Menyusui sangat disarankan untuk semua ibu karena dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi, maupun kedekatan psikologis bagi keduanya.  Sesuai standar emas makanan bayi yang ditetapkan WHO, menyusui secara eksklusif disarankan selama 6 bulan yang kemudian dilanjutkan hingga dua (2) tahun atau lebih. Di usia 6 bulan, bayi juga harus mendapatkan Makanan PendampingASI (MPASI) buatan rumah yang bergizi seimbang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa yang terjadi apabila selama periode menyusui ibu mengalami penyakit tertentu yang mengharuskannya berhenti menyusui? Kondisi apa saja yang membuat ibu harus berhenti menyusui, baik sementara atau menetap?

Sesuai panduan WHO mengenai alasan-alasan medis penggunaan produk pengganti ASI (2009), ada beberapa kondisi dimana ibu mesti berhenti menyusui, baik secara menetap atau permanen.

Hanya ada satu kondisi dimana ibu mesti berhenti menyusui secara menetap, yaitu ibu yang terinfeksi HIV APABILA asupan penggantinya yang memenuhi kriteria AFASS sudah tersedia (Acepptable, Feasible, Affordable, Sustainable, and Safe). WHO sendiri dalam pedomannya tetap menyarankan ibu dengan HIV positif yang rutin mengkonsumsi obat Anti Retroviral (ARV) untuk tetap menyusui eksklusif selama 6 bulan dan menyusui dapat dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih dengan pendampingan tenaga kesehatan yang memahami prinsip-prinsip pendampingan kepada ibu menyusui dengan HIV.  Menyusui dapat dihentikan apabila alternatif pengganti asupan bagi bayi yang memenuhi syarat AFASS sudah tersedia. Opsi untuk tetap dapat menyusui bagi ibu dengan HIV ini juga mesti disesuaikan dengan pedoman nasional yang diterapkan di negara masing-masing.

 

Ada beberapa kondisi dimana ibu mesti berhenti menyusui sementara, yaitu: 

1. Penyakit parah yang menghambat ibu untuk merawat bayinya, misalnya: sepsis

2. Herpes Simplex Virus Type 1 (HSV-1): kontak langsung antara bayi dengan lesi di payudara ibu mesti dihindari hingga lesi kering.

3. Ibu yang sedang menjalani pengobatan tertentu, antara lain:

- Obat psikoterapi, obat epilepsi, dan opioids dan kombinasinya yang dapat memunculkan efek kantuk dan depresi pernapasan. Ibu yang mengkonsumsi obat-obatan kategori ini mesti berhenti hingga mendapatkan alternatif pengobatan yang lebih aman.

- Radioactive Iodine-131: ibu dapat lanjut menyusui dua bulan setelah berhenti mendapatkan substansi ini.

- Penggunaan topical iodine atau iodophorus (e.g. povidone-iodine) dengan dosis signifikan, terutama yang diberikan pada luka terbuka atau membran mukosa, dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau kelainan elektrolit pada bayi.

4. Ibu yang menjalani sitotoksik kemoterapi. 

 

Selain itu ada beberapa kondisi medis dimana ibu tetap dapat menyusui dengan catatan atau ketentuan tambahan, antara lain:

1. Abses payudara: ibu dapat tetap menyusui dengan payudara yang sehat, sementara payudara yang sakit dapat kembali disusukan bila sudah menerima treatment.

2. Hepatitis B: ibu dengan Hepatitis B dapat tetap menyusui selama bayinya mendapatkan vaksin Hepatitis B dalam kurun waktu 48 jam sejak lahir.

3. Hepatitis C

4. Mastitis: jika menyusui langsung terasa sangat sakit, maka payudara dapat diperah.

5. TBC: ibu dengan TBC dapat tetap menyusui selama mendapatkan pengobatan TBC yang adekuat dan simultan sesuai protokol nasional penanganan TBC di negara itu

Ibu yang menggunakan substansi seperti alkohol, nikotin, ekstasi, amphetamine, kokain, cannabis, dan sebagainya harus didukung dan dibantu untuk berhenti menggunakan substansi-substansi tersebut. Apabila sang ibu tidak dapat berhenti menggunakan substansi di atas, maka ia harus mendapatkan saran personal dari tenaga kesehatan apakah dapat lanjut menyusui atau tidak. Bagi mereka yang menggunakan substansi ini untuk sementara, maka proses menyusui dapat dihentikan juga sementara. 

 

Referensi:

WHO (2009), Acceptable Medical Reasons  for Use of Breastmilk Substitute, bisa diunduh dari: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/69938/WHO_FCH_CAH_09.01_eng.pdf?ua=1

Peraturan Pemerintah No: 33/2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, Penjelasan Pasal 7, bisa diunduh dari: http://www.hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PP%20No.%2033%20ttg%20Pemberian%20ASI%20Eksklusif.pdf

WHO (last updated, 11 February 2019), Infant feeding for the prevention of mother-to-child transmission of HIV, bisa diunduh dari: https://www.who.int/elena/titles/hiv_infant_feeding/en/

 



Konsultasi dengan dokter