk mengetahui info lebih lanjut seputar layanan ramah remaja, orang tua dapat mengunjungi puskesmas terdekat atau mengunjungi situs klinik ramah remaja. Beberapa klinik memiliki hotline yang bisa dihubungi jika orang tua (atau ananda) masih ragu untuk berkonsultasi secara langsung.

 

 

 



Tanya Skata