Tidak ada orang tua yang menginginkan putra putrinya terkena infeksi menular seksual (IMS). Sayangnya, angka penularan infeksi menular seksual pada remaja cukup tinggi. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2017 menunjukkan bahwa separuh penderita baru IMS adalah remaja berusia 15-24 tahun. Bahkan, 1 dari 4 remaja perempuan yang aktif secara seksual menderita IMS. Dibandingkan dengan usia dewasa, remaja memiliki risiko lebih tinggi terkena IMS karena faktor biologis, perilaku, dan budaya. Hal ini didukung oleh minimnya layanan kesehatan yang ramah remaja. Akibatnya, remaja merasa malu untuk periksa ke dokter, apalagi memberi tahu orang tua.

Remaja laki-laki lebih rentan terkena IMS mengingat dorongan seks yang mereka miliki lebih tinggi daripada remaja perempuan, dengan faktor pendorong lain seperti akses terhadap media dan pengaruh teman sebaya. Karenanya, orang tua perlu menjelaskan tentang infeksi menular seksual pada anak laki-laki bersamaan dengan informasi tentang pubertas agar mereka mengerti bahwa penyakit-penyakit tersebut memiliki dampak jangka panjang, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Berikut ini adalah beberapa jenis IMS yang umum diderita oleh remaja laki-laki:

1. Sifilis. Sifilis menular dalam beberapa tahap. Yang paling ringan adalah sifilis primer dengan gejala luka pada penis, mulut, dan dubur, namun tanpa rasa sakit. Jika tidak segera diobati, sifilis dapat berkembang hingga menyebabkan kerusakan organ tubuh lain seperti otak dan jantung. 

2. Gonorea. Penyakit ini disebut juga kencing nanah. Gejalanya adalah munculnya cairan kental/nanah dari penis, rasa panas saat berkemih, dan sering buang air kecil. 

3. Klamidia. Klamidia umumnya tidak menimbulkan gejala, namun setelah 1-3 minggu pasca terinfeksi dapat keluar nanah dari penis, bengkak pada buah zakar, luka di penis yang disertai rasa gatal dan terbakar. Penyakit ini dapat pula menginfeksi dubur, tenggorokan dan mata. 

4. Herpes genitalis. Gejala dari herpes genitalis adalah munculnya bintil-bintil kecil berisi cairan yang menggerombol di sekitar penis dan menimbulkan rasa nyeri. Meskipun dapat disembuhkan, herpes dapat kembali lagi kala ketahanan tubuh seseorang sedang lemah.

5. Trikomoniasis. Mirip dengan klamidia, penyakit ini tidak langsung menunjukkan gejala. Setelah 5-28 hari, gejala muncul dalam bentuk keluarnya cairan putih, sakit dan bengkak di ujung penis, nyeri saat buang air kecil dan ejakulasi.

Antibiotik merupakan terapi efektif untuk menyembuhkan penyakit seksual yang disebabkan oleh bakteri dan parasit termasuk gonore, sifilis, klamidia, dan trikomoniasis. Kemudian, obat antivirus dapat mengurangi resiko terjadinya infeksi berulang semacam herpes apabila diminum secara rutin. Yang perlu diingat, pengobatan infeksi menular seksual tidak dapat dilakukan pada satu orang saja, namun juga pasangan seksualnya. 

Selain melakukan pengobatan pada remaja laki-laki yang menderita infeksi menular seksual, pencegahan juga penting dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah abstinensia atau puasa seks. Pada beberapa kondisi, khususnya untuk remaja laki-laki, abstinensia merupakan cara paling efektif untuk mencegah infeksi menular seksual. Cara lain seperti menggunakan kondom ketika berhungan seks tidak seratus persen menghindari penyakit menular seksual, selain itu pada beberapa kasus dapat menimbulkan reaksi alergi. Terlebih lagi, budaya kita yang tidak mendukung seks bebas, sangat menganjurkan metode abstinensia. Selain itu, apabila telah mendapatkan pengobatan tetapi kerap mengulangi seks beresiko, maka sangat mungkin akan terinfeksi kembali dengan penyakit menular seksual dan memperluas penyebarannya. 

 



Tanya Skata