Segala hal berbau seks akan menjadi hal yang super menarik ketika anak memasuki masa puber, khususnya bagi anak laki-laki. Penelitian yang diadakan oleh US Department of Health and Human Services menunjukan usia pertama anak mengakses konten porno adalah 14 tahun pada laki-laki dan 15 tahun pada perempuan. Semakin mudahnya akses internet bagi anak turut mempermudah penyebaran konten pernografi. Seberapa pun kerasnya orangtua melarang anak dan membatasi akses internet, anak tetap memiliki kemungkinan untuk bertemu dengan konten porno baik secara sengaja maupun tidak. Karenanya, orangtua sebaiknya tidak menghindari pembicaraan tentang pornografi maupun sekedar melarang tanpa alasan yang jelas. 

Masalahnya, orangtua sering bingung harus mulai dari mana dan apa saja yang harus dijelaskan. Banyak kasus, orangtua baru panik setelah anak sudah ketahuan mengakses konten porno. Akhirnya, bukan penjelasan yang remaja dapat, melainkan interogasi dan hukuman. Remaja pun semakin lihai menyembunyikan aktivitas online mereka dan makin tidak nyaman berbagi masalah seks dengan orangtua. Kalau sudah begini, bahaya kan?

Baca: Anak Mengakses Konten Porno, Saya Harus Bagaimana?

Nah, sebagai antisipasi, orangtua perlu bicara tentang pornografi ke anak saat mereka mulai memasuki masa puber, dimana anak idealnya mendapatkan penjelasan tentang kesehatan reproduksi dan interaksi dengan lawan jenis. Orangtua dapat memanfaatkan isu terkini –jika ada- yang terkait dengan pornografi. Misal, ketika muncul pop up iklan dewasa di situs, hashtag instagram yang berbau seks, video dengan cuplikan gambar yang berbau dewasa, atau kasus video viral yang melibatkan tindakan pornoaksi. 

Diskusi dan tanya jawab mengenai hal ini bisa berlangsung tanpa henti atau malah tidak berkembang, tergantung cara orangtua membawakan dan persepsi anak terhadap orangtua. Terlepas dari itu, orangtua perlu menekankan tiga hal di bawah ini agar anak tidak salah memahami pornografi. 

Tidak sesuai dengan kenyataan

Hubungan seksual yang ditampilkan dalam pornografi tidak lah realistis karena tidak menggambarkan hubungan dengan lawan jenis yang sebenarnya.  Pada kenyataannya, hubungan antara pria dan wanita melibatkan perasaan, pikiran, dan emosi. Sementara itu, pornografi hanya menampilkan aspek seksualnya saja. Khususnya pada anak laki-laki, tekankan bahwa apa yang ditampilkan dalam pornografi bukanlah cara yang benar dalam memperlakukan wanita. Begitu juga dengan standar bentuk tubuh. Setiap orang memiliki bentuk tubuh yang berbeda-beda dan sebaiknya remaja tidak menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja.

Menyebabkan kecanduan

Orangtua perlu menjelaskan bahwa ketika remaja mengakses konten porno, otak melepaskan senyawa kimia yang menimbulkan rasa senang dan menimbulkan rasa ingin melihat lagi dan lagi. Akhirnya, remaja bisa kecanduan. JIka ini yang terjadi, bagian otak yang mengatur tentang pengambilan keputusan bisa rusak, remaja juga kelak lebih besar kemungkinannya untuk mengalami disfungsi seksual, serta mampu mengganggu produktivitas dan kehidupan sosial sebagai kompensasi waktu yang terambil untuk mengakses konten porno. 

Menimbulkan masalah dengan pasangan kelak

Remaja yang terbiasa dengan pornografi kelak memiliki masalah dalam berhubungan dengan lawan jenis. Standar ideal yang digunakan dalam menilai pasangan atau calon pasangan adalah sosok yang dilihatnya di dalam konten porno. Karena pornografi adalah fantasi, maka remaja akan selalu kecewa dengan pasangannya dan mungkin akan berakhir dengan tidak memiliki pasangan. 

Nah, jika remaja sudah cukup matang dan memiliki pandangan tentang masa depannya, orangtua bisa bertanya mengenai impian dan rencana jangka panjang yang ingin dicapainya. Kemudian, ajak ia membayangkan banyaknya masalah yang mungkin timbul jika anak terlalu sering mengakses situs porno, yang berakibat pada tidak tercapainya cita-citanya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah, gunakan cara berkomunikasi yang tidak menggurui ataupun menghakimi saat berbicara tentang pornografi. Bentuk larangan hanya akan menimbulkan rasa penasaran. Bahkan, jika orangtua sanggup, tunjukkan sikap memahami ketika anak mengaku telah mengakses pornografi. Kemudian, bukalah ruang diskusi untuk menyampaikan 3 hal di atas serta memberinya pilihan akan aktivitasnya yang terkait dengan pornografi. Apabila terdapat indikasi kecanduan pornografi pada anak, segera konsultasikan pada tenaga professional. Semakin dini penanganan dilakukan, semakin besar potensi remaja untuk sembuh.

Jika ingin mengetahui pengalaman remaja dengan pornografi, klik di sini

 

 

 



Tanya Skata