Kisah seorang Ibu, sebut saja Rima. Ia memiliki seorang anak perempuan berusia 16 tahun, Aisyah. Rima seorang ibu rumah tangga yang selalu update tentang urusan anaknya. Rasanya, tak pernah ada kejadian pada Aisyah yang tak ia ketahui. Suatu saat, Rima menemukan HP Aisyah tergeletak di atas meja saat sang anak berada di kamar mandi. Tak ada rasa penasaran awalnya sampai HP tersebut berbunyi dan caller ID bernama Schatz muncul di layar. Spontan, Rima mengangkat telepon tersebut dan menemukan bahwa yang menelpon Aisyah adalah seorang lelaki yang mengaku sebagai pacarnya. Kaget? Tentu saja. Aisyah adalah anak sopan yang bergaul dengan banyak teman, tapi Rima tak pernah tahu kalau anaknya menjalin hubungan dengan teman lelakinya. Apalagi, usia 16 tahun menurut Rima masih terbilang kecil. Dilema ini mungkin dirasakan juga pada Anda, orangtua yang memiliki anak remaja. 

Bagaimana Rima (dan Anda) harus bersikap? 

Komunikasi 

Kunci utama hubungan yang positif antar orangtua dan anak, adalah komunikasi. Bicarakan sejak dini dengan anak pro dan kontra berpacaran. Sejauh mana anak boleh berinteraksi dengan lawan jenis dan batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sepakati bersama dengan tetap menjunjung norma yang Anda anut. 

Dengarkan ia berbicara 

Dengarkan alasan mengapa ia memutuskan untuk berpacaran tanpa bicara dengan Anda. Jangan dulu menginterupsi saat ia menjelaskan, walaupun jika itu bertentangan dengan apa yang Anda sepakati. Setelah ia selesai bicara, barulah Anda memberikan masukan dan nasehat. Beri apresiasi saat anak sudah mau jujur dengan Anda, namun juga beri peringatan bahwa apa yang dilakukan tidak baik dan tidak seharusnya ia menyembunyikan hal ini dari Anda. 

Kontrol emosi

Ya, tentu mengetahui anak pacaran diam-diam bisa menjadi pemancing emosi. Tapi, kemarahan bukan solusi. Kemarahan hanya membuat anak menjadi takut, bungkam, dan semakin menyembunyikan hal tersebut dari Anda. Kontrol emosi dan bicarakan baik-baik.

Kenali sang “pacar”

Pasti ada alasan di balik anak menyembunyikan kekasihnya dari Anda. Alih-alih bersikap subjektif, ajak anak untuk mengenalkan pacarnya pada Anda. Beri pengertian bahwa Anda butuh mengenal sosoknya, untuk menjaga anak tetap positif dalam pacaran. Terpenting, beri penjelasan pada keduanya, dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika mereka tidak saling terbuka dengan orangtua. Dengan begitu, anak akan merasa aman untuk terbuka dengan Anda, begitupun dengan sang pacar. 

Untuk lebih mengetahui apa yang dipikirkan anak remaja Anda mengenai pacaran, baca di sini.

 

 



Tanya Skata