Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak kanak dan dewasa. Pada masa remaja, berbagai perubahan pada tubuh manusia terjadi, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan lain yang juga sangat penting adalah perkembangan seksual pada remaja. Perkembangan seksual pada remaja dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Faktor biologis bersumber dari genetik dan hormon (Follicle Stimulating Hormone dan Luteinizing Hormone), yang keduanya menyebabkan munculnya tanda–tanda seks sekunder, misalnya pada pria tumbuh kumis dan janggut, rambut pada ketiak dan sekitar alat kelamin, nada suara menjadi lebih berat, munculnya jerawat, dan dada menjadi bidang. Sedangkan pada wanita, terjadi haid, tumbuh rambut pada ketiak dan sekitar alat kelamin, pinggul semakin lebar, dan payudara akan berkembang. Faktor psikologis merupakan faktor yang menentukan sikap seorang individu terhadap perubahan seksual ini. Terkadang, karakter introvert memiliki kesulitan dalam menanggapi perubahan ini. Faktor sosial atau lingkungan, seperti respon orang tua terhadap topik seksual, pola asuh di rumah, relasi dengan teman dan budaya, sangat mempengaruhi sikap seorang remaja terhadap perubahan seksual.

Akibat faktor biologis, psikologis, dan sosial tersebut, masa remaja adalah masa di mana pikiran dan persepsi seorang individu bersifat seksual karena masa ini merupakan waktu untuk mengerti lebih dalam mengenai seksualitas. Dorongan seksual pada remaja menyebabkan tingginya keingintahuan mengenai seks sehingga tidak jarang remaja terpapar dengan pornografi, masturbasi, ataupun seks bebas.

Perbincangan mengenai seks merupakan topik yang tidak asing dibicarakan di negara Amerika ataupun Eropa. Penyuluhan mengenai dorongan seksual dan seks yang aman merupakan topik wajib bagi remaja di negara–negara tersebut. Namun, hal ini belum menjadi prioritas di Indonesia. Dorongan seksual yang muncul pada diri remaja merupakan hal yang normal dan seharusnya terjadi, sehingga seks tidaklah seharusnya menjadi suatu topik yang tabu dan dihindari, terutama antara remaja dan orangtua.

Dorongan seksual pada remaja merupakan faktor utama terjadinya hubungan seks pada remaja sehingga pengetahuan mengenai seks yang aman sangatlah penting. Pemakaian kondom yang benar, skrining Infeksi Menular Seksual (IMS), dan komunikasi dengan pasangan merupakan beberapa cara untuk menjaga hubungan seks yang aman. Namun dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti didikan keluarga ataupun budaya di Indonesia, maka sebagian besar populasi mungkin akan lebih setuju untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah.

Abstinensia seksual adalah pilihan untuk tidak berhubungan seksual. Hal ini merupakan pilihan dari masing–masing individu dan individu tersebut harus paham mengenai pilihan ini. Penting untuk dipahami bahwa seks bukanlah suatu hal atau aktivitas yang jahat, namun pilihan untuk tidak berhubungan seksual untuk waktu yang ditentukan mungkin disebabkan oleh pilihan menurut agama dan keyakinan, dan ini adalah kebebasan setiap orang.

Saat seorang remaja merasakan dorongan seksual, maka hal – hal yang dapat dilakukan adalah mencari aktivitas sehat yang lain untuk mengeluarkan energi tersebut. Contoh aktivitas yang dapat dilakukan adalah berolahraga, misalnya berlari atau bermain bola, sebagian juga merasa lebih lega setelah mandi, baik dengan air hangat maupun dingin. Sebagian juga memilih untuk mengubah fokus mereka ke hobi lain, misalnya seni atau berkumpul bersama keluarga dan teman.

 

 

 



Konsultasi dengan dokter