Salah satu perubahan anak setelah memasuki masa puber adalah mengenai penampilan. Kini, anak perempuan Anda mulai gemar membeli produk perawatan tubuh dan memakai makeup saat pergi bersama teman-temannya. Memilih pakaian pun mendadak menjadi hal yang menghabiskan waktu. Anda pun pernah mengalaminya sehingga menganggap hal tersebut adalah wajar. Bahkan, masalah penampilan dan segala seluk beluknya bisa menjadi hal yang mempererat hubungan antara ibu dan anak perempuan, lho!

Masalah kemudian timbul ketika ada perbedaan standar kepatutan dalam berpenampilan antara orangtua dan anak. Anak remaja mulai memilih penampilan yang menurut orangtua terlalu seksi, sementara mereka menganggap penampilan tersebut adalah wajar dalam pergaulan. Yang lebih membuat kuatir adalah ketika secara tidak sengaja Anda mendengar obrolan anak dengan sahabatnya betapa ia sangat senang karena dipuji “seksi” oleh teman laki-lakinya. Berbagai pikiran buruk mulai lalu lalang dalam pikiran Anda. Bagaimana cara bicara pada anak mengenai arti seksi tanpa harus membuat Anda terkesan kolot dan kaku?

Mulai dari sosok idola

Membuka pembicaraan mengenai arti kata seksi lebih mudah dilakukan ketika anak memiliki sosok idola yang mampu mencerminkan keseksian. Jika tidak, Anda bisa mengambil contoh public figure yang anak ketahui. Dalam situasi mengobrol santai, sambil menonton televisi misalnya, Anda bisa meminta pendapat anak tentang penampilan sosok tersebut.  Bercerita mengenai Britney Spears sebagai idola masa muda Anda dan artis K Pop yang mewakili generasi anak dapat membuat anak merasa memiliki pengalaman yang sama. Setelah anak mengungkapkan pendapatnya, Anda dapat menunjukkan sampai batas mana Anda mengidolakan sosok terkenal, dengan cara mengambil sisi positif orang tersebut dan tidak meniru hal yang tidak sesuai dengan value Anda. Di sinilah pentingnya memiliki value atau nilai-nilai keluarga sebagai panduan anak dalam menjalani masa remajanya. 

Daripada melarang keras anak berpakaian seksi, Anda bisa menunjukkan tren berbusana yang lebih sopan tapi tetap terlihat stylish dan tetap berbau Korea, misalnya. Begitu pula dengan makeup. Jika value keluarga Anda tidak melarang penggunaan makeup, lihat dan coba bersama tutorial makeup di YouTube untuk mencari gaya yang sesuai dengan usia anak serta acara yang akan didatangi. 

Seksi bagi laki-laki vs perempuan

Mungkin, Anda bisa bertanya terlebih dahulu gambaran sosok seksi itu seperti apa sebelum memulai penjelasan. Jika anak mendefinisikan kata seksi sebagai cantik, menarik, atau sesederhana pakaian terbuka, yang mungkin sama dengan definisi seksi saat Anda seusianya, Anda bisa mulai membuka pikirannya tentang perbedaan laki-laki dan perempuan terkait dengan pubertas. Ia mungkin sudah tahu bahwa laki-laki di kelasnya mulai sering berbicara tentang wanita seksi, guyonan berbau seks, dan kata-kata jorok. Jelaskan bahwa hal tersebut adalah wajar karena pengaruh hormon yang mempengaruhi pubertas. Bagi laki-laki, seksi berarti berhubungan dengan daya tarik seksual, yang mungkin akan membuatnya berpikir tentang aktivitas seksual. Jelaskan pada anak bahwa laki-laki memang secara naluriah demikian, bukan masalah bandel atau tidak. Jika perlu, ajak suami untuk berbicara empat mata dengan putri Anda agar mampu memahami kata seksi dari sudut pandang pria.

Jaga diri dengan tidak tampil seksi

Dengan perbedaan pola pikir laki-laki dan perempuan, pahamkan pada anak tentang pentingnya menjaga diri. Jika anak tetap ingin berpenampilan seksi, tanyakan tujuan ia melakukannya. Apakah agar merasa percaya diri, karena tuntutan pertemanan, ingin menarik perhatian lawan jenis? Bisa jadi Anda tidak akan mendapatkan jawabannya secara langsung. Namun, katakan pada anak bahwa Anda dan suami tidak dapat selalu menjaganya, maka ia harus mampu menjaga dirinya. Salah satu caranya adalah dengan berpenampilan sopan. Pakaian yang patut dan wajar akan menjaga dirinya dari perilaku tidak menghargai dari lawan jenis.

Seksi tidak menentukan nilai diri

Tanyakan pada anak, bagaimana caranya memilih teman? Apakah karena penampilan atau karena karakternya? Jika yang terakhir adalah jawabannya, Anda bisa menjelaskan bahwa masalah fisik tidaklah menentukan nilai seseorang. Kecantikan bisa memudar, namun kecerdasan dan kebaikan hati bisa bertahan. Media telah membentuk konsep diri remaja (dan wanita) sesuai dengan kebutuhan industri kecantikan dan hiburan. Jika logika anak sudah bagus, tidak ada salahnya Anda diskusikan hal tersebut. Setidaknya, anak bisa terdorong untuk mencari kelebihan dirinya tanpa harus mengikuti pendapat umum bahwa menarik sama dengan cantik dan seksi.

 

 



Tanya Skata