Ingatkah Anda ketika kecil sempat ditanya oleh guru, mau jadi apa ketika dewasa? Dulu, ketika belum mengenal teknologi, pekerjaan seperti dokter, arsitek, polisi, menempati posisi teratas cita-cita. Sekarang, profesi tersebut masih tetap diminati banyak orang, namun jangan kaget jika anak menjawab cita-citanya adalah beauty vlogger, bekerja di Google, atau menjadi dancer kelas dunia. Dunia memang sudah berubah, namun kekuatan cita-cita mampu membuat siapapun bekerja keras mewujudkan mimpi, tidak terkecuali remaja.

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan keingintahuan, pemberontakan, dan menaklukkan tantangan. Jika remaja tidak mengetahui potensi dirinya, tidak mempunyai cita-cita, ia rentan melakukan hal-hal yang membahayakan diri dan masa depannya. Emosi yang labil dan keinginan untuk berpikiran mandiri membuat Anda sebagai orang tua kewalahan menyuruhnya "belajar agar pintar". Dulu mungkin kalimat seperti "belajar yang pinter ya, biar jadi dokter" cukup efektif, namun kini orang tua harus lebih kreatif untuk membimbing anak menemukan potensinya agar ia memiliki tujuan hidup. Tujuan hidup inilah yang dapat mengurangi kemungkinan remaja terlibat narkoba, seks bebas, atau tindakan lain yang menghambatnya meraih tujuan hidup tadi.

Maka dari itu, orang tua memiliki peran untuk membantu anak mengenali potensi dan menentukan tujuan hidupnya. Mengingat remaja memiliki ego tinggi dan tidak suka dengan perintah, gunakan beberapa cara menggali potensi anak berikut ini: 

Perhatikan apa yang ia senangi 

“Apa, sih minat kamu?” atau “apa tujuan hidup kamu?” bukan kalimat yang tepat untuk ditanyakan pada remaja. Ia belum punya cukup pengalaman untuk mengetahui apa passion-nya. Bertanya akan hal ini malah justru akan menambah bebannya. Baiknya, mulai perbincangan dengan mengapa ia menyukai apa yang ia lakukan, hobi misalnya. Jika Anda melihat ia suka bermain basket, tidak ada salahnya menawarkan anak untuk mengikuti ekstrakurikuler basket di sekolah  atau klub basket yang ada di kota tempat tinggal Anda. Hal ini untuk menilai keseriusannya dalam melakukan hobinya, khususnya jika anak masih terlalu muda untuk menentukan apakah minat tersebut hanya untuk have fun atau bisa ditekuni dengan serius.

Ajak anak mencoba berbagai macam hal

Tidak semua anak mudah menemukan hal yang ia sukai. Ada yang sifatnya pembosan, bersemangat di awal lalu kemudian berganti minat. Sebaliknya, ada anak yang kegiatannya (bagi Anda) monoton sementara Anda tahu ia memiliki banyak kemampuan yang bisa dieksplor. Jika ini yang terjadi, kenalkan anak ke hal lain agar wawasannya terbuka. Ajak ia mengikuti beragam kegiatan, indoor dan outdoor, fisik dan artistik, spiritual dan komersial, apapun itu selama ia tidak merasa terpaksa. Anda dan pasangan pun sebaiknya mendampinginya jika memungkinkan, atau mencari event dan kursus yang sesuai. Siapa tahu, tak kenal maka tak sayang. Inilah mengapa saat Anda SD ingin menjadi guru, lalu saat SMP berubah cita-cita menjadi fashion designer, lalu kuliah mengambil jurusan komunikasi hingga sekarang berkerja di agensi periklanan. Semua bisa berubah, bukan? Yang penting adalah mencoba terlebih dahulu. 

Bicarakan target 

Ketika anak terlihat sudah konsisten dengan bidang yang ia sukai, sedikit pertanyaan menyelidik bisa mengulik sejauh apa potensi mereka bisa ditekuni. Berikut contoh pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada anak:

"Kamu suka sekali bermain game, apa sih yang kamu suka dari main game? Menurut kamu, mungkin nggak sih bermain game bisa dijadikan pekerjaan suatu hari nanti?" 

"Kamu kan dari SMP ikut OSIS, mau nggak sih membuat perubahan yang lebih besar untuk orang banyak? Menurut kamu, gimana caranya ?" 

Pertanyaan semacam ini bisa memancing pola pikir dan mengetahui apa karir yang kira-kira tepat untuknya. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun apa yang bisa ia lakukan untuk melakukan perbedaan di kehidupan sosial bisa menjadi life goals dan kemungkinan karir untuknya. Apabila anak terlihat sudah mampu merancang masa depannya, puji ia, beri semangat, dan bantu wujudkan mimpinya. Jika anak masih terlihat bingung, beri gambaran apa saja yang bisa ia lakukan untuk membuat hobinya menjadi profesi. 

Semua anak unik 

Pahami, bahwa masing-masing anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tiap mereka adalah unik. Dengarkan apa yang ia inginkan. Mungkin bagi Anda bermain game menjadi sesuatu yang tak berguna untuk anak di kemudian hari. Padahal, menjadi gamers atau pembuat game bisa menjadi karir yang menjanjikan, lho. Selama minat dan potensinya merupakan hal positif dan mampu menjauhkannya dari kenakalan remaja, dukung ia. Tidak lupa, jadilah orang tua yang selalu update dengan dunia remaja agar Anda dapat membantunya dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Ingin anak kenali potensinya? Ajak anak untuk mengisi kuis di DokterGenZ dengan mengunjungi tautan berikut ini.

 

Artikel ini adalah bagian dari hasil kerja sama SKATA untuk kampanye 1001 Cara Bicara dengan Magdalene, media feminis progresif yang menyajikan artikel dan esai untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, tanpa terkecuali isu-isu seputar kesehatan seksual dan reproduksi.



Tanya Skata